Selasa, 27 September 2022

Surplus Jagung, Siapkah Untuk Diekspor?

Surplus Jagung, Siapkah Untuk Diekspor?

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Produksi jagung Januari-November 2022 relatif aman. Kebutuhan jagung terbesar yakni untuk pakan ternak sejumlah 800 ribu ton per bulan. Sementara produksi Agustus-November pada tahun yang sama, rata-rata diatas 1 juta ton (KA 27%).

 

Hal itu disampaikan Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Moh. Ismail Wahab. “Kami pun menargetkan pada 2023 produksi jagung lebih baik lagi melalui melalui Survey Cadangan Jagung Nasional (SCJN), sehingga pemerintah bisa mengetahui stok jagung,” ujarnya saat mengikuti Forum Diskusi Publik Pusat Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) ke-76 pada (22/9).

 

Lebih lanjut, Ismail meminta kepada perusahaan jagung dan asosiasi industri pakan ternak untuk melaporkan berapa stok yang ada, agar dapat mengetahui rencana cadangan jagung pemerintah.

 

“Adapun data dari Badan Pangan Nasional kondisi jagung saat ini surplus. Jika ingin melakukan ekspor harus memperhatikan ketersediaan di dalam negeri sehingga tidak terjadi kekurangan di dalam negeri,” terangnya.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Syeilendra menyampaikan jika memang jagung surplus, pihaknya mendukung ekspor jagung. Dari sisi perdagangan dapat menambah devisa. Secara keseluruhan surplus, tetapi neraca bulanan selalu minus di kuartal pertama sampai kuartal terakhir seperti di tahun 2021.

 

“Saat ini perkembangan harga jagung dunia cenderung turun. Periode bulan Juli 2022 di angka 5.284 per kilogram. Biaya produksi jagung di angka berapa apakah masih bisa kompetitif jika kita ekspor,” katanya. 

 

Sedangkan kebutuhan peternak, melihat kasus 2021 ketika sangat kekurangan jagung. Kemudian peternak beraksi dan kemudian berikan subsidi harga jagung supaya tetap terjaga di tingkat peternak. Pada saat surplus menggunakan FIFO. Kalau stok ada, dan memang dikuasai tentu dapat menjaga stabilitas harga jagung. “Kami mendukung tetapi harus ditinjau lagi datanya,” imbuhnya.

 

Direktur Ketersediaan, Badan Pangan Nasional/NFA Budi Waryanto menambahkan jika dilihat produksi lazim akan tinggi di bulan Maret-April, dimana bulan Oktober masuk ke musim paceklik namun harganya tidak bergerak dimana biasanya terjadi kecukupan.

 

Namun yang terjadi kenaikan harga 2019-2021 dan saat ini 2022 sepanjang tahun terjadi kenaikan harga yang saat ini diduga karena input produksi seperti pupuk naik, perang Ukraina, juga dengan adanya kenaikan harga BBM. 

 

Pada Januari-Desember 2022 yang ditetapkan pada Januari 2022 pada tahun ini diperkirakan surplus jagung 2.8 juta ton untuk stok akhir Desember. Dilihat sampai September surplus 2,7 juta ton sehingga diperkirakan stok sebanyak 2,3 juta ton pada Oktober.

 

NFA mempunyai tupoksi stabilisasi pasokan dan harga. Kebutuhan perbulan lebih tinggi dari stok akhir biasanya harga akan naik. Sehingga jagung cukup aman karena stok akhir lebih tinggi sekitar 100% dari kebutuhan bulanan. 

 

Peluang Ekspor Jagung

Chief Sustainability Officer PT Seger Agro Nusantara, Widyantoko Sumarlin mengatakan, saat ini serapan dalam negeri mengalami titik jenuh yaitu gudang-gudang pabrik pakan sudah penuh atau terjadi penurunan kuantitas penjualan pakan jatuh drastis secara nasional. Atau tidak ada pembelian jagung dari pabrik-pabrik pakan.

 

Jika terjadi kecenderungan penurunan harga terus-menerus di sumber wilayah jagung yang berdampak buruk pada petani. Padahal di internasional sudah terbuka dan di mungkinkan di ekspor untuk dijual tanpa merugikan para pelaku yang lain. 

 

“Kami sebagai penghubung mata rantai produsen antara petani dengan pabrik pakan ternak. Karena itu, bargaining position sama hanya milik petani. Karena kami sebagai price taker. Karena itu, kami memperhatikan harga di petani karena berharap tidak terjadi pergerakan harga yang menyebabkan petani tidak ada minat untuk menanam jagung,” ujarnya. 

 

Penggiat jagung Dean Novel mengatakan, jika Indonesia menjadi pemain jagung di tingkat ASEAN ini harus diambil momentumnya. Isu hari ini harus ditarik ke yang lebih strategis dan berkelanjutan.

 

“Kalau kita ekspor jagung ke negara ASEAN, harus jadi bisnis jangka panjang dan bukan sementara (hit and run). Jadi betul-betul bikin kontraknya dan di deklarasi sehingga menjadi pemain jagung di kawasan. Karena kuota ekspor kebutuhan jagung di negara tetangga sangat besar seperti Malaysia butuh 2,5 juta ton, Filipina 3 juta ton, Brunei sekitar 1,5 juta ton dan timor leste sebesar 500 ribu ton. Dan ini harus ditangkap peluang besar bagi pemerintah Indonesia. 

 

“Kita manfaatkan momentum ini menjadi isu nasional. Misalnya ID FOOD dan Bulog bikin gudang di Malaysia. Sekalian saja kita jadi pemain, jangan malu-malu begini. Karena pasar ekspor ini merupakan strategi supply chain. Jadi isu ekspor ini dijadikan strategi kebijakan nasional. Langsung kita deklarasi saja, kita eksportir jagung untuk kawasan, kita siap kirim filipina bila perlu untung presiden filipina melakukan MoU dengan kita,” harapnya. 

 

Sementara itu, Asisten Ombudsman RI M. Ilham Setiawan Ilham Bahri mengatakan tatakelola pangan pemerintah persoalan selalu ada di data yakni produksi yang berbeda-beda. Seharus ada data acuan yang bisa di pakai bersama stakeholder untuk pengambil keputusan. Maka sebenarnya BPS sebagai wali data.

 

Kajian Ombudsman di isu pangan selalu yang menjadi masalah adalah data. Di jagung datanya juga tidak sinkron antar kementerian dan lembaga. Tidak ada data rujukan bagi pemangku kebijakan untuk merumuskan apa tindak lanjut pelayanan yang disampaikan ke publik. 

 

Misalnya, data surplus jagung berbeda-beda antar kementerian dan lembaga, itu akan mempengaruhi kebijakan. Kalau dasar data tidak bisa dijamin validitasnya pasti akan mempengaruhi kebijakan. Karena kebijakan sumbernya adalah data. Data tidak valid, pasti tindakan pelayanan ke publik akan bermasalah.

 

Isu terkait jagung, selama ini ini belum pernah ekspor terakhir di 2019 terkait importasi jagung. Karena itu, BPS perlu melakukan penghitungan angka produksi jagung.ed/zul

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain