Sabtu, 1 Oktober 2022

Titik Kritis Penanggulangan Nekrotik Enteritis

Titik Kritis Penanggulangan Nekrotik Enteritis

Foto: 


Meskipun tidak dikategorikan menular, namun penyakit yang diasosiasikan pada infeksi bakteri Clostridium perfringens ini seringkali menjadi sandungan yang tak terduga dengan munculnya kematian ayam mendadak
 
Clostridium perfringens merupakan bakteri normal yang secara alamiah ada di tanah dan lingkungan kandang. Bakteri ini menjadi patogen saat ada celah manajemen, pencemaran pada pakan, klimat, stres maupun faktor pemicu dari pakan, minum, dan infeksi imunosupresif seperti koksidiosis. Maka peternak perlu memahami dan mencermati titik kritis risiko munculnya nekrotik enteritis (NE) sehingga dapat segera melakukan pembenahan untuk pencegahan. 
 
Bayu Sulistya, Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom menyatakan, penyakit NE pada ayam disebabkan oleh bakteri Clostridium Perfringens tipe A dan C. Merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang, anaerob berkapsul, membentuk spora, dan habitat alaminya terdapat di usus bagian belakang (ilioseca) dari berbagai spesies unggas.
 
Faktor predisposisi yang telah diidentifikasi sebagai penunjang kasus NE adalah faktor pakan (kandungan serat kasar), tingginya protein pada pakan (seperti pemakaian tepung ikan yang tidak sesuai standar), kepadatan kandang, kondisi litter yang kotor dan lembap, status imunitas, stres, fisiopatologi intestinal, koksidiosis, dan cemaran mikotoksin jenis deoxynivalenol dan fumonisin B3.
 
Seakan menambahkan, Deny Agung Nugroho, Technical Coordinator PT Vaksindo Satwa Nusantara merinci, stres yang memicu kasus NE pada ayam diantaranya adalah perubahan pakan secara mendadak, suhu ekstrem, kelembaban tinggi, dan lain-lain. Stres itu dapat mengubah viskositas isi usus (digesta dan cairan usus) dan gerak peristaltik usus. 
 
Ismail Kurnia Rambe, Veterinary Service Coordinator Sumatera PT Ceva Animal Health Indonesia menyatakan C perfringens umum ditemukan di tanah, air, dan di dalam usus serta feses ayam sehat, jadi NE tidak dianggap sebagai penyakit menular. Adapun kasus NE terjadi karena toksin yang dihasilkan C perfringens. 
 
Mengenai toksin ini, Technical Education and Consultation Poultry Assistant Manager PT Medion Farma Jaya, Shervida Rismawati menguraikan C perfringens tipe A dan C dapat memproduksi toksin yang biasa disebut enterotoksin. C perfringens tipe A dan C menghasilkan enterotoksin alfa, sedangkan enterotoksin beta hanya dihasilkan C perfringens tipe C. Kedua toksin ini dapat menimbulkan kerusakan/nekrosa pada mukosa usus halus. Pada enterotoksemia akut dapat terjadi kematian yang tinggi dan mendadak.
 
Seakan melengkapi keterangan Ismail, Shervida mengungkapkan secara normal, di dalam usus ayam sehat terdapat bakteri C perfringens dalam jumlah yang aman (tidak menyebabkan terjadinya outbreak penyakit). Namun, saat kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman (tantangan agen penyakit banyak, red.) maka terjadi peningkatan populasi bakteri dan outbreak NE dapat terjadi. Pada ayam yang mati karena NE, jumlah C perfringens yang dapat diisolasi pada usus lebih dari 10⁷-10⁸ CFU per gram isi usus sedangkan jumlah bakteri C perfringens pada ayam pedaging yang sehat sekitar 10³ CFU/gram feses. 
 
Kisah Peternak
Kepala Produksi PT SIM Grup (Farm), Muhammad Ramdan menuturkan NE rata-rata menyerang broiler (ayam pedaging) di umur 2-4 pekan. Kasus NE terakhir terjadi, kematian mencapai 40 %.  Angka itu disumbang oleh culling pada pekan kedua karena kondisi ayam kecil dan lemah.  Sehingga kalaupun dipelihara lebih lanjut tidak akan dapat menghasilkan performa yang baik.  Jika sudah terkena NE seperti ini, ayam diobati dengan ampicillin atau amoxicillin. Ditambah dengan terapi suportif herbal seperti kunyit. 
 
“Sejak adanya larangan AGP (Antibiotic Growth Promoter) di 2018, maka kita sikapi dengan perbaikan di manajemen, salah satunya program biosekuriti yang ketat untuk mengembangkan sistem pertahanan di luar tubuh ayam. Ventilasi diperbaiki dan kepadatan kandang dikurangi, jangan terlalu padat. Sesuaikan dengan luas kandang dan jumlah peralatan pakan – minum. Selain itu, kita programkan dengan bahan-bahan herbal, probiotik, dan prebiotik,” urai dia.
 
Kepala Bagian Produksi Pusat PT Mustika Jaya Lestari (Farm), Satriyo Prayogo Wicaksono juga mengakui adanya peningkatan drastis kasus NE sejak Mei 2018 ke bulan-bulan selanjutnya. Selama 2021 – 2022 tren kasus tinggi, sepanjang Januari sampai Maret dan juga pada Juli. 
NE sering dianggap penyakit biasa namun berdampak besar hingga mempengaruhi pendapatan peternak. 
 
Enteritis terjadi pada sebagian atau bahkan seluruh usus. Ditandai dengan ditemukannya jaringan nekrotik dari usus sehingga mengeluarkan material “seperti pepaya busuk” berwarna kecoklatan. Selain itu, terjadi peningkatan konsumsi air minum sehingga litter sering basah karena diare. 
 
“Di farm kami, sepanjang 2018 – 2022 persentase penyakit bakterial tertinggi adalah kolibasilosis, CRD dan NE. NE cenderung selalu masuk pada posisi 3 besar setiap tahun,” dia mengungkapkan.
 
Menurut Satriyo terjadi perubahan karakteristik serangan NE saat ini, diantaranya penyebarannya lebih cepat. Tingkat deplesi harian meningkat, per hari antara 0,15 – 0,5 % setara dengan 2 – 5 ekor dari 1.000 ekor populasi. Kematian total bisa mencapai 10 % setara dengan 100 ekor per 1.000 ekor populasi. Kemudian, parahnya, hampir selalu disertai penyakit lain seperti kolibasilosis hingga gumboro (IBD, infectious bursal disease).
 
Dia menengarai, NE lebih mudah muncul pada ayam yang mengalami kegagalan manajemen pada masa brooding. Atau salah dalam memutuskan lepas pemanas, padahal secara faktual kondisi ayam masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan. 
 
Satriyo menyatakan petugas lapangan atau timnya di farm juga telah menyusun program preventif, dengan medikasi menggunakan amoxicillin di minggu awal untuk cleaning, nekropsi rutin, dan seleksi ayam tidak potensial. Selain itu, memastikan kedisiplinan sanitasi semasa persiapan kandang, selalu melakukan pengontrolan terhadap biosekuriti dan manajemen di kandang.
 
Rekaman Kasus
Shervida memaparkan, perkembangan penyakit NE di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan data tim Technical Education and Consultation (TEC) Medion (2022) yang dapat dilihat pada Grafik 1-3, kasus NE pada ayam pedaging dan petelur di 2021 terhitung paling tinggi. Kasus NE di 2021 pada ayam pedaging maupun petelur meningkat bila dibandingkan dua tahun sebelumnya (2019 dan 2020). Dalam kurun waktu 1 semester 2022, jumlah kasus NE hampir setengah kali jumlah data di 2021. Dimungkinkan hingga akhir 2022, kasus NE masih akan terus bertambah. Kondisi cuaca mempengaruhi pola kasus NE, cuaca basah dan hujan bisa mendongkrak populasi C perfringens sehingga menjadi patogen.
 
Mengutip data Technical Education and Consultation (TEC) Medion, dia mengatakan kejadian NE di ayam pedaging dan petelur terjadi sepanjang tahun. Berdasarkan data Grafik 4-6, tren kasus serangan penyakit yang terjadi di 2021 hingga Juni 2022 secara umum merata pada setiap bulannya. Namun terdapat peningkatan jumlah kasus rata-rata di Januari – Maret dan Oktober – Desember baik pada ayam pedaging maupun ayam petelur. 
 
Jika diusut dari keadaan di lapangan, pada Januari – Maret dan Oktober – Desember merupakan musim penghujan. Saat musim penghujan, tingkat kelembapan lingkungan akan meningkat terutama pada litter, bawah kandang/kotoran ayam, serta gudang pakan di mana sangat mendukung berkembangnya bakteri C perfringens. 
 
Selain itu, kondisi tertentu pada pergantian cuaca di musim pancaroba seperti Juni – Agustus juga bisa berdampak stres pada ayam. Akibatnya, daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang. Berdasarkan data Grafik 4-6, tren kasus serangan penyakit yang terjadi di 2021 hingga Juni 2022 secara umum merata pada setiap bulannya.
 
Faktor Pemicu dan Gejala
Senada dengan Bayu, Ismail mengatakan pakan atau litter yang terkontaminasi oleh bakteri ini dapat menjadi penyebab outbreak. Tetapi pada kebanyakan kasus, faktor-faktor predisposisi lainlah yang menyebabkan perbanyakan C perfringens.  
 
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 277/Oktober 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain