Sabtu, 1 Oktober 2022

Enzim BS4 sebagai Imbuhan Pakan Unggas

Enzim BS4 sebagai Imbuhan Pakan Unggas

Foto: 


Pengujian di peternakan broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur) menunjukkan bahwa khasiat enzim BS4 tidak berbeda dengan khasiat enzim komersil yang beredar
 
Aspek pakan (feed) dalam budidaya ternak memegang peran penting guna mempertahankan performa dan kesehatan ternak, terutama untuk ayam. Kualitas pakan juga perlu diperhatikan, sebab tidak sembarang pakan bisa diberikan pada ayam. Upaya peningkatan kualitas untuk menekan biaya pakan pun telah dilakukan oleh Peneliti Utama di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Arnold Parlindungan Sinurat, yaitu dengan pendekatan bioteknologi.
 
“Bioteknologi itu sebenarnya banyak ragamnya, tapi saya hanya ingin memaparkan salah satu saja yaitu dengan bioteknologi kita bisa meningkatkan ketersediaan atau kecernaan zat gizi pakan melalui pemanfaatan enzim. Keuntungan penggunaan enzim ini secara umum adalah untuk meningkatkan metabolisme energi pakan, meningkatkan kecernaan lemak, protein, meningkatkan kualitas liter, meningkatkan status kesehatan ternak terutama kesehatan saluran cernanya. Bahkan dengan menggunakan enzim, kita dapat menggunakan bahan pakan yang mengandung antinutrisi, seperti serat yang lebih banyak, sehingga dengan demikian kita mengharapkan harga pakan lebih murah,” tutur dia.
 
Menurut Arnold, mekanisme kerja enzim yakni pertama enzim akan merusak dinding sel bahan pakan yang terdiri dari selulosa dan serat atau karbohidrat kompleks lainnya. Enzim pun menstimulasi bakteri berkhasiat, dengan merubah struktur serat kasar yang ada di dalam pakan tersebut. “Enzim dapat memperbaiki saluran pencernaan, alhasil dapat mengurangi kerusakan dinding usus akibat tingginya serat di dalam pakan. Selain itu, enzim juga dapat menurunkan kekentalan isi usus sehingga penyerapan zat-zat gizi bisa lebih baik,” jelasnya.
 
Enzim BS4 dan Teknologinya
Arnold menjelaskan bahwa enzim BS4 merupakan enzim yang dihasilkan dengan pembiakan Eupenicilium javanicum. Eupenicilium javanicum adalah sejenis kapang pada substrat bungkil kelapa,  kemudian diisolasi dari biji sawit pada 1994 silam. Ia pun mengisahkan, bahwa Eupenicilium javanicum awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kecenaan gizi produk ikutan industri sawit, tetapi penerapannya bukan hanya untuk ikutan produksi sawit.
 
“Enzim BS4 ini utamanya adalah mengandung beta mananase, di mana ini dominan berada di dalam enzim BS4. Tapi ada juga selulase, beta manosidase dan alfa galaktosidase. Aktivitas sakarifikasi dari enzim. Sakarifikasi artinya pemecah serat pembentuk gula sederhana atau glukosa, yaitu 15 unit (U) per gram dalam bentuk tepung, tapi dalam bentuk cair bisa 2 kali lipatnya,” sebut dia.
 
Lebih lanjut, Arnold memaparkan terkait teknologi produksi dari enzim BS4 ini. Teknologi produksi BS4 pada prinsipnya sama dengan melakukan prinsip fermentasi, yaitu menggunakan mikroorganisme terpilih yang bertujuan untuk memproduksi enzim tertentu yang ingin dihasilkan. Kemudian substratnya pun harus sesuai untuk pertumbuhan yang optimum dari mikroorganisme. 
 
Berikunya yakni lingkungan di dalam reaktor atau di dalam ruang fermentasinya juga harus optimum. “Misalnya suhu, kelembapan, oksigen, karbondioksida dan sebagainya guna menunjang pertumbuhan mikroorganisme. Jika kita melakukan fermentasi cair atau submerge, tentu pH juga sangat menentukan pertumbuhan mikroorganisme dan hasil enzim yang akan diperoleh,” terang Arnold.
 
Adapun alur produksi dan peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi enzim BS4 dengan sistem solid state fermentation yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak terdiri dari 8 tahapan, yaitu mulai dari produksi sampai ke kontrol kualitas (quality control). Arnold menerangkan bahwa yang pertama adalah produksi biakan, biakan Eupenicilium javanicum diproduksi di laboratorium mikrobiologi dengan bantuan alat-alat seperti laminar flow, sekrup inkubator dan lain sebagainya, yang akan menghasilkan inokulum cair berisi Eupenicilium javanicum yang digunakan untuk proses fermentasi.
 
“Tahapan yang kedua adalah penyiapan substrat dengan menggunakan bungkil kelapa untuk fermentasi, bahan dan peralatan yang kita butuhkan salah satunya adalah ruang preparasi. Kemudian di tahap kedua ini tentunya akan didapatkan substrat yang siap untuk difementasi sehingga ini sudah campuran dari mineral dan juga inokulum. Kemudian baru bisa difermentasi,” imbuh dia.
 
 
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 277/Oktober 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain