Jumat, 21 Oktober 2022

Tim Peneliti dari UNS dan BRIN Paparkan Hasil Kajian Genom Sapi Bali

Tim Peneliti dari UNS dan BRIN Paparkan Hasil Kajian Genom Sapi Bali

Foto: dok.istimewa


Denpasar (TROBOSLIVESTOCK.COM). Program konservasi sapi Bali di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar selama ini berjalan dengan baik.

 

Buktinya, ditandai rendahnya koefisien inbreeding (perkawinan sedarah) dan tingginya variasi genetik sapi Bali yang dipelihara di BPTU-HPT Denpasar bila dibandingkan dengan sapi Bali yang dipelihara oleh masyarakat.

 

Hal itu ditegaskan oleh Dosen Program Studi Peternakan sekaligus Ketua Tim Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Muhammad Cahyadi beranggotakan Pita Sudrajad dan Slamet Diah Volkandari dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kajian berupa kaitan genom sapi Bali dan hubungannya dengan sifat bobot dan ukuran tubuh sapi Bali itu sebagai upaya meningkatkan penyediaan mutu bibit unggul sapi Bali guna mewujudkan swasembada daging sapi nasional.

 

Hasil penelitian yang telah dilakukan sejak 2018 hingga 2022 itu, Cahyadi kemukakan ditemukan asosiasi antara gen Pleomorphic adenoma gene 1 (PLAG1) dengan sifat ukuran tubuh sapi Bali, khususnya panjang badan. Bahkan, polimorfisme juga ditemukan pada gen Insulin-induced gene 1 (INSIG1) pada populasi sapi Bali. 

 

“Hasil penelitian itu telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi Veterinary World,” ujar Cahyadi saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) di BPTU-HPT Denpasar pada (18-19/10).

 

Lebih lanjut, ia utarakan, saat ini pihaknya sedang menganalisis penanda genetik baru (novel) yang khusus ditemukan pada sapi Bali berdasarkan analisis genome-wide association study (GWAS). Menurutnya, penanda genetik ini sangat efektif untuk dimanfaatkan sehingga potensi fenotip dari sapi Bali dapat diketahui sejak dini.

 

“Sampai saat ini, tim peneliti telah menghasilkan lebih dari 10 karya ilmiah berupa jurnal, prosiding nasional dan internasional, serta skripsi mahasiswa,” terangnya.

 

Sementara itu, Hary Suhada, Kepala BPTU-HPT Denpasar menyambut positif terhadap hasil riset yang dilakukan pihak UNS dan BRIN. Hasil riset ini dapat dijadikan rujukan sebagai proses seleksi bibit berbasis Marker Asissted Selection (MAS).

 

Dikatakannya, selama ini BPTU-HPT Denpasar hanya mengacu pada SNI saja, oleh karena itu pihaknya secara pribadi maupun lembaga menyambut positif hasil penelitian ini. “Saya pun terus mengajak seluruh peneliti di Perguruan Tinggi untuk bersinergi dan berkontribusi dalam peningkatan kualitas sapi Bali,” pesannya.

 

Pada FGD tersebut, tim peneliti mengusulkan tiga rekomendasi kepada BPTU-HPT Denpasar yakni melakukan pemurnian sapi Bali secara berkelanjutan, meningkatkan mutu genetik bibit sapi Bali melalui seleksi sifat yang lebih spesifik. "Adapun yang terakhir melakukan seleksi sapi Bali berbasis Marker Assisted Selection (MAS)," imbuh Cahyadi.

 

Di akhir FGD, tim peneliti menyampaikan rasa terima kasih serta berharap agar terjalin kerjasama berkelanjutan antara UNS, BRIN dan BPTU-HPT Denpasar dalam meningkatkan mutu genetik sapi Bali. Pasalnya sapi Bali merupakan kebanggaan provinsi Bali dan seluruh masyarakat Indonesia.ue/zul 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain