Selasa, 1 Nopember 2022

Harus Berkelanjutan

Setiap tahun pada pertengahan Oktober, stakeholder perunggasan memperingati World Egg Day atau Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN). Kegiatan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya konsumsi daging dan telur ayam.
 
Daging dan telur ayam merupakan sumber protein hewani yang memiliki kandungan asam amino esensial penting untuk pertumbuhan sel-sel tubuh. Juga berfungsi untuk mengganti sel tubuh yang rusak dan mati, serta mengatur proses metabolisme tubuh lainnya. 
 
Namun sayangnya, konsumsi ayam per kapita di Indonesia baru mencapai 10 kg per tahun, sementara konsumsi telur hanya 160 butir per kapita per tahun. Padahal daging ayam merupakan salah satu sumber protein hewani dengan kandungan lemak tidak jenuh dan protein sederhana yang mudah dicerna sekaligus harganya terjangkau.
 
Rangkaian peringatan HATN juga diharapkan dapat memberikan informasi dan edukasi bagi masyarakat tentang kemajuan industri perunggasan di Indonesia. Juga manfaat pentingnya daging ayam dan telur dalam menopang perekonomian nasional, sekaligus menjadi sumber protein yang mencerdaskan generasi bangsa.
 
Melalui kampanye ini digadang bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap protein dan gizi yang dapat dijangkau, meningkatkan kemajuan peternak karena produksi yang meningkat, dan membantu penanganan stunting. Dalam artian, momen ini menjadi ajang untuk menurunkan angka prevelansi stunting.
 
Dari sisi pemerintah, upaya peningkatan konsumsi pasar domestik melalui diversifikasi produk olahan ayam dan telur, serta akses pasar ekspor ke berbagai negara terus didorong. Bahkan penekanannya, peningkatan konsumsi daging ayam dan telur nasional dapat dimulai dari keluarga, dengan membiasakan konsumsi daging ayam dan telur setiap hari, sehingga tercipta keluarga Indonesia yang sehat dan cerdas.  
 
Berdasarkan Survei Status Gizi Balita, angka prevalensi stunting di tingkat nasional mengalami penurunan sebesar 3,27 %, yaitu dari 27,67 % pada 2019 menjadi 24,4 % di 2021. Jika dilihat lagi di Asia Tenggara, Indonesia ternyata berada di urutan kedua terbanyak yang mengalami stunting, bahkan di dunia Indonesia juga bertengger di urutan kelima.
 
Pemerintah pun menargetkan penurunan angka stunting nasional menjadi sebesar 14 % di 2024. Maka untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7 % di setiap tahunnya. Untuk itu masyarakat seperti ibu hamil, balita, anak-anak, hingga remaja usia pranikah dianjurkan untuk mengonsumsi daging dan telur ayam. Bahkan untuk telur minimal mengonsumsi sebutir sehari mengingat telur mudah diolah dan kandungan protein di dalamnya sangat penting untuk kesehatan tubuh.
 
Kepedulian stakeholder perunggasan dalam mengatasi stunting seperti dengan membagikan telur ke masyarakat dengan sasaran warga yang masih terdampak stunting berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) patut diapresiasi. Juga mengajak para pelajar mulai dari tingkat playgroup, TK, MI, SD, MTS, SMP, MAN, hingga SMA untuk makan telur bersama bisa menjadi langkah awal untuk membiasakan sehingga menumbuhkan budaya gemar makan telur 1 – 2 butir per hari untuk anak sekolah dan masyarakat.  
 
Jika konsumsi daging dan telur ayam ini meningkat berkat kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dari sumber protein hewani ini maka produksi dari peternak broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur) bisa terserap. Kondisi itu bisa menolong peternak sebagai pelaku usaha budidaya ayam yang kerap kali mengalami kerugian akibat harga ayam hidup dan telur yang fluktuatif bahkan anjlok di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) yang telah berlangsung cukup lama.
 
Dampak berikutnya adalah, bisnis perunggasan bisa semakin berkembang dengan baik dan menarik minat masyarakat untuk berusaha atau berinvestasi di sektor ini. Efek selanjutnya akan semakin membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi nasional. 
 
Sebenarnya, kegiatan kampanye peningkatan konsumsi daging dan telur ayam ini tidak hanya dilakukan setiap menjelang atau memperingati Hari Telur dan Ayam Nasional ataupun Hari Telur Sedunia. Namun, stakeholder perunggasan melalui asosiasi atau internalnya masing-masing kerap melakukan kegiatan serupa. 
 
Agar bisa tercapai tujuan dari gerakan ini maka stakeholder perunggasan bersama pemerintah harus bersinergi dalam upaya mengkampanyekan gemar makan daging dan telur ayam ini. Pemerintah baik dari tingkat pusat hingga ke daerah serta lintas sektoral semestinya menjadi motor penggerak kegiatan ini.
 
Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan diharapkan konsumsi per kapita dari masyarakat di Indonesia bisa terus meningkat. Alhasil, bangsa yang kuat, bangsa yang cerdas bisa terwujud.
 
Kegiatan kampanye konsumsi ayam dan telur sebagai sumber protein ini pun harus dilakukan secara kontinu agar dampaknya bisa dirasakan efektif. Juga kegiatan ini harus tepat sasaran agar masyarakat sebagai subjek dari kampanye ini semakin tersadarkan pentingnya konsumsi protein sehingga menjadi prioritas untuk dikonsumsi bagi diri sendiri maupun keluarganya. 
 
Semoga melalui gerakan kampanye ini tidak sekadar kegiatan seremoni tetapi bisa berdampak nyata bagi masyarakat. Juga bisa mendorong industri perunggasan nasional semakin berkembang, maju, dan kompetitif baik ditingkat nasional maupun global. TROBOS
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain