Selasa, 1 Nopember 2022

Cara Cerdas Hadapi Cekaman Panas

Cara Cerdas Hadapi Cekaman Panas

Foto: 


Perlu strategi mengendalikan indeks panas agar tetap berada pada tingkatan yang dapat diterima oleh ayam tanpa mengalami stres. Perubahan teknologi perkandangan merupakan keniscayaan, untuk mengejar efisiensi dari performa ayam terbaik
 
Stres panas menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan pada produksi unggas, terutama di daerah tropis dan iklim kering di dunia. Strategi utama untuk mencegah dan mengelola ancaman stres panas ini secara konseptual adalah memilih lokasi yang lebih terbuka, sejuk dan menentukan arah hadap bangunan kandang secara tepat. 
 
Sedangkan upaya strukturalnya adalah sistem perkandangan, konstruksi, jenis atap, manajemen litter, dan ventilasi. Selain itu, rekayasa nutrisi juga memperkuat upaya konseptual dan struktural di atas. Diantaranya melalui penyesuaian formulasi pakan dan pemberian berbagai macam suplemen untuk mencegah atau mengurangi stres. 
 
Narasi itu terungkap dalam MIMBAR TROBOS Livestock The Series 29 – Perunggasan dengan topik “Menanggulangi Heat stresss pada Unggas” yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), dan disiarkan secara langsung dikanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock pada Kamis, 27 Oktober 2022. MIMBAR ini menghadirkan Prof Adi Ratriyanto – Pakar Nutrisi Unggas dan Non-Ruminansia Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta; Koekoeh Santoso – Pakar Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University; dan Syahrir Akil – Direktur PT Bintang Sejahtera Bersama. 
 
Syahrir Akil membuka pembahasan dengan menggelar 5 hal yang harus tersedia dalam budidaya unggas, yakni oksigen, suhu, cahaya, air, dan pakan. Pada awal fase kehidupannya, ayam membutuhkan suhu lebih hangat, bahkan 32 oC pada 5 hari pertama. Selanjutnya, kebutuhan suhu ini berangsur menurun hingga mencapai 28 oC saja pada umur 14 hari. Ayam semakin membutuhkan suhu lebih sejuk, hingga 23 oC pada umur di atas 30 hari. 
 
Realitas Lingkungan Ternak
Adi Ratriyanto menyatakan secara umum Indonesia memiliki kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembapan yang cenderung tidak menguntungkan bagi unggas. Walaupun hal itu wajar, sebagai konsekuensi logis dari kawasan beriklim tropis. Keadaan ini berpotensi akan menjadi semakin ekstrem oleh faktor climate change akibat global warming. Tentu memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi tantangan lingkungan yang tinggi itu. 
 
Meneruskan presentasinya, dia mengatakan, zona termonetral unggas 18 – 22 oC. Heat stresss (cekaman panas) mulai terlihat pada suhu 27 oC. Tapi tanda akan sangat nyata di atas 30 oC. Heat stresss terjadi kalau ayam berada di luar zona termonetralnya. Heat stresss terjadi karena terjadi negative inbalance antara panas yang diproduksi oleh tubuh dan panas yang diterima dari lingkungan dengan panas yang dilepaskan oleh tubuh. “Selain heat stresss sebenarnya ada cold stress, namun tidak akan dijumpai di Indonesia,” dia mengungkapkan. 
 
Koekoeh Santoso menjelaskan unggas merupakan hewan berdarah panas/homeoterm namun tidak punya kelenjar keringat. Bahkan tubuhnya tertutup bulu sehingga memiliki hambatan alami untuk membuang panas tubuh, pada mekanisme normal termoregulasi. 
 
“Suhu tubuh ayam normal sekitar 41 oC, membutuhkan suhu lingkungan untuk pertumbuhan optimal 21 – 24 oC. Jika unggas terpapar suhu dan kelembapan lingkungan di atas optimal, akan terjadi keseimbangan negatif antara jumlah energi yang ditransmisikan ke lingkungan sekitarnya dengan jumlah energi panas yang dihasilkan unggas dan panas yang diterima dari lingkungan,” ujar dia.
 
Adi menyatakan temperatur lingkungan di Indonesia secara alami berada pada perbatasan antara suhu hangat dengan suhu yang sudah mencapai level heat stresss bagi unggas. Kondisi heat stresss ini bukan hanya mengubah perilaku ayam, namun berpengaruh pada kondisi fisiologis, imunitas, komposisi mikrobia saluran pencernaan, dan ujungnya adalah menekan performa ayam bahkan kematian.
 
Dia pun membagi heat stresss menjadi 2, heat stresss akut atau terjadi secara tiba-tiba dan heat stresss kronis atau cekaman panas yang terjadi terus menerus berhari-hari. Heat stresss kronis terbagi lagi menjadi heat stresss siklik kronis dan konstan kronik. Pada jenis siklik, ada jangka waktu tertentu dalam sehari terjadi heat stresss. Sedangkan konstan kronik terjadi terus menerus sepanjang hari selama berhari-hari. 
 
Menurut Syahrir Akil, sebelum membahas lebih jauh mengenai heat stress perlu diketahui fase hidup ayam ras dan kebutuhannya pada suhu lingkungan (ambient temperature). Pada umur sebelum 5 hari, anak ayam mirip dengan hewan berdarah dingin/cold blooded sehingga membutuhkan panas, antara 40 – 40,6 oC sehingga dibuatkanlah perindukan atau brooding yang dilengkapi dengan pemanas. Namun saat itu toleransi terhadap suhu sangat kurang, sehingga jika suhu naik menjadi 41 oC saja, ayam sudah melakukan panting (megap-megap). Pada umur lebih dari 5 hari sampai 10 hari transisi, mulai dapat mengatur temperaturnya sendiri tapi belum sempurna. “Ayam kecil butuh panas, ayam besar butuh dingin. Kalau pada broiler (ayam pedaging), ayam besar mampu hidup normal mulai 21 oC sedangkan pada layer (ayam petelur) bisa lebih dingin, antara 17 – 18 oC. Pada selisih 4 oC di atas garis maksimum toleransi panas, maka ayam akan mati,” tandasnya.
 
Efek Fisiologis
Adi Ratriyanto menjelaskan sebenarnya ayam memiliki mekanisme untuk membuang panas tubuhnya ke lingkungan, dinamakan heat loss. Jika terjadi gangguan keseimbangan panas tubuh dengan lingkungan, ayam akan berusaha menyeimbangkan, agar heat production sama dengan heat loss. Pembuangan panas tubuh unggas dilakukan melalui dua cara. Pertama, dengan cara sensible heat loss dan kedua insensible heat loss. Pembuangan panas tubuh melalui proses radiasi, konduksi, dan konveksi dinamakan sensible heat loss. Sensible heat loss hanya efektif pada temperatur lingkungan yang rendah sepanjang zona nyaman. 
 
Adapun insensible heat loss, menurut dia adalah proses pengeluaran panas tubuh ayam secara aktif melalui evaporasi dari sistema pernapasan, yang gejalanya sering disebut sebagai panting. Pada level tertentu kenaikan suhu kandang akan meningkatkan suhu tubuh ayam disertai dengan peningkatan frekuensi panting, konsumsi air minum serta penurunan konsumsi pakan. 
 
Koekoeh Santoso menerangkan pada kondisi keseimbangan panas negatif, paru-paru dan jantung ayam dipaksa untuk bekerja keras sebagai kompensasi termoregulasi. Kematian ayam dapat terjadi karena perdarahan pada otot jantung. Pada bedah bangkai akan ditemukan pembengkakan jantung karena ventrikelnya membesar. Jantung tidak mampu memompa untuk membantu termoregulasi dan mengimbangi respirasi yang semakin cepat untuk membuang panas melalui evaporasi/panting. “Aktivitas evaporasi itu memakai energi tinggi. Metabolisme dengan energi tinggi akan menghasilkan efek samping panas tubuh yang tinggi pula,” tegasnya.
 
Ayam cenderung melakukan insensible heat loss karena sensible heat loss kurang efektif sebagai akibat dari ketiadaan kelenjar keringat dan tubuh yang ditumbuhi bulu. Konduksi dan radiasi tidak bisa efektif karena adanya bulu ini. Maka dilakukan konveksi dengan cara melebarkan sayap. Cara ini hanya efektif jika ada pergerakan udara yang cukup di dalam kandang. Kalau tidak ada/tidak cukup, jelas tidak akan terjadi konveksi. “Maka langsung loncat ke evaporasi sebagai jalan terakhir. Evaporasi akan mendorong peningkatan respirasi. Sayangnya tidak hanya uap air yang dikeluarkan namun juga terjadi pengeluaran CO2 secara besar-besaran sehingga pH darah naik, atau respiratory alkalosis,” ungkap dia. 
 
Kenaikan pH darah ini mengurangi aktivitas enzim karbonat anhidrase sehingga kadar kalsium dan bikarbonat dalam darah menurun. Akibatnya, ion kalsium dan karbonat yang ditransfer dari darah ke uterus berkurang. Sehingga dapat berpengaruh terhadap kualitas kerabang telur. Pada ayam breeder dan petelur, kejadian akut ini merupakan ancaman besar. Kerabang lebih tipis dan rapuh sehingga berpotensi tidak dapat ditetaskan.
 
“Lebih lanjut, heat stress akan mengeluarkan lemak dan meningkatkan jumlah radikal bebas. Radikal bebas akan merusak membran sel dengan cara merusak susunan fosfolipid dan mengoksidasi PUFA (polyunsaturated fatty acid) atau asam lemak tak jenuh ganda. Maka sel-sel pun akan rusak. Kerusakan membran sel akan merusak sistem imun juga,” urai Koekoeh. 
 
Diapun menggarisbawahi, ketika suhu lingkungan melebihi kemampuan pendinginan non evaporatif tubuh maka ayam akan melakukan pendinginan evaporatif melalui peningkatan laju respirasi (panting). Konsekuensinya, terjadi ketidakseimbangan asam-basa darah karena hiperventilasi. Selanjutnya, terjadi ketidakseimbangan elektrolit darah akibat gangguan keseimbangan asam-basa yang menyebabkan ekskresi elektrolit (terutama K+ dan Na+). Ketidakseimbangan elektrolit ini akan menggerus performa pertumbuhan, produksi telur, kualitas daging dan bahkan dapat meningkatkan mortalitas. 
 
Thermal Humidity Index (THI)
Adi Ratriyanto memaparkan pada unggas berlaku fenomena jumlah panas yang dihasilkan oleh aktivitas dan metabolisme (heat production) harus sama dengan jumlah panas yang hilang (heat loss). Pada kondisi heat stress keseimbangan itu terganggu. Gangguan itu dapat disebabkan oleh meningkatnya temperatur dan kelembapan, sehingga menghambat pembuangan panas. Kelembapan yang tinggi akan menghambat pembuangan panas dari paru-paru melalui evaporasi. Juga menyebabkan suhu yang dirasakan oleh ayam lebih tinggi daripada suhu yang terbaca pada termometer. 
 
Kelembapan dan temperatur berinteraksi sehingga menghasilkan thermal humidity index (THI). THI adalah nilai tunggal yang menggambarkan efek terintegrasi dari temperatur dan kelembapan udara yang terkait dengan tingkat heat stress.
 
Adi menjelaskan, semakin tinggi THI maka produktivitas layer dan peningkatan bobot badan broiler akan tertekan bahkan turun. Sebaliknya feed conversion ratio (FCR) akan bengkak sehingga efisiensi pakan turun.
 
Mengutip beberapa laporan ilmiah, dia menyodorkan rumus THI untuk layer dan broiler. THI layer = 0.6 Tdb + 0.4 Twb menurut (Zulovich & DeShazer (1990). Sedangkan THI broiler = 0.85 Tdb + 0.15 Twb menurut Tao & Xin (2003). Tdb adalah temperatur bola kering udara (temperature of dry bulb) dan Twb adalah temperatur bola basah (temperature of wet bulb). Perhitungan ini cukup populer dan terlihat lebih saintifik, namun memerlukan alat khusus untuk mengukurnya (Lihat tabel THI). 
 
 
Selengkapnya Baca Di Majalah TROBOS Livestock Edisi 279/November 2022
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain