Selasa, 1 Nopember 2022

Produk Unggas Penangkal Stunting

Produk Unggas Penangkal Stunting

Foto: 


Edukasi konsumsi protein hewani asal unggas seperti daging dan telur ayam yang berkelanjutan bisa berperan untuk mendukung kesehatan dan pencegahan munculnya kasus ini
 
Bertepatan dengan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) yang jatuh pada 15 Oktober, umumnya diperingati dengan cara memakan telur bersama. Kendati demikian, kegiatan memakan telur bersama maupun membagi-bagikan telur secara gratis ini terkadang tidak sampai ke tangan masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Selain itu, kegiatan HATN juga kerap diisi dengan seminar yang notabene kurang menarik perhatian khalayak umum.
 
Berbeda dari yang lain, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University bersama dengan Animal Science Show Competition (ASSC), Gerakan Protein Sehat, Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) serta Agrianita Fapet IPB University menggagas acara Poultry Fashion Week (PFW) bersamaan dengan peringatan HATN. Acara ini mengusung tema ‘Unggas Indonesia untuk Kesejahteraan Bangsa’. 
 
Gelaran PFW 2022 ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait dunia perunggasan dengan cara yang berbeda. Seperti yang dikatakan oleh Koordinator MIPI Komda Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten, sekaligus Dosen Fapet IPB University, Maria Ulfah bahwa PFW merupakan kegiatan edukasi tentang manfaat unggas untuk kesejahteraan bangsa. “Penyelenggaran PFW 2022 bertepatan dengan peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) pada 15 Oktober 2022,” urai Maria.
 
Rangkaian acara PFW 2022, terdiri dari 7 acara yakni Poultry Smart, Launching Program Pencegahan Stunting, Gerakan Protein Sehat yang secara simbolis dibuka bersama, Fashion & Product Show dari Mahasiswa IPB University dan IWAPI serta SMKN 3 Bogor serta Closing Ceremony dari Animal Science Show Competition (ASSC) 2022. Acara ini dititik beratkan pada Program Pencegahan Stunting yang sebenarnya diprakarsai oleh MIPI.
 
“Sebenarnya tujuan utama dari PFW itu adalah peluncuran Program Pencegahan Stunting yang mana kegiatan ini sebenarnya program MIPI Komda Jabar, DKI Jakarta, dan Banten. Kemudian kami kemas sebelum action untuk Program Pencegahan Stunting-nya dengan mengedukasi terlebih dahulu, kebetulan ada HATN sehingga kami kemas dalam peringatan HATN itu dengan menyelenggarakan PFW. Oleh karena itu kegiatan utamanya adalah edukasi tentang manfaat unggas untuk kesejahteraan bangsa yang bisa digunakan untuk mencegah stunting dan bermanfaat untuk kesehatan masyarakat pada umumnya,” beber dia.
 
Ketua Umum MIPI, Prof Arnold Parlindungan Sinurat mengungkapkan keinginannya untuk mengusahakan supaya masyarakat tidak kekurangan gizi atau stunting, terutama untuk anak-anak. Salah satu upayanya ialah dengan menggalakkan konsumsi protein hewani yakni telur dan daging ayam, sebab harganya relatif murah. 
 
MIPI tengah berusaha dalam tiap penanganan bencana alam berkontribusi dengan memberikan bantuan pangan bergizi. “Kami menggagas dan sudah kita mulai untuk mengirimkan telur, karena jika sudah direbus tidak perlu takut pecah dan gizinya juga cukup tinggi. Sehingga untuk korban bencana alam, gizi bisa terbantu dengan memakan telur, baik telur asin maupun rebus dan lain sebagainya,” terangnya.
 
Edukasi 
Pada kesempatan yang sama, Dekan Fapet IPB University, Idat Galih Permana menyinggung terkait masalah stunting di Indonesia, di mana berdasarkan data statistiknya Indonesia saat ini masih mengalami stunting untuk anak balita itu sekitar 24 %. Diharapkan pada 2024 bisa menurun hingga mencapai 14 %. Jika dilihat lagi di Asia Tenggara, Indonesia ternyata berada di urutan kedua terbanyak yang mengalami stunting, bahkan di dunia Indonesia juga berrtengger di urutan kelima.
 
“Saya kira ini suatu permasalahan nasional yang perlu segera kita tuntaskan dan tentunya Fapet juga bersama dengan MIPI sangat tergerak untuk sedikit memberikan kontribusi. Terutama dari sisi edukasi yakni bagaimana memberikan edukasi ini kepada masyarakat dalam rangka menurunkan angka stunting,” ungkap Idat.
 
Angka stunting di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ia mengimbuhkan, masih sekitar 9,9 % terutama di wilayah Bogor Barat termasuk juga Kecamatan Darmaga. Di Kota Bogor sendiri sudah lebih baik yaitu sekitar 3,7 %, menurutnya mungkin sekarang lebih rendah lagi. Ini menunjukkan bahwa memang stunting berkaitan dengan masalah tingkat pendapatan keluarga.
 
“Di sisi lain, stunting itu merupakan masalah sosial, edukasi, pemahaman ibu-ibu di dalam pemberian makanan kepada balitanya. Bahkan kalau kita lihat di beragam survei nasional, alokasi dana atau alokasi biaya merokok jauh lebih besar dari pada alokasi untuk membeli produk-produk protein hewani. Ini termasuk masalah sosial, sehingga bukan sekadar soal kemiskinan, tetapi lebih menjurus ke masalah edukasi,” papar dia.
 
Idat menerangkan bahwa pada pelaksanaan PFW beberapa saat lalu, PFW menjadi momentum bagi Fapet IPB terutama dari mahasiswa dan mahasiswa sekolah vokasi secara bersama-sama melakukan edukasi. Di dalamnya juga ada kegiatan makan telur secara gratis dalam rangka HATN, sehingga memang ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat. Ia berharap, dengan dilaksanakannya kegiatan ini, tidak hanya pada saat HATN tetapi bisa dilanjutkan ke periode-periode berikutnya, sehingga masyarakat terus tergerak atau dapat meningkatkan asupan gizinya.
 
Menurutnya, ini adalah suatu kesempatan dalam pengembangan baik untuk produksi maupun peliharaan unggas. Ia pun berharap masyarakat bisa lebih banyak lagi mengonsumsi telur dan daging ayam, pasalnya konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia rata-rata sekitar 10 – 12 kg per kapita per tahun, masih jauh di bawah negara-negara tetangga. Sementara Malaysia sudah mencapai 30–40  kg per kapita per tahun, bahkan asupan protein hewani masyarakat Indonesia rupanya baru 8 % dari total total konsumsi makanannya.
 
“Jika dibandingkan dengan Thailand, konsumsi daging ayamnya sudah sampai 20 %, bahkan Malaysia 28 %. Ini artinya potensi peternakan untuk mahasiswa peternakan masih sangat besar. Tugas kita adalah meningkatkan produksi peternakan khususnya unggas, baik produksi daging dan telur. Selain itu, menghasilkan produk-produk unggas yang efisien, sehingga terjangkau oleh masyarakat karena broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur) ini adalah sumber protein yang paling terjangkau untuk saat ini di masyarakat,” bubuhnya.
 
Di sisi lain, Idat mengaku bahwa ia sebetulnya tertarik dengan perkembangan komunitas-komunitas unggas hias. “Ternyata ayam-ayam hias ini harganya sampai jutaan rupiah, termasuk juga merpati. Saya belakangan ini juga sering melihat YouTube untuk unggas hias, serta entok yang harganya puluhan juta rupiah. Dengan begitu saat ini masyarakat sudah makin berkembang, selain unggas itu ditujukan untuk produksi pangan hewani yang sehat dan berkualitas, baik daging maupun telur, juga ditujukan untuk pet (hewan peliharaan) dan hias,” sebut Idat. 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain