Senin, 15 Nopember 2021

Wessy Adji Gumilang: Semangat Korporasi Peternak Broiler Mandiri

Wessy Adji Gumilang: Semangat Korporasi Peternak Broiler Mandiri

Foto: Dok. Pribadi


Beragam strategi dijalankan oleh peternak ayam pedaging (broiler) dalam meningkatkan efisiensi produksinya, salah satunya menjalin pola kemitraan PIR (Perusahaan Inti Rakyat). Pola kemitraan PIR menempatkan peternak sebagai plasma, sedangkan perusahaan sebagai inti. Pada pola kemitraan ini, perusahaan inti mempunyai beragam tanggungjawab, salah satunya ialah jaminan hasil pemasaran. Namun hal berbeda dijumpai pada peternak mandiri. 
 
 
Peternak mandiri pada prinsipnya ialah menyediakan seluruh input produksi dan bebas dalam memasarkan produknya. Namun dalam perkembangannya, kondisi harga jual ayam hidup (livebird) dipasaran yang fluktuatif. Bahkan seringkali di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) sehingga mengakibatkan peternak mandiri mengalami kerugian yang cukup besar dan ditambah posisi tawar peternak mandiri yang masih rendah. Keterpurukan harga ayam hidup yang berkepanjangan mengakibatkan semakin berkurangnya peternak mandiri. Hal tersebut terjadi karena kurangnya semangat gotong royong dan rasa empati sesama pelaku industri peternakan.
 
 
Membentuk Korporasi
Keterpurukan yang tengah dihadapi oleh peternak mandiri selama kurun waktu 2 tahun terakhir telah membuka pandangan bagi seluruh kalangan untuk turut serta dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Perwujudan korporasi  peternak rakyat merupakan suatu gagasan yang tepat dalam menjamin keberlangsungan usaha peternak broiler mandiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korporasi merupakan perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar. 
 
 
Korporasi usahatani adalah pembangunan sistem kelembagaan terintegrasi dari sektor hulu hingga sektor hilir untuk menghasilkan produk pangan yang berkembang. Tujuan dilakukannya korporasi dalam usahatani adalah mampu meningkatkan nilai tambah serta daya saing wilayah dan komoditas pertanian untuk keberlanjutan ketahanan pangan nasional, memperkuat sistem usahatani secara utuh dalam satu manajemen kawasan, dan memperkuat kelembagaan petani dalam mengakses informasi, teknologi, prasarana dan sarana publik, pemodalan, pengolahan serta pemasaran. 
 
 
Adopsi sistem korporasi pada sektor perunggasan merupakan sebuah paham baru dalam mendukung usaha peternakan ayam pedaging yang sustainable (berkelanjutan). Sistem korporasi perunggasan ini dapat dijalankan mulai dari skala regional, yaitu dalam lingkup kabupaten atau kota. Sistem korporasi peternak rakyat dalam impelentasinya melibatkan berbagai pihak, antara lain peternak broiler mandiri, kelompok peternak mandiri, dinas peternakan, dinas perdagangan, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta perguruan tinggi. Pihak-pihak tersebut tentunya diharapkan mampu berjalan secara sinergis agar cita-cita yang diharapkan dalam mewujudkan sinergitas antara hulu hingga hilir dapat terwujud dengan baik.
 
 
Peternak mandiri memiliki peran dalam melaksanakan budidaya ayam pedaging yang sesuai dengan Good Farming Practices (GMF), pengadaan input produksi, aktif mengikuti bimbingan teknis yang dilaksanakan oleh dinas, perguruan tinggi, serta lembaga lain. Kelompok peternak mandiri ini memiliki anggota kelompok berupa peternak mandiri. Kedudukan kelompok peternak mandiri dapat berperan dalam menjamin pasokan sapronak bagi seluruh anggota kelompok, mengadakan rembug antar kelompok peternak ayam pedaging, serta meningkatkan motivasi anggotanya. 
 
 
Dinas peternakan kabupaten/kota memiliki peran dalam merumuskan dan menyusun kebijakan dibidang perunggasan yang berkeadilan, melaksanakan pendampingan, monitoring, evaluasi pelaksanaan kegiatan budidaya ayam pedaging, serta mengawal kebijakan yang telah ditetapkan. Dinas perdagangan bertugas dalam mengawasi pemasaran output perunggasan, menentukan acuan HPP sesuai dengan situasi dan kondisi di daerah tersebut, serta mengawasi supply dan demand daging ayam agar tidak menimbulkan fluktuasi harga livebird. 
 
 
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pelaku di sektor hilir mempunyai tugas dalam menyerap output perunggasan ketika harga livebird fluktuatif, pendampingan peternak dalam peningkatan inovasi pengolahan daging,serta mengadakan bazar berbasis produk perunggasan (daging ayam). Perguruan tinggi sebagai lembaga penunjang mempunyai tugas dalam memberikan pendampingan manajemen pengembangan usaha yang baik dan melaksanakan diseminasi hasil riset dalam meningkatkan produktivitas ayam pedaging dan keamanan pangan.
 
 
Perwujudan korporasi  peternak rakyat merupakan suatu gagasan yang tepat dalam menjamin keberlangsungan usaha peternak broiler mandiri. Sistem korporasi memungkinkan pembangunan sistem kelembagaan terintegrasi dari sektor hulu hingga sektor hilir untuk menghasilkan produk daging ayam yang baik. Sistem korporasi peternak rakyat dalam impelentasinya melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut tentunya diharapkan mampu berjalan secara sinergis agar cita-cita yang diharapkan dalam mewujudkan sinergitas antara hulu hingga hilir dapat terwujud dengan baik.
 
 
 
Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain