Rabu, 30 Nopember 2022

Inseminasi Buatan Pada Babi

Inseminasi Buatan Pada Babi

Foto: dok.istimewa


Kupang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pengembangbiakan ternak babi, baik perkawinan secara alami atau IB, prinsipnya hanya satu yaitu memasukkan sperma ke dalam organ reproduksi betina

 

Hal itu dinyatakan oleh Prof Wilmientje Marlene Nalley, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kegiatan seminar bertajuk “Manajemen dan Inseminasi Buatan (IB) Babi” berbasis online pada beberapa waktu lalu.

 

Melalui IB, peternak dapat memanfaatkan pejantan unggul secara maksimal untuk tujuan peningkatan jumlah dan mutu genetik, penyakit kelamin menular dapat dikendalikan, juga perbaikan manajemen dan peningkatan efisiensi produksi atau reproduksi.

 

 Kalau dengan kawin alam semen 1 ekor jantan hanya dapat digunakan untuk 1 ekor betina, sedangkan dengan IB semen dari 1 ekor jantan dapat dimanfaatkan hingga 10 – 15 ekor betina. Sehingga tujuan dari IB adalah mengoptimalkan penggunaan pejantan.

 

Pelaksanaan IB Pada Babi

Sebelum IB, seleksi bibit harus dilakukan. Pejantan yang dapat digunakan harus memiliki Bentuk kantong testis simetris dan berukuran sama, pengeluaran air kencing terputus-putus, kaki belakang kokoh dan kuat, bagian bawah perut rata, serta memiliki kaki dan kuku kaki yang kuat.

 

Sementara itu, betina yang digunakan sebaiknya memiliki jumlah puting genap yaitu 12 – 14 buah, letak puting tepat berpasang-pasangan, antara estrus pertama dan estrus berikutnya tepat waktu, kaki yang kuat, otot pinggul padat, serta ekor yang melingkar untuk mempermudah peternak mendeteksi estrus.

 

Estrus dapat ditandai jika ternak diam jika dinaiki. Kemudian ovulasi terjadi pada hari kedua estrus. “Babi dara harus di IB pada hari pertama saat estrus, namun jika induk yang telah beranak maka dapat di IB pada hari kedua estrus. Sebaiknya deteksi estrus dilakukan pada pagi dan sore hari,” sampainya. Waktu IB yang tepat ditandai dengan babi akan merespon jika punggungnya ditekan dengan menunjukkan bentuk tubuh lordosis atau punggung menurun.

 

Selanjutnya, IB dilakukan dengan menggunakan kateter yang diberi pelicin. “Kateter atau gun inseminator dapat berupa spiral, ujung busa, atau intrauterine. Kateter harus bersih dan higienis karena masuk ke organ reproduksi betina. Ketika tidak bersih dan higienis, maka salah satu penyebab kegagalan IB dan pembawa penyakit terjadi di sini,” jelasnya.

 

a melanjutkan, kateter dimasukkan ke dalam organ reproduksi betina dengan posisi miring ke atas sekitar 30 – 45° untuk menghindari kantong urin. Kemudian didorong hingga 15 – 20 cm atau terasa ada hambatan. Selanjutnya, putar berlawanan arah jarum jam agar kateter bisa masuk melewati serviks. Lalu, pasang tube atau botol semen cair pada kateter, dan biarkan semen cair masuk ke dalam serviks dan uterus. IB harus diulang 12 – 14 jam kemudian.ed/shara

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain