Otak - Atik Genetik Itik

Otak - Atik Genetik Itik

Foto: Dok. TROBOS


Perlu upaya melakukan penelitian itik lokal lebih lanjut supaya menghasilkan persilangan dengan heterosis positif. Alhasil, mampu menciptakan itik yang unggul dan produktif
 
Memilih itik menjadi salah satu penyedia pangan hewani sekaligus usaha budidaya merupakan pilihan yang tepat. Pasalnya, selain mudah pemeliharaanya, itik juga lebih adaptif terhadap lingkungan di Tanah Air. Bahkan daging maupun telur itik memiliki pangsa pasar tersendiri sehingga mudah dalam hal penjualannya. 
 
Kendati demikian, sumber daya genetik (SDG) itik yang berada di Tanah Air ragamnya sangat banyak. Peternak umumnya memberikan penamaan jenis itik berdasarkan lokasi dimana itik tersebut dikembangkan. “Misalnya itik Tegal berasal dari daerah Tegal, itik Mojosari berasal dari Mojosari, Mojokerto Jawa Timur. Maupun itik Cihateup sebagai itik lokal yang berkembang di daerah Cihateup, Desa Rajamandala, Kecamatan Raja Polah, Kebupaten Tasikmalaya, Jawa Barat,” ujar Triana Susanti, Penyuluh Madya di Balai Pengujian Standar Instrumen Unggas dan Aneka Ternak, Kementerian Pertanian kepada TROBOS Livestock baru-baru ini. 
 
Triana menerangkan, perkembangan SDG itik menjadi salah satu pangan hewani tidak terlepas dari berkembangnya ayam ras di Tanah Air. Ayam ras yang telah dilakukan persilangan dari beberapa rumpun ataupun galur berdampak terhadap performa ayam ras yang unggul. “Maka dari itu, kami memulai untuk meniru hal itu pada 1988 guna mencari jenis itik yang unggul untuk dilakukan pemurniaan dan persilangan,” ujar Triana. 
 
Triana melanjutkan, pada 1988 berdasarkan beberapa literatur yang telah ada. Dijelaskan bahwa terdapat persilangan antara itik Alabio dengan itik Tegal dan itik Alabio dengan itik Mojosari. Kemudian memasuki 2000-an berdasarkan data pada 1988 dicobakan lagi persilangan itik Alabio dengan itik Mojosari. “Hasilnya, persilangan antara itik Mojosari sebagai pejantan dan itik Alabio sebagai betina menunjukkan heterosis positif. Hingga kini dikenal dengan Itik Master,” ungkap Triana. 
 
Karakterisasi Itik Lokal 
Triana menyebut beberapa itik lokal yang telah dikarakterisasi antara lain itik Magelang (Kalung), itik Tegal, itik Mojosari, itik Mojosari Putih, itik Damiaking, itik Cihateup, serta itik Alabio. Pada itik Magelang baik yang jantan maupun betina ciri yang nampak ialah terdapat bulu putih yang melingkar sempurna di sekitar leher setebal 1-2 cm berbentuk seperti kalung. Tak khayal jika itik Magelang juga disebut dengan itik Kalung. 
 
Karakteristik lainnya pada itik Magelang yakni warna bulu dada, punggung dan paha didominasi oleh cokiat tua dan muda dengan ujung sayap berwarna putih (' plontang' ). Warna kaki hitam kecoklatan, sedangkan paruhnya berwarna hitam. Pada itik Magelang jantan terdapat beberapa helai bulu ekor yang mencuat ke atas yang disebut sex feather yang membuktikan bahwa itik Magelang merupakan domestikasi dari itik Mallard. 
 
Adapun untuk pusat lokasi utama itik Magelang berada di Desa Sempu, Ngadirejo, Kecamatan Secang, Magelang Jawa Tengah. Sementara, lokasi penyebarannya di wilayah Kabupaten Magelang dan sekitarnya, Kabupaten Ambarawa serta Kabupaten Temanggung. 
 
Terdapat literatur yang mengatakan bahwa itik ini selama 12 bulan menghasilkan telur sebanyak 131 butir per ekor dengan konsumsi pakan 195 gram per ekor per hari. Bobot telurnya berada di kisaran 69,5 gram per ekor. Sementara untuk bobot DOD itik Magelang betina 38,2 dengan standar deviasi 3,3 gram per ekor. Adapun bobot itik Magelang jantan per ekor ialah 946 gram per ekor pada umur 8 minggu. 
 
 
Berikutnya itik Tegal bernama latin Anas platyrhynchos javanicus. Ciri spesifik dengan warna bulu yang paling dominan adalah branjangan yaitu kecoklatan pada seluruh bagian tubuhnya yang disertai tutul coklat agak jelas pada dada, punggung, dan sayap bagian luar. 
 
Variasi warna bulu itik Tegal lainnya yaitu lemahan (coklat muda pada leher dan paha disertai tutul coklat yang tidak jelas pada dada, punggung dan sayap bagian luar), jarakan (variasi bulu berwarna abu-abu di leher, abu-abu dengan tutul hitam di dada, punggung, sayap bagian luar dan paha), blorong, putihan, irengan dan jambulan. Sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam.
 
Ciri-ciri lain dari itik Tegal, dijelaskan Triana ialah kepala kecil, bermata merah dengan paruh panjang dan melebar diujungnya, leher langsing, panjang, dan bulat. Sayap menempel erat pada badan dan ujung-ujung bulunya saling menutupi di atas ekor. 
 
Bentuk badannya merupakan contoh dari bangsa Indian Runner, yaitu posisi berdiri yang hampir tegak lurus, tubuh langsing seperti botol, dan langkah tegap. Kakinya pendek dan tegak lurus, terpisah jelas satu dari lainnya. Tumitnya terletak rata di atas tanah dan kakinya dilapisi selaput lunak.
 
Hasil penelitian menyebutkan bahwa Itik Tegal menghasilkan telur dengan bobot 70,8 gram. Adapun bobot DOD betinanya yakni 43,7 gram per ekor. Sementara jantannya pada umur 8 minggu mencapai 1,2 kg per ekor. Pusat lokasi utama itik Tegal berada di Kabupaten Tegal dan Desa Limbangan Utama, Kecamatan Brebes, Jawa Tengah. Sedangkan lokasi penyebarannya terdapat di Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, Sulawesi, Lampung, Aceh bahkan Papua. 
 
Sementara itu untuk itik Mojosari atau itik Modopuro memiliki warna bulu coklat kemerahan dengan beberapa variasi baik jantan maupun betina. Itik Mojosari jantan memiliki beberapa helai bulu ekor yang melengkung ke atas, warna kaki dan paruhnya Iebih hitam daripada itik Mojosari betina. 
 
Warna bulu itik jantan Iebih hitam daripada betina terutama di bagian kepala, leher, dada, dan ekor. Lokasi utama itik Mojosari berada di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Terkait lokasi penyebarannya itik Mojosari berada di sekitar Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Itik ini menghasilkan telur yang relatif kecil dibandingkan dengan itik Tegal dan itik Kalung hanya 60,3 gram per ekor. 
 
Selain itik Mojosari, ada juga itik Mojosari Putih memiliki warna bulu putih mulus tanpa variasi baik jantan maupun betina. Kakinya dan paruh berwarna kuning. Lokasi utama maupun lokasi penyebarannya berada sama dengan itik Mojosari. Ukuran telur dari itik Mojosari Putih sebesar 51,4 gram per ekor. 
 
Berikutnya itik Damiaking yang memiliki karakter warna bulu yang seragam yaitu mirip jerami kering (Dami = jerami; Aking = kering), coklat kekuning-kuningan pada leher, dada, punggung dan sayap luar. Paruhnya pun berwarna hitam serta kakinya berwarna kuning. “Itik Damiaking berada di Kabupaten Serang, Provinsi Banten untuk lokasi utamanya. Sedangkan lokasi penyebarannya berada di sekitaran Provinsi Banten,” terang Triana. 
 
Lebih lanjut, untuk itik Cihateup warna bulu di seluruh tubuh ialah merah bata dengan ujung sayap berwarna putih bercorak batik sehingga dinamakan "beureum selap" atau batik sisi. Warna paruh dan kaki hitam baik jantan maupun betina. Leher Iebih panjang dibandingkan itik lokal Iainnya. “Itik ini dapat berkembang biak di dataran tinggi,” imbuh Triana. 
 
Sesuai dengan namanya, jenis itik ini lokasi asalnya berada di Kampung Cihateup, Desa Rajamandala, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara daerah penyebaran itik berada di Kecamatan Cipatujah dan Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya. Berikutnya ada juga di Kabupaten Garut, lalu di Jawa Tengah bahkan di Lampung. 
 
Terakhir ialah itik Alabio, ciri spesifiknya bedannya relatif besar dengan sikap berdiri tidak terlalu tegak. Paruh dan kaki bewarna kuning baik jantan maupun betina. Sementara warna bulu didominasi warna coklat keabuan dengan tutul agak kuning pada betina dan tutul hitam pada jantan disekitar punggung. Pada betina ujung sayap bewarna biru kehijauan. Sedangkan jantannya bewarna biru jingga. Terlebih, terdapat bulu ekor bewarna hitam dengan beberapa helai mencuat ke atas pada jantan. Pun dengan puncak kepada bewarna hitam. 
 
Adapun lokasi utama dari itik Alabio yakni Desa Mamar, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Itik Alabio telah menyebar tidak hanya di pulau Kalimantan namun juga di Sumatera dan Jawa. Telur Alabio memiliki bobot sekitar 58,4 gram per butir. Sementara bobot DOD jantannya sebesar 41,32 gram dan betinanya sekitar 41,06 gram  
 
SDG Itik Lokal 
Peternak Itik di Solo Raya, Gotot Muhtari menjelaskan bahwa perkembangan SDG itik lokal memiliki ciri khas masing-masing. Sebut saja itik Pantura, itik Tegal, itik Cirebon maupun itik Mojosari. Peternak pun memelihara itiknya berdasarkan jenis itik yang berada di daerah tersebut. Misalnya itik Pengging yang berada di Solo Raya. 
 
Gotot menegaskan tidak jarang peternak enggan memelihara jenis itik lain yang bukan dari daerahnya. Sehingga dengan keragaman jenis itik di beberapa daerah menjadi warna tersendiri bagi peternak yang ingin membudidayakan itik lokal. Karakteristik yang berbeda dari masing-masing daerah menurut Gotot, hal itu sebagai kesuksesan dalam mengembangkan SDG itik lokal. Selain parameter lainnya seperti produksi telur tinggi dan pertumbuhan cepat. 
 
Dijelaskan Gotot, adapun secara kuantitas dapat dilihat dari ukuran telurnya mengingat ada yang super, sedang maupun kecil. “Beberapa jenis itik memiliki ukuran telur yang berbeda. Seperti itik Kalung dengan ukuran telur yang besar. Lalu itik Pengging dengan ukuran telur yang sedang. Adapun telur dengan ukuran kecil dihasilkan itik Mojosari,” sebut Gotot.
 
Lebih lanjut menurut Gotot, itik yang dinilainya bagus ialah itik yang telah dikembangkan oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Unggas dan Aneka Ternak (dahulu Balitnak). Yakni itik Master yang telah diteliti selama 22 tahun. Produksi telurnya juga bagus mendekati 90 %. Berikutnya, rontok bulunya jarang ditemukan. 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 284/ Mei 2023
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain