Sapi Impor Alami Depresiasi

Sapi Impor Alami Depresiasi

Foto: Dok. By Ramdan


Feedloter menurunkan harga jual sapi karena daya beli masyarak rendah dan ditambah gempuran daging impor
 
Gejolak harga yang tak bisa membendung harga sapi di pasaran, menjadi latar belakang Jappdi (Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia) didirikan pada 2021 lalu. Fluktuasi harga yang kian meningkat menjadi faktor utama asosiasi baru ini berdiri. Sebab diketahui, harga daging sapi kerap meningkat di momen-momen seperti Hari Raya Idulfitri, Hari Raya Iduladha, Natal dan Tahun Baru (Nataru).
 
Ketua Umum JAPPDI, Asnawi mengisahkan bahwa JAPPDI ini dibentuk atas masukan dari rekan-rekan pemotong sapi di RPH (Rumah Potong Hewan) dan pedagang daging sapi. “Saya yang membentuk asosiasi JAPPDI dengan teman-teman, dan diminta untuk menjadi ketua umumnya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya JAPPDI adalah contohnya pada 2021 saat JAPPDI terbentuk, di mana baru berjalan kurang lebih tiga bulan sudah menghadapi depresiasi harga yang luar biasa untuk teman-teman pedagang,” kisah Asnawi pada Redaksi TROBOS Livestock. 
 
Deplesi harga pada 2021 tersebut dikarenakan adanya kenaikan fluktuasi harga daging yang luar biasa. Pada September 2021 itu kenaikan harga daging sapi luar biasa. Di mana timbang hidup di feedlot saat itu dari Rp 49.000 per kg menjadi Rp 53.000 per kg, sehingga harga potongan di RPH mulai dari Rp 96.000, Rp 98.000 tiba-tiba naik menjadi Rp 105.000 – 106.000 per kg. Bahkan saat itu belum mengalami Bulan Ramadan dan Idulfitri.
 
Kondisi Pasar Daging
Berdasarkan laporan Asnawi, situasi pasar untuk daging sapi sekarang ini karena pasca pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) hingga 2021, kondisinya tidak begitu bagus. Tetapi kondisi harga sapi tetap tinggi. Ia pun menilai, pasca pandemi ini pasar tengah lesu. 
 
“Normalisasi ekonomi 2022-2023 belum dapat mendongkrak gairah daya jual beli di pasar-pasar, baik itu untuk kebutuhan 9 bahan pokok (beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, jagung, minyak tanah dan garam beryodium) yang sekarang di bawah Bapanas (Badan Pangan Nasional) maupun kedelai untuk tahu dan tempe. Adapun 9 bahan pokok tersebut menjadi komoditas andalan untuk menekan inflasi di hari-hari besar,” sebutnya.
 
Ia mengakui, bahwasanya posisi pasar saat ini benar-benar terpuruk. Sebab  sekarang masyarakat ada yang sudah tidak lagi membuka peluang usaha lagi, saat Covid-19 banyak yang ter-PHK (pemutusan hubungan kerja), dan banyak perusahaan yang bangkrut. Dari situ, banyak dari mereka yang mendapat pesangon, yang dimanfaatkan untuk membuka usaha yang sifat dagangnya daring. 
 
Pedagang mengemas daging itu sendiri, dan membuat showcase untuk dispaly di rumahnya. Kemudian dia menyiapkan alat pendingin, produk dagingnya difoto dan kemudian diunggah ke media sosial, baik di Instagram, Facebook dan seterusnya, sehingga itu menjadi minat daya beli masyarakat yang malas ke pasar. Itu merupakan salah satu pesaing pasar tradisonal, baik pasar rakyat maupun becek. Saat ini tren pasar daring menjadi booming.
 
Dampak Impor Daging Kerbau
Asnawi menjelaskan, seiring waktu sapi eks impor dari Australia tersaingi oleh daging beku kerbau India, saat ini khususnya di 2023 harga potongan daging itu persis lagi di era 2018-2019 sebelum terjadinya Covid-19. Sekarang ini harga potongan daging di RPH itu berkisar antara Rp 94.000 –  98.000 per kg. Ada pula yang harganya Rp 100.000 per kg, tergantung dari kualitas sapinya.
 
Keterangan yang ia dapat dari pelaku usaha feedlot, bahwa mereka sedang menghadapi daya beli yang begitu rendah. Sedangkan mereka menggunakan uang dari perbankan. Adapun sapi hidup ketika pascapanen harusnya sudah tentu dikeluarkan, tiba-tiba tidak dikeluarkan, sehingga otomatis sapi itu tetap membutuhkan makan. Sebab terjadi depresi pasar, sehingga jual beli masyarakat sangat menurun. 
 
Feedlot pun turut terdampak, yang mana akhirnya sapi-sapi di feedlot banyak yang tidak keluar. “Sapi diberi pakan setiap hari karena tidak dikeluarkan, sehingga menambah biaya operasional. Sapi makin besar, sedangkan pasar itu tidak mungkin menerima sapi yang besar, di mana ada yang sampai bobotnya 600-700 kg. Pasar menerima sapi yang bobotnya 450-500 kg, maksimal 600 kg. Itu sudah over HET (harga eceran tertinggi) atau over produksi,” sesalnya.
 
Melihat daripada kondisi itu, Asnawi melanjutkan, jika setiap hari sapi diberi pakan, maka ada biaya tambahan yang keluar seperti membayar listrik, karyawan, hingga bunga bank. Sekarang ini, feedloter kelimpungan mau dilempar ke mana sapi-sapi ‘gemuk’ ini. Akhirnya penurunan harga dilakukan secara jor-joran, yang mana mereka menurunkan harga jual bukan karena faktor harga beli di importir rendah, tetapi karena daya beli atau serapan masyarakatnya rendah sekali.
 
“Terlebih dengan adanya pesaing daging impor beku kerbau India, membuat feedloter itu tidak bisa melakukan perlawanan. Ketika daging kerbau beku masuk, saat itu para importir pun jungkir balik hingga saat ini. Sebab kondisi tren market untuk sapi eks impor mengalami depresi sejak 2017 hingga 2023. Enam tahun mengalami depresiasi yang sangat luar biasa,” tandas Asnawi.
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 289/ Oktober 2023
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain