Menelisik Peran Enzim pada Pakan Ayam

Menelisik Peran Enzim pada Pakan Ayam

Foto: Dok. Pribadi


Enzim merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga diharapkan tingkat kecernan dan penyerapannya akan lebih optimal

 

Pakan merupakan salah satu aspek yang menentukan produktivitas ayam. Nutrisi di dalam pakan menjadi salah satu faktor penting di samping faktor lainnya,seperti manajemen pemeliharaan dan kesehatan yang dapat mempengaruhi performa ayam. Permasalahan yang sering dihadapi adalah variasi kualitas dalam pakan,sehingga pemanfaatan nutrisinya tidak optimal.

 

Berdasarkan data Technical Education and Consultation Medion 2023, sejak Januari hingga Juni 2023,50,55 % kandungan Protein Kasar (PK) pada dedak tidak sesuai standar. Selain itu, 82,89 % Serat Kasar (SK) dedak juga tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. “Perlu digarisbawahi di sini adalah ketika variasi dari kandungan nutrisinya fluktuatif, maka akan mempengaruhi juga kecernaannya,” ungkap Technical Education and Consultation, PT Medion Farma Jaya (Medion), Neneng Arofah melalui seminar dalam jaringan.

 

Ketika kecernaannya menurun, nutrisi yang diserap oleh ternak juga akan turun. Hal ini nanti akan berkaitan dengan produktivitas yang dihasilkan oleh ternaknya, dan juga berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh.

 

“Selain itu, kalau kita lihat dari porsi biaya pemeliharan, ternyata biaya pakan ini cukup besar porsinya mencapai 70-85 % dari total biaya pemeliharaan. Ini salah satu faktor penting juga yang perlu diperhatikan terkait dengan efisiensi dari pemeliharaan ternak kita. Biaya pakan ini akan berkorelasi atau saling terkait dengan biaya bahan pakannya. Ketika bahan pakannya mahal, maka biaya pakan juga akan semakin mahal,” ucap Neneng.

 

Terkait harga bahan pakan, ia melaporkan, tren dari 2021-2023 harga bahan pakan ternyata fluktuatif dan cenderung meningkat atau semakin mahal. Harga bahan baku utama seperti jagung, bekatul dan bungkil kacang kedelai (BKK) berfluktuasi dan relatif mahal.

 

Di samping itu, sering pula dijumpai di lapangan bahwa pada saat melakukan kontrol kualitas dengan uji phloroglucinol, ditemukan terjadinya kontaminasi sekam pada sampel bahan baku pakan contohnya dedak. Semakin meningkatnya cemaran sekam, maka serat kasarnya juga akan meningkat. Tingginya serat kasar ini bisa menurunkan nilai nutrisi yang lain seperti energi metabolisme.

 

Zat Antinutrisi Bahan Pakan

Sekitar 85 % penyusun ransum unggas berasal dari bahan nabati. Contohnya jagung, dedak, pollar, sorgum, bungkil sawit, dan BKK. Namun, ternyata bahan nabati ini mengadung zat metabolit sekunder dari tanamannya, atau sering disebut sebagai zat antinutrisi.

 

Zat antinutrisi ini merupakan senyawa alami yang dihasilkan oleh tanaman. Ini bersifat positif pada tanamannya sebagai perlindungan untuk mencegah infeksi oleh bakteri dan serangga. Namun ketika dikonsumsi oleh ternak,ini bisa sulit dicerna dan dapat menghambat penyerapan nutrisi, seperti mineral, protein, dan karbohidrat.

 

“Ada beberapa jenis antinutrisi yang sering dijumpai di lapangan, mulai dari asam fitat, non strach polisaccharide (NSP), dan protease inhibitor. Asam fitat kerjanya mengikat nutrisi, sehingga dapat menurunkan ketersediaan Ca, P, mineral mikro, dan protein. Efeknya adalah pertumbuhan tulang tidak teratur dan pembentukan kerabang telur tidak optimalpada layer,” ungkap dia.

 

Kemudian, mekanisme kerja dari NSP bisa meningkatkan viskositas atau kekentalan cairan usus yang menyebabkan penyerapan oleh tubuh menurun dan menyebabkan wet dropping (feses basah). Sementara,cara kerja protease inhibtor adalah dengan menghambat kecernaan protein melalui penurunan aktivitas enzim protease,sehingga protein tidak digunakan secara optimal dan performa ternak menurun.

 

Neneng mengatakan, terdapat lebih dari satuzat antinutrisi dalam bahan pakan penyusun ransum. “Misalnya pada jagung mengandung 8,1-8,7 % NSP dan 0,75-2,2 % asam fitat, pada BKK mengandung 4,5-6 % protease inhibitor dan 17,8-31,35 % NSP. Juga pada bekatul yang mengandung 4,28 % asam fitat dan 5,38 % protease inhibitor,” katanya.

 

Neneng mengimbau supaya peternak senantiasa melakukan kontrol kualitas pada bahan pakan yang akan digunakan. Mulai dari kontrol organoleptik, mikroskopis, maupun uji kimiawi. Peternakjuga bisa melakukan treatment tambahan berupa penambahan feed additive. Feed additive yang bisa ditambahkan berupa enzim maupun feed supplement yang lain untuk meningkatkan kualitas dari ransumnya.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 290/ November 2023

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain