Geliat Ekspor Produk Perunggasan

Geliat Ekspor Produk Perunggasan

Foto: 


Ekspor merupakan salah satu langkah hilirisasi penanganan produksi unggas yaitu daging ayam, telur beserta produk turunannya

 

Dalam beberapa bulan terakhir, cukup marak ekspor produk perunggasan seperti telur tetas, telur konsumsi, produk olahan dan karkas ayam ke beberapa negara ASEAN. Diungkapkan Tri Melasari, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, secara umum tujuan ekspor adalah untuk memperkuat perekonomian Indonesia, hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden yakni pertumbuhan investasi dan peningkatan ekspor. “Ekspor dapat meningkatkan devisa negara dan membuka lapangan kerja disektor peternakan,” ujarnya.

 

Sambung Tri, Indonesia memiliki potensi dalam sektor perunggasan, dan ekspor komoditas perunggasan membuktikan adanya daya saing produk unggas Indonesia dengan produk unggas dunia, ekspor juga salah satu langkah hilirisasi penanganan produksi unggas (daging ayam, telur beserta produk turunannya).

 

Ditambahkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan Nasrullah dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, produk unggas Indonesia telah mampu menembus pasar Singapura, Jepang dan mendapat persetujuan ekspor produk Indonesia ke Uni Emirat Arab (UEA), serta terbukanya pasaran HE (Hatching Egg) di Brunei Darussalam. “Artinya selama beberapa tahun ini proses peningkatan nilai tambah dan daya saing bahkan hilirisasi terus berjalan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha dan selera konsumen”, ungkap Nasrullah.

 

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) kinerja ekspor komoditas peternakan dan Kesehatan Hewan pada periode Januari – Juli pada 2023 (angka tetap) senilai USD 790,7 juta setara Rp. 11,4 T, dengan pertumbuhan nilai ekspor meningkat sebesar 9,26 % dan pertumbuhan volume ekspor meningkat 17,28 % dibandingkan periode yang sama pada 2022. "Capaian ini perlu kita syukuri dan perlu diberikan apresiasi terhadap pelaku usaha yang telah memperjuangkan untuk meningkatkan penghasilan devisa buat negara,” pungkasnya.

 

Sementara realisasi ekspor unggas pada 2022 mencapai 1.499 ton dengan nilai transaksi sebesar USD 3,8 juta atau meningkat 47 persen apabila dibandingkan 2021. "Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang mampu mensuplai kebutuhan unggas dan produk turunannya bagi negara lain. Tentunya kita yakin mampu dalam hal penyediaan serta penjaminan keamanan pangan sebagai bentuk jaminan dari negara untuk memberi pangan ke dunia," jelasnya.

 

 Nasrullah katakan pihaknya terus mendorong pelaku usaha perunggasan agar mampu melakukan ekspor dan bersaing di pasar global. “Keberhasilan ekspor ini sebagai kolaborasi dan sinergi semua pihak,” ujarnya. Ia berharap dengan maraknya ekspor produk perunggasan ini mampu menginspirasi peternak, khususnya peternak unggas untuk tetap semangat menjadi pahlawan pangan Indonesia.

 

Produk Unggas

Salah satu perusahaan perunggasan terbesar di Indonesia, PT Charoen Pokphand CPI mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan ekspor telur konsumsi secara masif di seluruh Indonesia. Demikian disampaikan Komisaris PT CPI, Hadi Gunawan Tjoe saat melepas ekspor telur konsumsi sebanyak 557.280 butir ke Singapura (23/08).

 

"Puji syukur karena disaat banyak negara kekurangan telur, di Indonesia justru kelebihan. Kami menyampaikan terimakasih kepada jajaran kementan dan para petani jagung atas dukungan dan kerjasama yang terjalin selama ini," katanya.

 

Sejauh ini, kata Hadi, ekspor produk perunggasan sudah mencapai 1000 kontainer yang dilakukan sejak 2017 mencakup pakan ternak, DOC broiler, daging ayam beku dan telur konsumsi ke berbagai negara seperti Papua Nugini, Singapura, Jepang dan Qatar.

 

 "Kami berterimakasih karena terlibat dalam kegiatan merdeka ekspor beberapa waktu lalu. Kami ucapkan terimakasih kepada jajaran kementan karena keberhasilan ekspor ini terjadi atas kerja keras dan jerih payah semua pihak yang terlibat," katanya.

 

Terkait hal ini, Hadi menghimbau agar para peternak dan pengusaha unggas lainya untuk sama-sama membangun sektor peternakan Indonesia sebagai kekuatan bangsa dalam memperkuat ekonomi nasional. "Saya menghimbau kepada pelaku usaha untuk mengisi pasar yang sangat terbuka ini," katanya.

 

Selain CPI, yang terbaru PT. Malindo Food Delight dengan merek SunnyGold dan Ciki Wiki (varian karage dan nuget) melepas 3 kontainer atau sekitar 18 ton dengan nilai USD 90.000 produk olahan (20/10). Rewin Hanrahan, Direktur PT Malindo Feedmill Tbk mengatakan bahwa dengan pemesanan kembali atau repeat order dari pihak buyer Singapura menandakan bahwa produk dalam negeri mendapat respon pasar yang baik di Singapura, di tengah persaingan yang ketat dan tingkat ekonomi yang belum pulih sepenuhnya.

 

“Ini juga menjadi momentum penting bagi kami, bahwa produk Malindo artinya produk Indonesia bisa menembus negara yang menjadi pusat perekonomian di Asia Tenggara bahkan dunia internasional,” ujar Rewin.

 

Sejak 2020, Malindo dengan produk olahan SunnyGold juga sudah berhasil ekspor ke pasar Jepang. Rewin menargetkan pada November nanti, pihaknya akan mengekspor 2 kontainer ayam beku dan 2 kontainer produk olahan ke Singapura. Ia juga berharap agar ekspor 1 kontainer produk olahan ke United Arab Emirates dan juga ke Jepang dapat segera terlaksana.

 

Selain itu, ia menambahkan, dengan berhasilnya Malindo menembus ekspor ke Singapura yang dikenal sebagai salah satu negara yang sangat ketat dalam kualitas, menjadi bukti bahwa produk Malindo berdaya saing. “Keberhasilan ini tentunya harus melewati serangkaian audit oleh Pemerintah Singapura dalam hal ini adalah Singapore Food Agency (SFA). Audit dilakukan mulai dari farm peternakan ayam pedaging, rumah potong hewan unggas (RPHU) sampai ke pabrik pengolahan,” terangnya.

 

Plt. Mentan Arief Prasetyo mengatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi produsen pangan dunia, salah satunya dengan mendorong para pelaku usaha agar aktif mencari peluang pasar internasional. Selain Jepang, Singapura menjadi salah satu negara yang dikenal ketat akan keamanan pangannya. Keberhasilan produk Indonesia menembus pasar Singapura, dikatakan Arief, sebagai bukti bahwa produk peternakan Indonesia sangat berkualitas. Selain membuka peluang ekspor bagi produk pertanian lainnya, Arief berharap produksi dalam negeri dapat diperkuat sehingga upaya menekan importasi dapat terlaksana secara maksimal.

 

“Kalau produk kita sudah masuk Singapura, sudah masuk Jepang, (negara) yang lain itu mudah sekali, sehingga hari ini kita dorong terus, ekosistem pangan Indonesia. Kita kurangi secara berkala importasi, dorong produksi dalam negeri,” tegas pria yang saat ini kembali menjadi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).

 

Telur Tetas

Indonesia berhasil melakukan ekspor Hatching Egg (HE) atau telur tetas ayam ke Brunei Darussalam. Ekspor perdana HE ke Brunei Darussalam dilakukan oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia sebanyak 45.000 butir telur tetas (HE) atau senilai kurang lebih 400 juta rupiah.

 

“Upaya untuk mengekspor HE ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 2019 silam, namun baru membuahkan hasil pada 2023,” ungkap Nasrullah melalui keterangan tertulisnya (06/10).

 

Selain Japfa, ekspor dilakukan oleh salah satu perusahaan perunggasan terintegrasi lainnya, yaitu PT Super Unggas Jaya sebanyak 58.500 butir HE yang nantinya akan menghasilkan 18.000 ekor Day Old Chick (DOC) Parent Stock (PS).

 

“Telur yang diekspor ini merupakan telur tetas dengan kualitas terbaik dan dihasilkan dari indukan umur yang performa terbaik. Kita semua tentunya berbahagia karena produk peternakan Indonesia berhasil mengirimkan kembali ekspor ke Myanmar,” kata Nasrullah dalam acara seremoni pelepasan ekspor di unit Hatchery PT Super Unggas Jaya yang bertempat di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat (17/9).

 

Direktur PT. Super Unggas Jaya, Han Jung Kyu menyebutkan, bibit yang diekspor merupakan bibit unggulan yang telah lulus serangkaian persyaratan yang diminta oleh negara tujuan ekspor kami yaitu Myanmar, dan strain yang dikirim adalah strain Ross.

 

“Dengan momen ini, berharap supaya perusahaan kami dapat terus berkembang. Selain itu juga kami akan segera merealisasikan ekspor ke negara - negara yang sudah terbuka akses pasarnya seperti ekspor karkas ke Timor Leste, Singapura serta penjajakan  potensi ekspor ke Korea Selatan,” jelas JK Han. Dia sangat berterimakasih kepada pihak pemerintah yang sudah terlibat khususnya Ditjen PKH Kementan. “Kedepannya, mohon untuk dukungannya agar potensi ekspor produk kami dapat terus berkembang sekaligus menambah jangkauan usaha peternakan PT. Super Unggas Jaya,” pungkasnya.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 290/ November 2023

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain