Memahami Penyakit Botulismus pada Hewan

Memahami Penyakit Botulismus pada Hewan

Foto: Istimewa


Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Botulismus merupakan penyakit yang bersifat neuroparalitik disebabkan oleh paparan botulinum toksin (BoNT) yang dihasilkan oleh berbagai biotipe Clostridium botulinum. Penyakit ini dapat menyerang manusia, hewan mamalia, unggas dan ikan. C. botolinum berbentuk batang, gram, berspora oval dan lain sebagainya. C. botulinum terdapat di lingkungan aquatic, feses hewan, invertebrate, tanaman.

 

Mengupas tentang memahami penyakit botulismus, Balai Veteriner Lampung (Bvet Lampung) menggelar webinar Talk Series 10 dengan topik pembahasan ‘Memahami Botulismus pada Hewan : Ancaman, Pencegahan, dan Penanganan’. Acara ini berlangsung secara daring via apilkasi Zoom Meeting. Adapun narasumber dalam kegiatan ini yakni Peneliti Bakteriologi, Pusat Riset Veteriner Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rahmat Setya Adji.

 

Ia menyebutkan, botulismus pada hewan sering juga disebut spinal thypus and shaker foal syndrome (kuda), loin disease and contagious bulbar paralysis (sapi), alkali poisoning and western duck sickness (unggas air). Kasus botulismus pada hewan umumnya disebabkan melalui konsumsi pakan yang mengandung toksinC. botulinum. Adapun gejala klinis yang mirip dari semua hewan seperti inkoordinasi, hilangnya kontrol motorik, paralisis kaki belakang, kesulitan bernapas, anorexia, hipersalivasi.

 

“Kasus botulismus pada hewan di Indonesia jarang dilaporkan. Namun, botulismus yang pernah dilaporkan pada 2001 yakni adanya kematian 100 % pada itik dalam satu hari. Selain itu, ada kasus kematian mendadak 23 ekor sapi peranakan ongole (PO) di Jawa, kemudian serum sapi hidup diuji di Australia dan hasilnya positif,” ujarnya.

 

Rahmat mengungkapkan, diagnosa botulismus berdasarkan gejala klinis, riwayat kejadian, dan deteksi toksin (pemeriksaan laboratorium). Dalam pengujian laboratorium yakni pertama deteksi neurotoksin botulinum (BoNT): mouse lethality assay, non-lethal mouse assay. Kedua metode imunologi. Ketiga isolasi C. botulinum. Keempat molekuler.

 

“Sementara, cara pencegahan botulismus pada hewan yaitu pertama melakukan vaksinasi pada ternak atau hewan peka dengan vaksin C. botolinum (bivalent). Kedua pemberian pakan yang seimbang, menyimpan pakan yang benar, membuang bangkai hewan yang mengkontaminasi pakan, menghindari penggunaan litter sisa peternakan ayam untuk pupuk padang rumput/penggembalaan, menghindarkan pemberian pakan yang dicurigai terdapat BoNT seperti rumput yang busuk,” papar Rahmat.roid

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain