Diagnosa BVD & Diare pada Pedet

Diagnosa BVD & Diare pada Pedet

Foto: By Bella


Bandung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Produksi Susu Segar Dalam Nasional (SSDN) sekarang ini perlu digenjot, sebab kebutuhannya makin meningkat. Terlebih mengingat program minum susu gratis bagi anak sekolah dasar (SD) seperti yang dicanangkan oleh presiden terpilih Indonesia periode 2024-2029, sehingga dalam rangka memenuhinya maka produksi susu harus dikatrol. Produksi susu sapi tentu harus selaras dengan kesehatan ternaknya sejak baru lahir, seperti harus bebas dari penyakit BVD (Bovine Viral Diarrhea) yang menyebabkan penurunan produksi susu pada ternak.

 

Dalam seminar yang diusung oleh PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) dengan topik ‘How to diagnose BVD and Diarrhea in Cattle’ pada Selasa (14/5) di Ibis Hotel Bandung, Jawa Barat, Ketua Umum PDHI, Muhammad Munawaroh menerangkan bahwasanya seminar ini dilatarbelakangi oleh kasus diare pada pedet tidak pernah berhenti. “Kemudian ada kasus juga virus diare yang juga tidak terdeteksi,” jelas pria yang akrab disapa Munawaroh ini kepada Redaksi TROBOS Livestock.

 

Pada seminar ini, PDHI mengundang pembicara dari Korea yakni Median Diagnostic, di mana mereka mengenalkan cara mendiagnosa diare pada pedet. Munawaroh menyebutkan bahwa diare pada pedet bisa disebabkan oleh beberapa macam, yakni Clostridium,E. coli, rotavirus, dan lain-lain. Dengan begitu, peternak akan diberi kemudahan dalam rangka menentukan dari mana sumber diarenya.

 

“Tidak semua diare karena bakteri, yang mana akhirnya semua pengobatan selalu menggunakan antibiotik. Diharapkan dengan adanya Median Diagnostic ini peternak menjadi lebih mudah. Di samping itu, kita juga mengantisipasi adanya kebutuhan sapi depan. Karena dengan adanya pemerintah baru nanti akan ada program pemberian susu gratis, sehingga diperlukan susu yang sehat sebab dari sapi yang sehat dapat memproduksi susu yang baik,” tandas Munawaroh.

 

Pada kesempatan yang sama, CEO Median Diagnostic, Jinsik Oh menerangkan diare pada anak sapi (pedet) kerap terjadi segera setelah lahir hingga usia 2 bulan, yang mana sebagian besar ternak memiliki risiko tertular. Diare pada pedet ini disebabkan oleh kombinasi patogen menular, di mana mayoritas penyakitnya bukan hanya satu penyakit saja, tetapi beberapa penyakit.

 

“Berbagai penyebab penyakit diare pada pedet ialah lingkungan, status gizi dan imunitas, infeksi virus, bakteri dan protozoa, kualitas kandungan, asupan IgG kolostrum, dan lain-lain. Adapun penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak karena tingginya morbiditas, mortalitas, terhambatnya pertumbuhan, dan biaya pengobatan, dengan konsekuensi jangka panjang yang serius. Gejala klinisnya yaitu dehidrasi, diare, kerusakan entrosit, dan lain-lain,” sebut Oh.

 

Menurutnya, cara mengobati penyakit diare pada pedet adalah, pertama terapi cairan. Terapi cairan ini adalah strategi pengobatan yang paling efektif. Kedua, antibiotik parenteral harus digunakan untuk mengendalikan infeksi yang terjadi bersamaan, misalnya penyakit pusar (navel ill) dan difteri pedet (calf diphtheria). Seperti halnya penyakit hewan lainnya, mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Oh mengatakan, rencana kesehatan ternak yang efektif sangat penting guna menjaga kesehatan dan mencegah penyakit yang merugikan. “Keempat, dengan cara divaksin dengan vaksin yang tersedia untuk melawan penyakit menular penyebab diare pada pedet. Namun strategi pencegahan hanya akan berhasil, apabila pedet menerima kolostrum berkualitas baik dalam jumlah yang cukup dalam beberapa jam setelah lahir. Kelima biosekuriti,” terang dia.

 

Salah satu cara mengontrol penyakit diare pada pedet ialah diagnosa yang cepat dan akurat. Median Diagnostic Korea sendiri menghadirkan VDRG BoviDia-5 Ag Rapid Kit. VDRG BoviDia-5 Ag Rapid kit merupakan immunoassay kromatografi aliran lateral guna mendeteksi diferensial virus Corona, Rotavirus, Cryptosporidium, Giardia, Escherichia coli (E. coli K99) pada kotoran sapi. Oh menjelaskan bahwa ini adalah alat diagnostik untuk mendeteksi virus (Coronavirus, Rotavirus), protozoa (Cryptosporidium parvum, Giardia lamblia), dan antigen enteropatogenikE. coli K99.

 

“Tes kit ini merupakan reagen diagnostik yang dapat mendeteksi secara diferensial setiap antigen dengan cepat dan mudah dalam waktu 10 menit usai sampel dijatuhkan. Komponennya di antaranya perangkat BoviDia5 Ag, sampel buffer pengenceran, penyeka (swabs), dan tutup penetes (dropper cap). Adapun sampel yang bisa digunakan ialah feses sapi, usus yang terinfeksi, bakteri atau virus yang dibudidayakan, dan lain-lain,” tandas Oh.

 

Usai pemaparan materi, peserta diminta untuk praktik cara menggunakan kit yang telah disediakan oleh tim Median Diagnostic. Sampel telah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak akan menularkan virus/penyakit ke farm peternak. Di penghujung acara, peserta dan pemateri pun dipersilakan untuk makan siang bersama.bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain