Berbagai Penyakit Parasit pada Hewan

Berbagai Penyakit Parasit pada Hewan

Foto: Istimewa


Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Memang penyakit parasit itu dianggap sebagai penyakit yang sepele, karena kadang kala tidak mematikan seperti bakteri atau virus yang langsung seketika sifatnya akut. Tetapi kalau parasit itu matinya pelan-pelan dan kerugiannya pelan-pelan namun bisa juga kerugiannya menjadi tinggi. Bahkan di Australia sendiri penyakit yang disebabkan oleh parasit itu, kalau diakumulasi per tahun kerugiannya cukup tinggi termasuk parasit endoparasit dan ektoparasit. Selain itu, penyakit parasit itu juga berpotensi zoonosis.

 

Mengupas tentang penyakit Parasit Darah, Balai Veteriner Lampung (Bvet Lampung) menggelar webinar Talk Series 12 bertajuk ‘Memahami Penyakit Parasit Darah pada Hewan: Tinjauan Komprehensif dan Strategi Penanganan serta Pengendaliannya’. Acara ini berlangsung secara daring via apilkasi Streaming Youtube dan Zoom Meeting. Adapun narasumber dalam kegiatan ini yakni Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Fapet UGM), Prof Raden Wisnu Nurcahyo.

 

Ia menjabarkan, kalau dilihat tren parasit hewan dari tahun ke tahun selalu berganti yakni pertama pada 1970 ada kasus penyakit waterborne diseases seperti giardia, entamoeba, balantidium, schistosoma, fasciola, dan dypilidium. Kedua pada 1980 ada kasus penyakit soil transmitted helminth seperti ancylostoma, ascaris, trichuris, dan strongyloides. Ketiga pada 1990 ada kasus penyakitfoodborne diseases seperti Toxoplasma gondii, Neospora caninum, taenia, trichinella, sarcocystis, dan diphylobothrium. Keempat pada 2000 ada kasus penyakit waterborne diseases seperti cryptosporidium, hexamita, enterozytozoon, sarcocystis, balantidium, dan schistosoma. Kelima pada 2010 ada kasus penyakit vectorborne diseases seperti trypanosoma, babesia, theileria, anaplasma, dan malaria.

 

Akhir-akhir ini ternyata benar dari berbagai kajian dan berbagai kasus di berbagai daerah ternyata laporannya mulai banyak terkait dengan vectorborne diseases. Kemungkinan disebabkan karena perkembangan ilmu pengetahuan, peralatan dan metode diagnosa yang semakin baik. Sehingga mampu mendeteksi penyakit ini lebih lebih cepat dan detail dibandingkan sebelumnya.

 

“Sementara itu, kasus-kasus beberapa penyakit yang merebak di negara kita yang terkenal dengan zoonosis. Zoonosis merupakan penyakit yang menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya manusia ke hewan. Ternyata dari 1415 patogen pada manusia, 868 (61 %)-nya adalah zoonosis. Kendati demikian, kita harus juga meningkatkan kewaspadaan. Adapun faktor-faktor yang berperan penting di dalam penularannya seperti pertama hospes intermedier contohnya siput. Kedua hewan-hewan reservoir contohnya tikus. Ketiga vektor contohnya kutu, pinjal, caplak, tungo, lalat, dan nyamuk,” papar Prof Raden.

 

Menurutnya, teman-teman di luar negeri itu sering mengatakan Indonesia itu kaya dengan keanekaragaman hayati dan juga kaya dengan penyakit parasit. Sebab banyak menemukan berbagai macam parasit, apalagi parasit-parasit pada satwa liar yang belum banyak tereksplorasi. Kalau di daerah Jawa kemungkinan hutannya semakin lama semakin habis dan satwa liarnya juga semakin habis. Tetapi kalau di daerah Sumatera dan Kalimantan hutannya masih lumayan banyak. Yang dahulunya itu banyak ditempati satwa liar kemudian karena perkembangan zaman banyak yang migrasi dengan jumlah penduduk yang bertambah banyak. Akhirnya berebut dan penyakitnya tadinya hanya menular ke satwa liar kemudian menular ke manusia yang disebut dengan animal amplification.

 

“Di sisi lain, Asia Tenggara memiliki karakter seperti pertama tingginya dampak perubahan iklim, cuaca ekstrim dan variasinya. Kedua tingginya kepadatan penduduk, alih fungsi lahan untuk pemukiman dan peternakan. Ketiga kaya keragaman hayati dan sekaligus ancaman kepunahannya. Keempat lokasi yang ideal bagi munculnya (re)-emerging infectious diseases,” sebut dia.roid

 

 

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain