Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM) . Peternak broiler (ayam pedaging) rakyat kembali menghadapi tekanan biaya produksi. Memasuki November–Desember 2026, harga bahan baku pakan,berpotensi meningkat hingga kisaran Rp9.000–Rp10.000/kg, sementara harga jagung dan DOC juga masih menjadi tekanan bagi peternak.
Kondisi ini dikhawatirkan kembali menekan harga ayam hidup (livebird/LB) di tingkat peternak. Ketika biaya produksi terus meningkat tetapi harga jual ayam tetap sangat fluktuatif, peternak menjadi pihak yang menanggung risiko terbesar. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Mandiri Indonesia (Permindo), Heri Irawan dalam keterangan press releasenya kepada TROBOS Livestock. Dia menilai pemerintah perlu mengantisipasi kondisi tersebut sebelum tekanan biaya produksi berubah menjadi kerugian peternak.
“Kalau pakan naik, ayam umur sehari (DOC) harganya tinggi dan terbatas, jangan sampai ketika ayam panen justru harga ayam hidup (livebird) yang ditekan. Peternak tidak meminta harga tinggi, tetapi meminta harga yang wajar dan mampu menutup biaya produksi,” ujarnya.
Heri kemukakan Permindo meminta pemerintah memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam ras pedaging di tingkat produsen sebesar Rp 25.000/kg benar-benar menjadi bagian dari mekanisme perlindungan harga peternak, bukan sekadar angka acuan.
Permindo juga mengusulkan pemerintah:
1. Menjaga harga LB agar tidak jatuh jauh di bawah HAP Bapanas.
2. Mengevaluasi HPP broiler secara berkala berdasarkan harga aktual DOC, pakan, jagung, SBM, OVK, energi dan biaya produksi lainnya.
3. Menjamin ketersediaan bahan baku pakan seperti SBM dan jagung pakan dengan harga yang wajar.
4. Memperkuat pengendalian keseimbangan supply-demand agar oversupply tidak terus dibebankan kepada peternak.
5. Membuka dialog rutin pemerintah, integrator, industri pakan dan peternak mandiri sebelum gejolak harga semakin besar.
“Jangan sampai pola yang sama berulang: input naik, HPP naik, tetapi ketika ayam panen harga LB turun. Kalau seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada peternak, keberlanjutan peternak rakyat akan semakin terancam,” tegas Heri.
Menurut Heri, Permindo berharap stabilisasi industri broiler tidak cukup hanya dengan mengendalikan harga input. Keseimbangan antara harga input dan harga output harus dijaga secara bersamaan.
Peternak rakyat tidak meminta harga yang tinggi. Peternak meminta harga yang wajar, transparan dan berkeadilan. “Jangan biarkan kenaikan biaya produksi kembali dibayar dengan jatuhnya harga ayam hidup,” tutupnya. Ia menambahkan saat ini harga doc Rp 7500-9500 /ekor. Harga pakan Rp 9500-10.200/kg loco dan Harga LB Rp 22.500-23.000/kg di kandang. Sedangkan HPP sudah mencapai Rp 24.000/kg. ramdan





