BOGOR. (TROBOSLIVESTOCK.COM). Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) memahami bahwa harga ayam hidup (live bird/LB) merupakan harga pasar yang dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan.
Namun, dalam struktur industri perunggasan Indonesia, konsentrasi populasi dan posisi tawar pelaku usaha besar juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama ketika peternak rakyat memiliki ruang yang terbatas dalam menentukan harga jual ayamnya.
Ketua Umum Permindo, Kusnan, mengatakan kondisi tersebut membuat peternak rakyat menghadapi tekanan ganda.
“Kami memahami harga pasar itu dinamis. Kami juga tidak ingin pemerintah diposisikan seolah-olah harus menentukan setiap harga ayam. Harga adalah bagian dari mekanisme pasar. Tetapi kita juga harus melihat struktur pasarnya. Ketika populasi dan posisi tawar terkonsentrasi pada pelaku-pelaku tertentu, sementara peternak rakyat berada di sisi yang lemah dalam menentukan harga LB, tekanannya menjadi sangat berat.”»
Menurut Permindo, karena harga jual LB sulit dikendalikan oleh peternak, maka ruang intervensi yang lebih realistis adalah menekan biaya produksi, salah satunya bahan baku pakan.
«“Kalau harga jual tidak sepenuhnya berada dalam kendali peternak, jangan semua beban diserahkan kepada peternak untuk menyesuaikan diri. Kita harus mengelola sisi yang memang bisa dikelola. Salah satunya adalah bahan baku pakan.”
Permindo mendorong adanya mekanisme pengadaan dan tata kelola bahan baku pakan yang lebih efisien, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi peternak rakyat.
“Jangan hanya sibuk memperdebatkan harga ayam ketika peternak sudah tertekan. Mari masuk ke hulunya. Bahan baku pakan itu ada ruang untuk dikelola dalam hal pengadaan, stok, distribusi, efisiensi logistik, bahkan penguatan kelembagaan peternak dalam pembelian,” jelasnya.
Menurut Kusnan, penurunan biaya input akan memberikan manfaat yang lebih fundamental karena dapat menurunkan harga pokok produksi (HPP) dan meningkatkan daya tahan peternak menghadapi fluktuasi harga LB.
“Kalau HPP bisa ditekan, peternak mempunyai napas yang lebih panjang. Ketika harga LB bagus, peternak mendapatkan ruang usaha yang lebih sehat. Ketika harga LB turun, kerugiannya juga tidak langsung menghantam modal secara terlalu dalam,” paparnya.
Permindo juga mendorong pemerintah untuk memperhatikan struktur pasar dan keseimbangan posisi tawar dalam industri perunggasan, bukan semata-mata memantau harga di tingkat konsumen.
“Yang perlu kita bangun bukan hanya mekanisme untuk melihat berapa harga ayam hari ini. Kita juga perlu melihat siapa yang memiliki posisi tawar dalam pembentukan harga, bagaimana distribusi populasi, bagaimana aliran pasokan, dan bagaimana posisi peternak rakyat di dalam rantai tersebut.”
Kusnan menegaskan bahwa Permindo tidak sedang meminta pemerintah untuk melawan mekanisme pasar.
“Kami tidak sedang meminta pasar dihapus atau harga dipaksakan. Kami ingin pasar berjalan dengan sehat dan peternak mempunyai kemampuan bertahan. Kalau harga pasar dinamis, mari kita perkuat efisiensi di sisi input. Kalau posisi tawar tidak seimbang, mari kita perkuat kelembagaan peternak.”
“Kita tidak bisa mengendalikan semuanya. Tetapi jangan sampai sesuatu yang sebenarnya masih bisa kita kelola justru kita biarkan menjadi beban peternak,” lirihnya.
Permindo berharap pemerintah, industri pakan, perusahaan perunggasan, koperasi, dan kelembagaan peternak dapat duduk bersama mencari mekanisme konkret untuk memperbaiki efisiensi bahan baku pakan dan memperkuat posisi tawar peternak rakyat.
“Harga ayam boleh dinamis. Pasar boleh bergerak. Tetapi peternak juga harus diberi kesempatan untuk menjadi lebih efisien dan memiliki posisi tawar yang lebih sehat. Itu yang kami perjuangkan,” tutupnya.




