Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM).Kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi harga jual semakin menekan usaha peternakan. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan peternak broiler (ayam pedaging) di Keboen Kopi di Bogor, Jawa Barat. Menurut Kusnan, Ketua Umum Permindo (Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia) bahwa kondisi saat ini membutuhkan kerja sama antara peternak, pelaku pemasaran, perusahaan, dan asosiasi untuk menemukan solusi bersama.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat pengawasan harga dan distribusi dari hulu hingga hilir. “Jangan sampai kebijakan penurunan harga hanya menjadi kesepakatan di atas kertas, sementara peternak terus merugi dan masyarakat tetap terbebani,” jelasnya.
Lalu, stabilitas harga harus diwujudkan melalui pengawasan yang nyata, distribusi yang transparan, serta keseimbangan antara keberlangsungan usaha peternak dan daya beli masyarakat. “Bagi yang melanggar harus mendapat sanksi, sehingga stabilitas harga dapat terlaksana,” ujar Kusnan.

Menurut Harry Bromo, pengurus Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) bahwa pengawasan harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Bukan berarti kami tidak percaya kepada Satgas maupun pihak-pihak terkait lainnya, tetapi dengan adanya pengawasan bersama, potensi terjadinya fraud atau kesalahan dapat diminimalkan,” jelasnya.
Oleh karena itu, sambungnya, seluruh asosiasi perlu bersatu padu, bersama pemerintah saling bahu-membahu, serta didukung oleh Satgas. “Kami juga dapat berkontribusi dengan memberikan informasi yang akurat dan tepat di lapangan. Dengan sinergi dan keterbukaan informasi dari semua pihak, insyaallah harga dapat lebih terkontrol,” paparnya.
Ia menambahkan jadi, masing-masing pihak memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang valid dan melakukan pengawasan bersama agar pengendalian harga dapat berjalan dengan baik.
Dalam pertemuan ini pun, peternak broiler asal Bogor, Hartono menghimbau dalam menjual harga broiler per hari ini (29/10) harus di kisaran harga Rp 22.000 per kg ukuran 1,6- 1,8 kg dan untuk ukuran 1,4- 1,6 kg di harga Rp 22.500 per kg dan setiap hari diharapkan kenaikan Rp 500 per kg.
Ditambahkan Muslihin, pengurus Pinsar Indonesia bahwa hari ini (29/10) harga bisa mencapai Rp 22.000 per kg. Sebab, kemarin kondisinya cukup parah, dengan harga hanya berkisar Rp 18.500 hingga Rp 19.000 per kg. “Hari ini kami berupaya mendorong harga ke level Rp 22.000 per kg, meskipun angka tersebut belum menghasilkan keuntungan karena HPP kami berada di angka Rp 23.000 per kg,” tuturnya.
Dalam satu hingga dua hari ke depan, ia berharap harga bisa naik lagi sekitar Rp 500 per kg, sehingga pada hari Senin mendatang dapat mencapai Rp 23.000 per kg. “Pada level tersebut, kami baru berada di titik impas atau break-even, belum memperoleh keuntungan. Setelah itu, barulah kami berupaya mencapai harga yang memberikan keuntungan,” sebutnya.
Pencapaian target harga ini menurutnya sangat bergantung pada kekompakan para peternak ayam. “Saya sudah berkomunikasi dengan beberapa peternak lain dan mereka mendukung upaya tersebut. Karena itu, kami berharap target harga tersebut setidaknya dapat tercapai di wilayah Jabodetabek,” tutupnya. ramdan




