Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Dalam rangka mendukung ketahanan dan keamanan pangan asal hewan berbasis penelitian di Indonesia, Badan Riset bersama Inovasi Nasional dan Food and Agriculture Organization (FAO) menggelar konferensi internasional bertajuk “International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation: Collaborative Solutions for Global Nutrition Resilience and Economic Growth”. Acara ini berlangsung pada Jumat hingga Sabtu (27-28/3) di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta Pusat.

Membuka acara, Chairman of Organizing Committee BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengungkapkan bahwa program peningkatan kapasitas yang diselenggarakan pada 25-26 Maret lalu dihadiri oleh sekitar 80 peserta yang mewakili negara-negara Asia Tenggara, termasuk para peneliti, kementerian (termasuk Kementerian Pertanian), serta universitas. “Pada saat yang sama, kelompok teknis mempertemukan sekitar 30 pakar internasional terkemuka yang memberikan kontribusi berupa wawasan ilmiah dan memperkuat landasan metodologis, khususnya dalam penilaian siklus hidup (life cycle assessment), inventarisasi gas rumah kaca, serta sistem agroindustri berkelanjutan,” ia melaporkan.
Sementara itu, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Arial, mengungkapkan bahwasanya sistem peternakan memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan, meningkatkan efisiensi, mendukung pengelolaan lahan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. “Saat ini, kita berada pada era yang menghadapi tantangan yang kompleks, seperti meningkatnya permintaan pangan asal hewan, penyakit hewan, serta tekanan lingkungan yang menguji ketahanan sistem peternakan. Menanggapi tantangan tersebut, diperlukan sistem peternakan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan inklusif, yang mampu mendukung mata pencaharian sekaligus melindungi lingkungan,” kata Rajendra secara virtual karena berhalangan hadir secara langsung.

Lebih lanjut, FAO’s Assistant Director-General, Director of Animal Production and Health, and Chief Veterinarian, Thanawat Tiensin, menegaskan bahwa sains/ilmu pengetahuan harus mampu memecahkan masalah, meningkatkan kualitas hidup, dan tidak boleh hanya berada di ruang terbatas; ilmu pengetahuan harus menciptakan peluang usaha, menghasilkan nilai ekonomi, serta memperbaiki kehidupan dan lingkungan.
“Peran organisasi di sini juga penting untuk memastikan bahwa hasil tersebut dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh sektor swasta maupun dunia usaha. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir FAO telah melakukan perubahan. Kami membentuk inisiatif keberlanjutan sektor peternakan di FAO untuk memastikan terciptanya berbagai peluang dalam sektor peternakan di seluruh dunia,” ungkap Thanawat.

Berikutnya, Kepala BRIN, Prof Arif Satria, menguraikan bahwa konferensi internasional ini merupakan kerja sama antara FAO dan BRIN dalam rangka untuk meningkatkan kemitraan (partnership) secara global dalam bidang riset dan inovasi guna mendukung keamanan pangan (food security), terutama ketersediaan susu. “Ini adalah pertemuan yang penting dan strategis seiring dengan program pemerintah terkait food security dan juga menyukseskan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang harus kita dukung dengan inovasi dan dengan riset-riset yang nyata,” tekan Arif.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Prof Rachmat Pambudy, menyatakan bahwa kemajuan sektor pertanian dan subsektor peternakan itu dimulai dari penelitian yang intensif. Peran BRIN untuk membangun peningkatan produktivitas peternakan nasional, mulai dari perunggasan hingga ruminansia itu sangat signifikan. Oleh karena itu, inisiatif BRIN untuk melakukan pertemuan ini sangat penting dan hasilnya akan terlihat di masa yang akan datang.

Acara dilanjutkan dengan peluncuran GLEAM – A modelling framework for livestock and environment interactions, yang diresmikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda serta FAO Livestock Representative, Dominik Wiesser. Pada hari berikutnya, dilanjutkan dengan acara FAO-IDF (International Dairy Federation) Paris Declaration on Sustainable Dairy Development.bella




