TANGERANG SELATAN (TROBOSLIVESTOCK.COM).Pemuda Tani Indonesia bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menggelar Indonesia Agri-Future Forum 2026 di Business Program Area Indogritech, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City pada Jumat (6/11) masih dalam gelaran NLP Expo dan INDOGRITECH 2026. Kegiatan seminar ini mengusung tema “Digitalisasi Pertanian dan Resiliensi Pekerja Migran Terampil Memperkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan”, forum ini mempertemukan petani, pengusaha tani muda di sektor pertanian, pengambil kebijakan, serta kalangan akademisi untuk membahas percepatan transformasi pertanian nasional melalui teknologi, inovasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Sekretaris Jenderal DPP Pemuda Tani Indonesia, Suroyo, dalam pembukaan menegaskan bahwa swasembada pangan berkelanjutan membutuhkan regenerasi petani yang berjalan seiring dengan modernisasi pertanian. Regenerasi petani yang kokoh harus di dorong oleh peningkatan kesejahteraan pegiat pertanian. “Kebijakan Pertanian Presiden Prabowo berada dijalan yang benar. Peningkatan kesejahteraan petani tercermin dari indikator ekonomi terkini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Oktober 2026 mencapai 132,60 yang merupakan angka tertinggi sejak pencatatan BPS dalam 34 tahun terakhir”, ujar Suroyo.
Senada dengan itu, Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala BP2MI, yang menjadi pembicara kunci, menyampaikan bahwa Swasembada Pangan Berkelanjutan sejurus dengan upaya resiliensi pekerja migran terampil.
“Pemerintahan Presiden Prabowo telah memfasilitasi migrant care diberbagai daerah. Dimana kita perkuat kerjasama untuk mengawal swasembada pangan berkelanjutan”, terang Dzulfikar. Salah satu langkah yang dilakukan yakni, Purna Pekerja Migran Indonesia dilatih untuk mengembangkan pertanian. Kemudian meningkatkan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia.
“Pekerja Migran kita banyak yang ahli pertanian dan sukses di luar negeri. Seperti di Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Mereka bisa kita dorong untuk mengembangkan di Indonesia”,pungkasnya yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPN HKTI Bidang Digitalisasi Pertanian ini.
Ia menambahkan bahwa penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern perlu diperluas guna meningkatkan efisiensi produksi, menekan biaya usaha tani, dan memperkuat produktivitas. Di sisi lain, petani juga harus didorong pada pola usaha pasca panen, pengolahan hasil, hilirisasi, serta pengembangan produk bernilai tambah.
Ikut angkat bicara Epi Sulandari, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum BULOG, memaparkan pentingnya Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dalam menjaga keseimbangan pasokan dan konsumsi nasional. “BULOG mencatat pengadaan beras telah mencapai 4,29 juta ton atau 107,4 persen dari target 2026, dengan stok yang terjaga sebesar 4,55 juta ton. Penguatan tata kelola juga dilakukan melalui digitalisasi sistem ERP Odoo, aplikasi My RPK, dan BELLA untuk mendukung distribusi serta keterlacakan stok”, terangnya.
Sementara itu, Heru Saoping (Hexsa), CEO Greenpace sekaligus technopreneur, menjelaskan pemanfaatan teknologi deep-tech untuk mengolah biomassa kelapa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. “Melalui teknologi reaktor gasifikasi retort, limbah biomassa diolah dengan pendekatan zero-waste menjadi produk seperti briket shisha premium dan asap cair food-grade. Inovasi tersebut membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas kelapa sekaligus memperkuat potensi produk turunan untuk pasar ekspor”, tuturnya.
Ikut menyampaikan penuturan Muhammad Teguh Arrosid, Owner P4S Bumi Teduh sekaligus petani Gen-Z, membagikan pengalaman menerapkan smart farming berbasis Internet of Things (IoT) dan panel surya dalam budidaya cabai.
Teguh menekankan penerapan teknologi tersebut terbukti meningkatkan produktivitas hingga 28 persen dan menurunkan biaya produksi hingga 30 persen. Selain itu, P4S Bumi Teduh juga mengembangkan hilirisasi bunga telang dan ekowisata pertanian edukatif yang telah menarik lebih dari 1.000 kunjungan pemuda sepanjang 2026.
Pemuda Tani Indonesia dan HKTI berharap agar transformasi pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi semata, tetapi juga menyentuh efisiensi usaha, penguatan regenerasi petani, dan peningkatan pendapatan.
Kolaborasi kebijakan pangan, penguatan Pekerja Migran, pemanfaatan teknologi, modernisasi alsintan, serta pengembangan industri pengolahan hasil pertanian menjadi fondasi utama dalam membangun sektor pertanian yang kompetitif dan menopang swasembada pangan berkelanjutan.diana





