Kamboja (TROBOSLIVESTOCK.COM). Langkah penguatan sektor peternakan terus dilakukan pemerintah dengan menitikberatkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang bioinformatika. Upaya ini diwujudkan melalui pengiriman tim teknis Balai Besar Veteriner (BBV) Wates untuk mengikuti pelatihan internasional yang berlangsung pada 23 Februari hingga 6 Maret 2026 di Phnom Penh, Kamboja.
Pelatihan bertajuk ‘Tim Bioinformatika BBV Wates Ikuti Pelatihan di Institute Pasteur du Cambodge’ tersebut dirancang sebagai bagian dari strategi nasional dalam memperkuat sistem deteksi dini penyakit hewan. Melalui pendekatan ini, diharapkan proses identifikasi penyakit dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat sehingga potensi kerugian peternak dapat diminimalkan.
Kegiatan berlangsung di Institute Pasteur du Cambodge dengan melibatkan kolaborasi lintas lembaga internasional. Program ini didukung oleh FAO ECTAD Indonesia serta Australia-Indonesia Centre for Disease Preparedness yang berfokus pada penguatan kapasitas teknis dan riset penyakit hewan.
Selama pelatihan, peserta dibekali kemampuan analisis data genomik yang menjadi fondasi dalam kegiatan surveilans dan penelitian penyakit. Penguasaan teknologi tersebut dinilai semakin penting seiring meningkatnya kompleksitas tantangan kesehatan hewan di lapangan.
Koordinasi pelatihan dilakukan oleh Eric Karlsson selaku Deputi Kepala Bagian Virologi, sementara materi teknis disampaikan oleh Giorgio Gonnella yang berpengalaman di bidang bioinformatika dan kecerdasan buatan. Peserta memperoleh pemahaman mendalam terkait pengolahan data serta pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung diagnosis penyakit.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menilai penguatan kapasitas ini sebagai langkah strategis dalam menghadapi ancaman penyakit hewan. Ia menekankan bahwa investasi pada bioinformatika akan meningkatkan ketepatan dan kecepatan layanan diagnostik di laboratorium veteriner.
“Penguatan kapasitas bioinformatika ini merupakan investasi penting untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis penyakit hewan. Dengan sistem deteksi yang lebih dini dan presisi, kita bisa melindungi ternak peternak dari potensi wabah dan menekan kerugian ekonomi di tingkat peternak,” ujar Hendra di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (30/3).
Ia juga menggarisbawahi bahwa peningkatan kompetensi SDM turut memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring kesehatan hewan regional. Menurutnya, kesiapan teknologi dan tenaga ahli akan mendorong peran BBV Wates sebagai laboratorium rujukan di kawasan.
“Dengan peningkatan kompetensi SDM dan teknologi yang kita miliki, BBV Wates semakin siap menjadi laboratorium referensi bioinformatika di tingkat ASEAN. Ini penting agar Indonesia tidak hanya mampu melindungi peternaknya sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam sistem kewaspadaan dan respons penyakit hewan di kawasan,” ungkap Hendra.
Dampak dari penguatan kapasitas ini dirasakan langsung oleh peternak melalui peningkatan kualitas layanan diagnostik. Dengan kemampuan analisis yang lebih canggih, deteksi penyakit dapat dilakukan lebih dini sehingga penanganan di lapangan menjadi lebih efektif.
Pemerintah menegaskan bahwa penguatan SDM laboratorium merupakan bagian dari komitmen dalam melindungi keberlanjutan usaha peternakan. Sistem diagnostik yang andal tidak hanya menjaga kesehatan hewan, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas produksi dan pendapatan peternak.shara




