Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). U.S. Soybean Export Council (USSEC) memperingati 45 tahun kemitraan antara U.S. Soy dan Indonesia, sekaligus merayakan hubungan yang telah turut membentuk perkembangan industri pangan, pakan, dan akuakultur di Indonesia. Selama beberapa dekade, Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar paling strategis bagi U.S. Soy, yakni sebagai negara pengimpor kedelai terbesar di Asia Tenggara untuk kebutuhan pangan serta salah satu importir kedelai utuh asal Amerika Serikat terbesar di dunia1.
Pencapaian ini mencerminkan kemitraan yang dibangun atas dasar kolaborasi, pertukaran pengetahuan dan keahlian teknis, serta komitmen bersama untuk mendukung perkembangan sektor pangan dan pertanian Indonesia yang terus berkembang. Seiring dengan pertumbuhan industri di Indonesia, U.S. Soy tetap berkomitmen untuk menjalin kolaborasi dengan pemerintah, mitra industri, dan pelanggan guna memperkuat ketahanan pangan, keberlanjutan, serta pengembangan pasar dalam jangka panjang.
Kemitraan atas Dasar Kualitas & Kemajuan Bersama
Selama empat setengah dekade terakhir, U.S. Soy dan Indonesia telah membangun kemitraan yang ditandai dengan kualitas, konsistensi, dan keberhasilan bersama. Saat ini, U.S. Soy telah menyumbang hampir 90 %2 dari total kedelai impor yang digunakan di Indonesia. Sebagian besar kedelai tersebut diolah menjadi produk pangan tradisional berbahan dasar kedelai. Hal ini menegaskan tingginya kepercayaan pelanggan Indonesia terhadap U.S. Soy sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan kemitraan yang telah terjalin selama ini.
Permintaan Indonesia yang telah berlangsung lama terhadap kedelai berkualitas tinggi, disertai dengan pertumbuhan sektor pakan dan akuakultur, mencerminkan kuatnya kemitraan antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia. Menunjukkan perkembangan positif tersebut, ekspor kedelai AS ke Indonesia meningkat sebesar 348.000 metrik ton, dengan pangsa pasar yang diproyeksikan naik dari 88 % menjadi lebih dari 90 % pada tahun pemasaran berjalan (1 September 2025–31 Agustus 2026)³.
Direktur Eksekutif Asia Timur USSEC, Carlos Salinas, menyebutkan bahwa Indonesia telah lama menjadi mitra utama bagi U.S. Soy di Asia Tenggara. Kemitraan ini semakin kuat berkat kemajuan dan kepercayaan bersama yang telah terbangun selama beberapa dekade. “Selama 45 tahun, kami telah bekerja sama secara erat dengan pelanggan dan mitra industri di Indonesia untuk mendukung perkembangan industri pangan dan pakan melalui inovasi, keahlian teknis, serta pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Carlos.
Memperluas Peluang melalui Kolaborasi Strategis
Tradisi panjang masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi tempe dan tahu terus mendorong permintaan terhadap kedelai berkualitas tinggi. Konsumsi kedelai juga semakin meluas, tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga ke pulau-pulau besar lainnya seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Seiring dengan semakin beragamnya pemanfaatan kedelai di luar kebutuhan pangan tradisional, berbagai peluang baru mulai terbuka di subsektor peternakan dan akuakultur Indonesia. Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 6,0 juta metrik ton bungkil kedelai setiap tahun untuk kebutuhan pakan ternak, dengan permintaan yang diproyeksikan meningkat sebesar 29 % pada 2035⁴. Sementara itu, penggunaan kedelai dalam pakan akuakultur diperkirakan meningkat sebesar 71 % pada 2035⁵. Hal ini mencerminkan pertumbuhan produksi hasil laut Indonesia serta meningkatnya kebutuhan terhadap bahan baku sumber protein berkualitas tinggi.
Kemitraan USSEC dengan berbagai organisasi industri di Indonesia telah memperkuat pengetahuan teknis, mendorong pemanfaatan U.S. Soy dalam produk pangan tradisional berbahan dasar kedelai, serta mendukung pengembangan rantai nilai kedelai di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan lokal, asosiasi industri, dan Departemen Pertanian Amerika Serikat atau United States Department of Agriculture (USDA), USSEC terus mendorong pertukaran pengetahuan teknis, pengembangan pasar, serta dialog mengenai perkembangan prioritas perdagangan dan kebijakan.
Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan di Seluruh Rantai Nilai
Seiring dengan perkembangan industri pangan dan pakan Indonesia, keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama dalam kemitraan antara AS dan Indonesia. Program seperti U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol (SSAP) dan label Sustainable U.S. Soy memberikan jaminan yang telah diverifikasi secara independen. Kedua inisiatif ini mendukung komitmen Indonesia terhadap praktik pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab, ketertelusuran produk, serta pembangunan rantai pasok yang tangguh.
Komitmen ini mencerminkan misi USSEC yang lebih luas, yaitu memperkuat kemitraan jangka panjang, mempromosikan U.S. Soy yang diproduksi secara berkelanjutan, serta mendukung pelanggan dalam memenuhi kebutuhan sistem pangan dan pakan modern.
“Selama beberapa dekade, U.S. Soy telah bekerja sama dengan berbagai mitra di seluruh dunia untuk membangun rantai pasok yang andal dan berkualitas tinggi. Indonesia merupakan bagian penting dari upaya global tersebut,” ujar CEO USSEC, Jim Sutter.
Menurut Jim, seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan pangan dan pakan secara global, pelanggan semakin membutuhkan bahan baku yang dapat diandalkan serta hubungan kemitraan yang tepercaya. “USSEC berkomitmen untuk mendukung Indonesia melalui penyediaan solusi berkelanjutan, dukungan teknis, serta konsistensi yang dibutuhkan oleh sistem pangan dan pakan modern,” tandasnya.
Melangkah Bersama Menuju Masa Depan
Seiring dengan terus berkembangnya industri pangan dan pakan Indonesia, U.S. Soy berkomitmen untuk mempererat kolaborasi, mendorong produksi berkelanjutan, serta mendukung pembangunan rantai pasok yang tangguh dan memberikan manfaat bagi produsen, pelaku industri manufaktur, maupun konsumen.
USSEC akan terus bekerja sama dengan instansi pemerintah, mitra industri, dan pelanggan untuk mendorong inovasi, memperluas pertukaran pengetahuan teknis, serta menciptakan peluang-peluang baru yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pembangunan sektor pertanian Indonesia dalam jangka panjang.
Tentang USSEC
U.S. Soybean Export Council (USSEC) berfokus pada upaya membangun diferensiasi, meningkatkan preferensi pasar, serta memperluas akses pasar bagi pemanfaatan U.S. Soy untuk konsumsi manusia, akuakultur, dan pakan ternak di lebih dari 90 negara di seluruh dunia. Anggota USSEC mewakili seluruh rantai pasok kedelai, termasuk petani kedelai AS, perusahaan pengolah, eksportir komoditas, pedagang, perusahaan agribisnis terkait, serta organisasi pertanian.
USSEC didanai melalui U.S. Soy Checkoff, dana pendamping dari Foreign Agricultural Service (FAS) di bawah USDA, serta dukungan dari industri. Kunjungi www.ussec.org untuk memperoleh informasi terbaru mengenai USSEC dan U.S. Soy di berbagai negara.bella
Catatan Sumber Data:
¹ USSEC Market Snapshot 2026.
² Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pangsa pasar tahunan U.S. Soy selama periode 2019 – 2025.
³ Data Badan Pusat Statistik (BPS).
⁴ USSEC Market Snapshot 2026.
⁵ USSEC Market Snapshot 2026.






