Livestock Free Ads
iklan banner website Zhejiang Maret scaled

Sebuah Pilihan

 

Isu kesejahteraan hewan (animal welfare) dan hak-hak hewan (animal rights) yang kian mengemuka di kancah global. Di negara-negara maju seperti Australia dan Eropa, gerakan ini telah menjadi arus utama selama dua dekade terakhir, mendorong perubahan paradigma dalam praktik pemeliharaan ayam ras. Indonesia, dengan warisan budaya peternakan ayam kampungnya, sejatinya telah mempraktikkan konsep-konsep ini jauh sebelum menjadi diskursus global.

Disamping  tuntutan akan kebutuhan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), kini mulai menjajaki level yang lebih tinggi. Terlebih untuk pangan hewani, kini sudah banyak masyarakat atau konsumen yang melek akan aspek kesejahteraan hewan (kesrawan) dan keberlanjutan (sustainability). Diyakini bahwa ternak yang terjaga kesrawannya saat proses budidaya, maka mereka akan menghasilkan produk yang lebih baik dan sehat.

Saat ini yang mulai tren yaitu pemeliharaan telur bebas sangkar atau (cage-free eggs). Produk telur bebas sangkar ini dihasilkan dari budidaya layer (ayam petelur) dengan sistem kandang umbaran/bebas sangkar (cage-free). Di Eropa sendiri beberapa sistem cage-free yang berkembang adalah Aviary System – ayam berada di dalam closed house (kandang tertutup), namun bebas berkeliaran di dalam. Free-Range System – ayam memiliki akses ke area terbuka berpagar, di mana mereka bisa terpapar sinar matahari dan mencari pakan alami. Pasture-Raised System – ayam dilepasliarkan sepenuhnya di padang rumput, mencari pakan sendiri, mirip ayam kampung di pedesaan.

Untuk pasarnya sendiri, telur ini mempunyai segmentasi pasar tersendiri, misalnya hotel dan restoran yang berafiliasi internasional. Walaupun, ada KWT (Kelompok Wanita Tani) di Yogyakarta yang telah memproduksi telur cage-free untuk masyarakat sekitarnya.

Tantangan di Indonesia, suplainya masih sangat terbatas. Di industri layer nasional masih sangat didominasi oleh peternak yang menggunakan kandang konvensional. Sebenarnya sistem cage-free bukan untuk menggantikan sistem konvensional, tetapi untuk mengintroduksi bahwa ada pemeliharaan layer dengan opsi lain, baik untuk peternak maupun konsumen.

Tidak hanya di suplai dalam pemeliharaannya pun mempunyai tantangan, seperti yang diceritakan Prof Ali Agus beserta team di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dengan label “Telur Ayam Bahagia” bahwa ada banyak tantangan yang dihadapi sejak level riset murni sampai pada ujicoba di lapangan. Pertama, deteksi produktivitas dan kesehatan individu. Dalam kandang cage-free, sulit mengidentifikasi ayam yang tidak bertelur atau sakit. Ini PR besar. Petugas kandang harus sensitif terhadap tanda-tanda ayam sakit, melalui perilaku, warna jengger/pial, paruh, bulu, mata, dropping/kotoran dll.

Ayam yang terdeteksi sakit atau kurang produktif, masuk ke kandang karantina. Kedua, pengendalian penyakit lebih sulit, karena ayam bebas berinteraksi. Penyakit berpotensi menyebar lebih cepat, sehingga membutuhkan biosekuriti dan manajemen kesehatan terutama preventif yang kuat.

Ketiga, kebutuhan pakan yang lebih tinggi. Ayam cage-free jauh lebih aktif, bergerak, dan bersosialisasi, yang berarti kebutuhan energi dan pakan mereka lebih tinggi. Belum lagi persoalan pakan tumpah dan risiko kanibalisme yang cermat dikelola. Keempat, formulasi pakan khusus untuk menghasilkan telur yang kaya manfaat dan berstatus sebagai makanan fungsional. Jangan terkecoh promosi yang tidak akurat, karena jika pakan layer cage-free formulanya sama dengan pakan ayam baterai, kualitas dan kandungan nutrisi telurnya pun tidak akan jauh berbeda.

Tetapi saat ini, Ekosistem cage-free mulai mendapat perhatian di Indonesia. Dukungan dari berbagai organisasi seperti LSM penyayang binatang dan Global Food Partners telah membantu pembentukan Indonesian Cagefree Association (ICFA). Pengusaha, dari skala kecil hingga besar, mulai tertarik membudidayakan sistem ini. Terlebih lagi, komitmen perusahaan multinational food and beverage untuk beralih ke telur cage-free mulai 2026 diharapkan akan menjadi pendorong signifikan.

Namun, ini adalah proyek jangka panjang. Banyak Standar Operasional Prosedur (SOP) detail yang harus dipatuhi. Ini adalah satu paket yang tidak bisa ditawar, pakan dan manajemen pemeliharaan harus mengikuti SOP. Pasar juga harus segera disiapkan, mengantisipasi berbondongnya peternak mengadopsi sistem cage-free. Edukasi adalah kunci agar masyarakat memahami bahwa “Telur Ayam Bahagia” bukan sekadar label, melainkan perwujudan literasi mendalam, nalar ilmiah, dan praktik produksi layer komprehensif yang menjunjung tinggi kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan manfaat bagi kesehatan masyarakat konsumen. Tetapi pemeliharaan layer dengan sistem cage – free adalah sebuah pilihan. TROBOS

Tag:

Bagikan:

Trending

By Antara
Prof Akhmad Sodiq Kembali Pimpin Unsoed 2026-2030
By Bella
BRIN & FAO Gelar Konferensi Internasional Keberlanjutan Peternakan  
IMG_8861
Panduan Beternak Layer Cage-Free di Indonesia Resmi Terbit
By Kementan
Pemerintah Bersama HPDKI Perkuat Perlindungan Peternak Domba-Kambing
By Kementan
Strategi Penguatan Pakan Ayam Petelur
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!