Livestock Free Ads
iklan banner website Zhejiang Maret scaled

Kerbau: Aset Tersembunyi Revolusi Pangan Indonesia

Oleh: Prof Nahrowi

Pembangunan pangan Indonesia menghadapi tekanan ganda: pertambahan penduduk sekitar 3,5 juta jiwa per tahun dan penurunan lahan produktif ± 120 ribu ha per tahun. Proyeksi Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan protein hewani melonjak dari 8,1 juta ton pada 2024 menjadi 10,4 juta ton pada 2035. Tingkat konsumsi daging rata-rata 47,57 g/kapita/hari masih di bawah rekomendasi WHO 50-60 g, sementara permintaan tumbuh 2 – 4 % per tahun di kelompok usia produktif. Laju urbanisasi menambah kompleksitas distribusi sekaligus menggeser pola konsumsi ke produk berprotein tinggi yang praktis.

Produksi domestik sangat bergantung pada ayam ras (57 % daging nasional) dan sapi potong (24 %). Struktur ini menciptakan risiko harga karena sekitar 35 % bahan baku pakan masih impor serta formulanya masih berbasis corn and soya. Volatilitas pasar global sepanjang 2022–2023 menaikkan ongkos pakan 18 %, memicu inflasi daging unggas dan sapi di atas 9 %. Mereka juga berkontribusi signifikan terhadap jejak karbon serta memerlukan pasokan air biru (air sungai, danau, waduk, dan sumur) yang tinggi, yakni ± 8 900 L/kg daging sapi feedlot berbasis konsentrat.

Diversifikasi melalui kerbau (Bubalus bubalis) menawarkan peluang strategis. Populasi global mencapai 208 juta ekor, menyumbang sekitar 15 % produksi susu dan 5 % daging dunia. Jejak air hijau (jumlah air hujan yang tersimpan dalam tanah dan digunakan ternak) untuk produksi daging kerbau hanya sekitar 6.000 liter per kilogram, sekitar 40%  lebih rendah dibandingkan sapi tropis. Nilai tambah muncul dari kemampuannya mengonversi hijauan kasar dan crop-residues pertanian (jerami padi, pelepah sawit, tongkol jagung) menjadi protein hewani berkualitas.

Adaptasi fisiologis kerbau terhadap suhu tinggi hingga 42 °C dan lahan tergenang menjadikannya sesuai dengan kondisi agroekosistem rawa, pasang-surut, dan lahan marginal. Domestikasi kerbau secara alami berkembang dalam sistem peternakan berbasis sumber daya lokal, seperti yang terekam di lanskap Sungai Sugihan, Sumatera Selatan (Gambar 1). Kawanan kerbau digembalakan menyusuri tepian sungai dengan memanfaatkan vegetasi liar dan air pasang sebagai sumber pakan dan pendingin tubuh alami. Praktik ini menunjukkan kemampuan kerbau untuk hidup harmonis dengan lingkungan rawa, sekaligus mencerminkan potensi pemanfaatan lahan marginal untuk sistem pangan berkelanjutan.

Perhitungan kasar menunjukkan bahwa satu juta ekor kerbau produktif berpotensi menghasilkan sekitar 60.000 ton karkas dan 200 juta liter susu per tahun. Kontribusi ini mencakup lebih dari 10 % dari proyeksi peningkatan kebutuhan protein hewani nasional pada 2035. Pemberdayaan kerbau juga menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan impor, menurunkan emisi karbon, serta meningkatkan kesejahteraan peternak desa melalui pengembangan produk fungsional dari kerbau seperti susu premium dan daging rendah lemak.

Peternakan Kerbau Terkini

Jumlah kerbau di Indonesia terus menurun dalam dua dekade terakhir. Sensus Peternakan 2023 mencatat hanya tersisa 453.258 ekor, merosot 80 % dari angka 2,3 juta ekor pada 2002. Sebaran populasi menunjukkan konsentrasi di Sumatra dan Sulawesi, yang menguasai 72 % dari total. Pola pemeliharaan didominasi sistem ekstensif dengan input teknologi dan pakan yang minim.  Salah satu potret nyata dari kondisi ini adalah kegiatan pemerahan susu kerbau yang masih dilakukan secara manual oleh para peternak, tanpa dukungan peralatan modern atau sistem sanitasi yang memadai (Gambar 2).

Produktivitas kerbau saat ini juga sangat rendah. Rata-rata hanya menghasilkan 55 kg karkas/ekor/tahun untuk daging dan kurang dari 1 liter susu/ekor/hari pada kerbau rawa. Dibandingkan sapi potong, performa ekonomi peternakan kerbau tertinggal. Nilai Tukar Peternak Kerbau (NTPK) tercatat hanya 102, lebih rendah dari NTP sapi potong yang mencapai 115.

Beberapa faktor mendasari permasalahan di atas. Seleksi genetik belum berjalan optimal sehingga perbaikan performa reproduksi dan pertumbuhan berlangsung lambat. Pakan hijauan dan hasil samping pertanian tidak tersedia secara konsisten, terutama pada musim kemarau, serta akses terhadap pembiayaan bank masih sangat terbatas.

Harga jual daging kerbau juga kurang kompetitif. Di pasar tradisional, harga daging kerbau berkisar Rp 95.000/kg, tertinggal Rp 28.000 dari harga daging sapi. Margin usaha tipis menyulitkan regenerasi peternak muda dan membuat usaha kerbau kurang menarik secara ekonomi. Proyeksi tanpa intervensi menunjukkan populasi kerbau akan menurun terus yang akan mengancam keragaman genetik ras lokal seperti kerbau rawa dan toraja yang memiliki nilai konservasi dan adaptasi tinggi

AGRIBISNIS KERBAU TERINTEGRASI

Italia selatan mengembangkan model agribisnis kerbau berbasis integrasi hulu-hilir, menjadikan susu kerbau sebagai komoditas bernilai tinggi melalui produksi keju Mozzarella di Bufala Campana. Pada 2020, populasi kerbau Italian Mediterranean mencapai 415.000 ekor, terkonsentrasi di wilayah Campania, Lazio, dan Puglia. Model ini berhasil menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang kuat dan berkelanjutan.

Produktivitas susu kerbau di Italia jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Produksi susu kerbau di Itali berkisar 4- 7  liter/ekor/hari, lebih dari empat sampai enam kali lipat dibandingkan kerbau rawa di Indonesia. Pencapaian ini didukung oleh sistem pemberian pakan Total Mixed Ration (TMR) yang dirancang presisi. Komposisi TMR terdiri atas silase jagung (58 % bahan kering), hay alfalfa (12 %), konsentrat (18 %), dan by-product brewer grain (12 %), menghasilkan efisiensi konversi nutrien yang optimal.

Biaya pakan untuk seekor kerbau perah di italia relatif rendah. Setiap liter susu hanya memerlukan sekitar Rp. 7.500 rupiah untuk pakan. Harga susu kerbau di Italia dapat mencapai Rp. 27000 rupiah per liter. Sehingga peternak kerbau di Italia dapat keuntungan yang cukup besar.

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 310/ Juli 2025

Pusat Studi Hewan Tropika/Centre for Tropical Animal Studies IPB University1

Faculty of Animal Science IPB University2

Tag:

Bagikan:

Trending

By Antara
Prof Akhmad Sodiq Kembali Pimpin Unsoed 2026-2030
By Bella
BRIN & FAO Gelar Konferensi Internasional Keberlanjutan Peternakan  
IMG_8861
Panduan Beternak Layer Cage-Free di Indonesia Resmi Terbit
By Kementan
Pemerintah Bersama HPDKI Perkuat Perlindungan Peternak Domba-Kambing
By Kementan
Strategi Penguatan Pakan Ayam Petelur
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!