Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Peternakan unggas modern kini tidak hanya dihadapkan pada tuntutan efisiensi produksi, tetapi juga pada kewajiban memenuhi aspek keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan. Tekanan pasar global mendorong peternak semakin memperhitungkan sumber pakan, jejak karbon produksi, serta konsistensi bahan baku dalam menghasilkan daging ayam dan telur.
Isu tersebut menjadi latar utama seminar internasional bertajuk ‘Understanding U.S. Soy Quality’ yang digelar The Northern Soy Marketing (NSM) dengan dukungan U.S. Soybean Export Council (USSEC). Kegiatan yang telah berlangsung secara rutin sejak 2023 ini kembali diselenggarakan pada Kamis (15/1) di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel.
Mewakili perspektif sistem produksi peternakan, USSEC’s Regional Representative for Australia and New Zealand sekaligus Adjunct Professor University of New England, Australia, Robert Middendorf, menggarisbawahi bahwa keberlanjutan peternakan unggas tidak dapat dipisahkan dari kualitas serta asal pakan ternak. Ia menilai pakan sebagai komponen biaya terbesar sekaligus faktor penentu jejak lingkungan produk unggas.
“Pilihan bahan baku pakan akan berdampak langsung pada efisiensi produksi dan jejak karbon peternakan unggas,” tutur Robert. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahan pakan yang diproduksi secara berkelanjutan memberikan nilai tambah bagi produk ayam dan telur di pasar yang semakin peduli terhadap isu lingkungan.
Lebih lanjut, Robert memaparkan bahwa sistem produksi kedelai di Amerika Serikat didukung teknologi pertanian presisi serta protokol keberlanjutan yang terverifikasi melalui U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol (SSAP). Skema tersebut dinilai membuka peluang bagi peternak unggas untuk mengaitkan klaim keberlanjutan pakan dengan produk ternak yang dihasilkan.
Apabila keberlanjutan menjadi kerangka besar peternakan unggas masa depan, maka kualitas pakan berperan sebagai pintu masuk utama dalam penerapannya. Pada titik inilah, pembahasan mengenai bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati utama pakan unggas menjadi krusial.
Dari sudut pandang pengguna akhir pakan, Prof. Bob Swick, Professor Poultry Hub Australia, menegaskan bahwa bungkil kedelai merupakan komponen paling dominan dalam ransum unggas. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 60 % asam amino tercerna dalam pakan ayam pedaging bersumber dari bahan tersebut.
“Bungkil kedelai bukan sekadar penyedia protein, tetapi juga menyumbang energi metabolis bagi unggas,” ungkap Prof. Bob. Ia menilai kualitas bungkil kedelai sangat menentukan efisiensi pakan dan performa pertumbuhan ayam.
Prof. Bob kemudian mengaitkan performa unggas dengan kondisi bungkil kedelai selama penyimpanan dan distribusi. Ia memaparkan bahwa paparan suhu dan kelembapan tinggi, khususnya di wilayah tropis, dapat mempercepat penurunan kualitas nutrisi.
“Degradasi kualitas selama penyimpanan berpotensi meningkatkan rasio konversi pakan, sehingga ayam membutuhkan pakan lebih banyak untuk pertumbuhan yang sama,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kerugian nutrisi tersebut secara ekonomi dapat mencapai sekitar 10 dolar AS per ton bungkil kedelai.
Pembahasan mengenai kualitas pakan tersebut membawa perhatian ke hulu, yakni pada mutu biji kedelai sebagai bahan baku utama. Prof. Seth Naeve, Profesor Agronomi dari Universitas Minnesota, menekankan bahwa kualitas bungkil kedelai sepenuhnya bergantung pada kualitas kedelai yang diproses.
“Soybean meal tidak akan pernah melampaui kualitas kedelai yang menjadi bahan dasarnya,” tegas Prof. Seth. Ia menyampaikan bahwa fasilitas pengolahan tidak memiliki ruang untuk meningkatkan mutu apabila bahan baku yang masuk sudah mengalami penurunan kualitas.
Berdasarkan survei kualitas kedelai Amerika Serikat yang dilakukan secara konsisten sejak 1986, Prof. Seth menyebutkan bahwa variasi kandungan protein antarwilayah kini semakin menyempit. Kondisi tersebut menghasilkan profil asam amino yang lebih homogen, terutama pada kedelai dari wilayah utara Amerika Serikat.
Ia juga menambahkan bahwa faktor iklim turut berperan penting dalam menjaga mutu kedelai. Suhu dingin selama masa panen dan penyimpanan membantu mempertahankan stabilitas fisik dan kimia kedelai sebelum diproses dan dipasarkan secara global.

Konsistensi kualitas tersebut kemudian diperkuat oleh sistem logistik dan pengendalian mutu. Alvaro A. Cordero, Manager Trade Servicing U.S. Grains Council sekaligus Senior Export Trader Ag Processing Inc. (AGP), memaparkan bahwa pengawasan kualitas dilakukan secara ketat di sepanjang rantai pasok.
“Kami melakukan pengujian kualitas pada setiap gerbong kereta sebelum dikirim ke pelabuhan,” ungkap Alvaro. Ia menyampaikan bahwa sistem pengiriman berbasis rel dari wilayah utara menuju Pacific Northwest memungkinkan produk tiba dengan kondisi yang lebih seragam.
Selain itu, Alvaro menilai peningkatan kapasitas pengolahan kedelai di Amerika Serikat turut memperkuat ketersediaan bungkil kedelai bagi pasar ekspor. Situasi tersebut dinilai memberi kepastian pasokan bagi industri pakan unggas di berbagai negara.
Pada sisi promosi dan edukasi pasar, David Struck, Vice Chair of Northern Soy Marketing, menyampaikan bahwa NSM berfokus memperkenalkan kedelai dari wilayah utara seperti Minnesota, North Dakota, dan South Dakota. Ia menilai kawasan tersebut memiliki karakteristik asam amino alami yang menguntungkan untuk formulasi pakan ternak.
“Kami ingin pasar memahami bahwa kualitas kedelai merupakan hasil dari kondisi geografis dan praktik budidaya yang konsisten,” kata David. Ia menambahkan bahwa NSM secara rutin menyelenggarakan seminar serta reverse crop tour untuk memperlihatkan langsung proses panen dan penyimpanan di Amerika Serikat.
Gambaran praktik budidaya tersebut diperkuat oleh Carson Stange, petani kedelai asal South Dakota, yang membagikan pengalaman pertanian keluarga berbasis keberlanjutan. Ia menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan, ternak, dan cover crop menjadi strategi utama menjaga produktivitas lahan.
“Kami berupaya memastikan lahan ini tetap subur dan produktif hingga generasi berikutnya,” tuturnya. Pendekatan tersebut dinilai tidak hanya menjaga kesehatan tanah, tetapi juga mendukung kestabilan kualitas hasil panen.
Sebagai penutup rangkaian diskusi, Robert kembali menegaskan bahwa kualitas serta keberlanjutan pakan merupakan fondasi penting bagi masa depan peternakan unggas. Ia menilai kombinasi mutu, konsistensi, dan sistem keberlanjutan terverifikasi menjadi keunggulan utama U.S. Soy di pasar global.
“Keunggulan ini memberi peternak unggas keyakinan dalam menyusun pakan yang efisien sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkasnya. Robert menambahkan bahwa pendekatan tersebut akan semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk unggas berkelanjutan.shara




