Jembrana (TROBOSLIVESTOCK.COM). Hingga kini, lumpy skin disease (LSD) atau penyakit lato-lato pada sapi masih menjadi momok bagi peternak di Indonesia. Walaupun memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang terbilang rendah (di bawah 10 %), namun dilaporkan tingkat kesakitannya (morbiditas) mencapai 45 %. Oleh sebab itu, pencegahan LSD patut dilakukan, antara lain dengan memperkuat biosekuriti serta vaksin LSD.
Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri dilaporkan telah menyalurkan 400 dosis vaksin darurat untuk LSD yang dilengkapi obat hewan, multivitamin, desinfektan, dan alat kesehatan guna melindungi ternak sapi milik peternak di Kabupaten Jembrana, Bali. Langkah ini dilakukan untuk memutus penularan LSD yang sempat menjangkiti puluhan sapi dan berpotensi mengganggu ekonomi peternak.
Bantuan diserahkan oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkesmavet) Kementan, Hendra Wibawa, kepada Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, pada Sabtu (17/1). Ini merupakan tahap pertama bantuan Kementan sebagai respons darurat atas terdeteksinya penyakit LSD di Kabupaten Jembrana.
“Hari ini kami menerima peralatan lengkap untuk mencegah penyakit LSD. Ada vaksin, obat-obatan, multivitamin, dan juga disinfektan. Ini upaya kita mempercepat penanganan penyebaran LSD pada sapi. Kolaborasi hari ini luar biasa, baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, maupun masyarakat peternak. Semoga masalah ini bisa segera kita selesaikan,” imbuh Kembang.
Adapun Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengimbau peternak agar segera melapor jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi, tidak memasukkan dan mengeluarkan ternak dari kandang di zona tertular, serta menjaga kebersihan kandang untuk mengurangi habitat vektor pembawa penyakit. Petugas akan langsung memeriksa dan mendiagnosa apakah itu suspek LSD atau penyakit kulit biasa. “Jika ditemukan indikasi sakit, segera lakukan isolasi mandiri dengan memisahkan ternak tersebut dari kawanan yang sehat dan laporkan ke petugas agar segera mendapatkan penanganan,” ujar Hendra.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengendalian penyakit hewan menular merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat. Hal tersebut disampaikannya saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, meninjau kesiapan hilirisasi ayam di Bone, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1).
“Negara tidak boleh membiarkan peternak menanggung risiko sendiri. Ketika ada ancaman penyakit, negara harus hadir lebih dulu untuk melindungi ternak dan memastikan usaha peternak tetap berjalan,” ujar Agung.
Ia pun menegaskan, langkah cepat seperti vaksinasi darurat, pembatasan lalu lintas ternak, dan pendampingan teknis di lapangan menjadi instrumen penting agar peternak tidak mengalami kerugian berkepanjangan akibat wabah penyakit hewan. Kementan terus mendorong vaksinasi hewan, penguatan edukasi kepada peternak, serta pembatasan lalu lintas hewan di zona tertular sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi peternak rakyat dan menjaga keberlanjutan usaha peternakan nasional.bella





