Belanda (TROBOSLIVESTOCK.COM). Mikotoksin merupakan toksin alami yang dihasilkan oleh jenis jamur (kapang) tertentu yang dapat mencemari pakan ternak. Salah satu jenis bahan pakan ternak adalah biji-bijian, seperti jagung, di mana risiko tercemar mikotoksin sangatlah tinggi. Terlebih di iklim tropis dengan kelembapan tinggi seperti di Indonesia.
Dalam rangka menghadirkan solusi penuntasan mikotoksin pada pakan ternak, Trouw Nutrition mengadakan seminar daring (dalam jaringan) yang tersedia dalam bahasa inggris dan spanyol pada Kamis (5/1). Selaku narasumber dalam bahasa inggris, Global Category Director Trouw Nutrition, Swamy Haladi, membawakan materi bertajuk “Extended Mycotoxin Analysis and Solutions”.
Swamy menjelaskan, bahwa Trouw mampu memperluas analisis mikotoksin. “Ini sangat penting bagi kami, karena memang analisis cepat itu penting. Kami dikenal luas lewat penggunaan alat MycoMaster secara global, dan pada akhirnya para pelanggan di seluruh dunia juga menggunakannya,” ujar dia.
Namun, lanjutnya, ada kasus-kasus tertentu, di mana peternak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ternak mereka. Mulai dari gangguan hati, FCR (feed conversion ratio) sangat tinggi, dan ada aflatoksin. Ada begitu banyak pertanyaan yang ia terima.

“Sejauh ini, menurut saya, setiap kali berbicara tentang tantangan terkait kesehatan hewan, konfirmasi analisis mikotoksin seharusnya berasal dari LC-MS/MS sebagai standar. Karena metode cepat (rapid methods) memiliki keterbatasan dalam hal konfirmasi hasil,” terang Swamy.
Ia mengakui, bahwa Trouw bekerja sama dengan Masterlab untuk terus mengembangkan analisis, yang saat ini bisa diperluas hingga menganalisis 30 mikotoksin. Lalu mengapa tidak 50 atau 100 mikotoksin? Sebab secara potensial ada sekitar 700 toksin yang bisa dianalisis dengan LC-MS/MS, namun apakah diketahui tingkat toksisitas dari 700 toksin itu? Belum diketahui.
Swamy lebih fokus ke “big 6 toxins”, karena toksin-toksin itu sudah diketahui toksisitasnya, dan ia memiliki data prevalensinya di berbagai negara. “Itulah sebabnya kami menganalisis lebih banyak, tapi tetap berdasarkan yang relevan,” tutur dia.
Lebih lanjut, ia melaprokan, bahwa lebih dari 120.000 analisis mikotoksin pada 2025 menunjukkan tingkat kontaminasi mikotoksin antara 18 % hingga 62 % untuk berbagai jenis mikotoksin. Kontaminasi DON dan ZEA yang lebih tinggi terlihat secara global, sementara AF dan FUM menunjukkan pola yang lebih bersifat regional.

“Adapun konsentrasi rata-rata mikotoksin paling tinggi adalah FUM, diikuti oleh DON, ZEA, T2/HT2, AF, dan OTA. Namun, nilai median konsentrasi mikotoksin lebih merepresentasikan tantangan nyata di lapangan,” kata dia.
Menurut Swamy, risiko ZEA, DON, dan FUM lebih tinggi pada pakan babi dan hewan peliharaan. Sementara ransum sapi perah menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap ZEA, DON, dan AF. Pakan unggas, seperti yang diperkirakan, menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap AF, DON, dan FUM.
Ia menjelaskan, bahwasanya FUM merupakan ancaman “high intensity” yang paling luas penyebarannya dalam prakiraan ini. Sementara DON merepresentasikan risiko industri yang spesifik melalui sektor penggilingan dan etanol (DDGS) di Belahan Bumi Utara. “Analisis LC-MS/MS kami yang diperluas menunjukkan bahwa enniatin dapat berinteraksi dengan mikotoksin lain, sehingga meningkatkan toksisitas secara keseluruhan. Oleh karenanya, solusi penanganan mikotoksin harus mencakup kelompok mikotoksin ini,” tutup Swamy.bella




