Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kementerian Pertanian mendorong penguatan peran asosiasi dalam menjaga stabilitas harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak, menyusul fluktuasi harga yang terjadi di berbagai daerah. Upaya ini ditempuh melalui rapat koordinasi perunggasan nasional yang digelar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Selasa (7/4), dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan sektor perunggasan.
Rapat tersebut menjadi langkah responsif pemerintah dalam menghadapi tekanan harga livebird, khususnya untuk bobot di atas 2 kilogram (kg) yang masih belum stabil di sejumlah wilayah. Kementerian Pertanian menilai intervensi terukur diperlukan guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan, sekaligus melindungi peternak dari potensi kerugian yang lebih besar.
Dalam pertemuan itu, disepakati penetapan harga acuan livebird untuk bobot di atas 2 kilogram yang mulai berlaku Rabu (8/4). Untuk wilayah Jawa Tengah, harga minimal ditetapkan sebesar Rp 19.000 per kg, Jawa Timur Rp 19.500 per kg, dan Jawa Barat Rp 20.000 per kg. Kebijakan ini akan dievaluasi dalam dua hari untuk mengukur efektivitasnya dalam menstabilkan kondisi pasar.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, menegaskan pemerintah akan terus berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan di sektor perunggasan. Ia menyampaikan bahwa koordinasi lintas pihak menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan pasar. “Kami terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan,” kata Hary, seraya menambahkan bahwa pemantauan di lapangan dilakukan secara berkala melalui laporan serta koordinasi intensif agar kebijakan berjalan efektif.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia, Mukhlis Wahyudi, menilai tekanan harga livebird dipengaruhi oleh kondisi kelebihan pasokan. Ia menjelaskan bahwa meskipun suplai untuk bobot di atas 2 kg relatif stabil, harga belum sepenuhnya pulih karena pola pasar yang berulang setiap tahun pasca-Idulfitri. “Kondisi ini tidak hanya karena oversupply, tetapi juga pola pasar yang berulang setiap tahun setelah Lebaran,” ujar Mukhlis, menegaskan bahwa pemulihan harga masih membutuhkan waktu.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional, Sugeng Wahyudi, menekankan pentingnya komitmen seluruh pelaku usaha dalam mematuhi harga yang telah disepakati. Ia mengingatkan bahwa tanpa disiplin pasar, kebijakan yang telah dirumuskan tidak akan berjalan optimal. “Kepatuhan dari anggota sangat penting. Jangan sampai kita tetapkan harga tapi tidak dipatuhi, harus ada sanksi,” tegasnya.
Melalui sinergi antara pemerintah dan asosiasi, stabilitas harga live bird diharapkan dapat segera tercapai. Dengan demikian, keberlanjutan usaha peternak rakyat dapat terjaga dan ekosistem perunggasan nasional menjadi lebih sehat serta berkeadilan.shara




