Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Indonesia sedang menghadapi paradoks pangan. Produksi ayam dan telur nasional kini tidak lagi sekadar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Keduanya bahkan berada dalam kondisi surplus. Berdasarkan prognosa Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan), produksi daging ayam ras pada 2026 diperkirakan mencapai 4,90 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 4,02 juta ton. Produksi telur ayam ras juga diproyeksikan mencapai 6,99 juta ton, melampaui kebutuhan sekitar 6,47 juta ton.
Di atas kertas, kondisi tersebut merupakan kabar baik. Indonesia memiliki sumber protein hewani yang relatif melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, surplus produksi belum otomatis berarti setiap anak Indonesia mendapatkan cukup protein.
Di tengah ketersediaan ayam dan telur tersebut, persoalan gizi anak masih menjadi pekerjaan rumah. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 11% anak usia 5-12 tahun masih berada dalam kategori gizi kurang maupun gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Oleh karenanya, jika ayam dan telur tersedia dalam jumlah yang cukup, mengapa masih ada anak yang mengalami kekurangan gizi? Jawabannya tidak sesederhana persoalan produksi.
Kesenjangan Konsumsi
Ketersediaan pangan di tingkat nasional tidak otomatis menjamin pangan tersebut hadir dalam piring setiap anak.
Ayam dan telur memang tersedia di pasar. Namun, keputusan mengenai apa yang dimakan anak setiap hari ditentukan oleh banyak faktor antara lain kemampuan keluarga, kebiasaan makan, pengetahuan orang tua mengenai gizi, selera anak, kemudahan menyiapkan makanan, hingga lingkungan tempat anak tumbuh.
Karena itu, persoalan gizi tidak berhenti pada pertanyaan apakah Indonesia memiliki cukup pangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pangan bergizi tersebut benar-benar dikonsumsi secara cukup, rutin, dan sesuai kebutuhan anak.
Pada sebagian keluarga, makanan yang mengenyangkan belum tentu identik dengan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi. Anak juga dapat memiliki pilihan makanan sendiri. Makanan yang lebih praktis atau lebih disukai belum tentu menjadi sumber protein terbaik.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya jarak antara ketersediaan pangan dan konsumsi pangan bergizi. Jarak inilah yang membuat persoalan gizi menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan produksi.
Indonesia boleh surplus ayam dan telur. Namun, pekerjaan berikutnya adalah memastikan surplus tersebut memberi dampak pada kualitas konsumsi masyarakat, terutama anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk menjembatani persoalan tersebut. Di sekolah, anak tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga membentuk kebiasaan, termasuk kebiasaan mengenai kebersihan, kesehatan, dan pola makan.
Karena itu, intervensi gizi yang hanya memberikan makanan tambahan tanpa membangun pengetahuan dan kebiasaan berisiko berhenti sebagai bantuan jangka pendek.
Pendekatan Berbeda
Perubahan membutuhkan pendampingan. Pendekatan inilah yang selama hampir dua dekade dijalankan JAPFA Comfeed Indonesia melalui JAPFA for Kids. Diluncurkan pada 2008, program ini tidak sekadar memberikan bantuan pangan kepada anak. JAPFA for Kids mengembangkan sistem pendampingan yang menggabungkan edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan, pemantauan status gizi, pelibatan guru dan orang tua, serta pembiasaan pola hidup sehat di sekolah.
Selama 18 tahun, cakupan program terus berkembang. Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan perubahan skala yang cukup besar. Program yang pada awalnya dijalankan di sekolah-sekolah sekitar wilayah operasional perusahaan berkembang menjadi program dengan cakupan nasional.
Namun, yang lebih penting bukan hanya berapa banyak anak yang dijangkau. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dilakukan setelah anak ditemukan mengalami masalah gizi?
JAPFA for Kids memulainya dengan data. Pelaksanaan program diawali pemeriksaan kesehatan, pengukuran tinggi dan berat badan, serta identifikasi status gizi. Anak yang teridentifikasi mengalami gizi kurang kemudian memperoleh intervensi protein hewani, terutama telur, setiap hari selama enam bulan. Perkembangan mereka dipantau secara berkala menggunakan aplikasi digital.
Pendekatan tersebut penting karena anak yang mengalami kekurangan gizi tidak hanya membutuhkan makanan pada satu kesempatan. Mereka membutuhkan asupan yang konsisten sekaligus lingkungan yang mendukung perubahan kebiasaan.
Karena itu, telur bukan menjadi satu-satunya intervensi. Anak-anak mendapatkan edukasi mengenai gizi seimbang, kebersihan diri, dan perilaku hidup bersih dan sehat. Guru mendapatkan pelatihan untuk mendukung perubahan perilaku di sekolah. Orang tua juga dilibatkan agar kebiasaan sehat yang dibangun di sekolah dapat diteruskan di rumah.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan pendekatan tersebut memang dirancang secara terintegrasi. Selain pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, program mencakup pemantauan berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, Hari Sehat JAPFA, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala agar dampak program dapat diukur secara konsisten.
Data Berbicara
Data pelaksanaan JAPFA for Kids menunjukkan adanya perubahan status gizi pada sebagian besar anak sasaran.
Pada 2024, program dilaksanakan di tujuh kabupaten/kota dengan menjangkau 15.518 siswa. Dari jumlah tersebut, 1.479 anak teridentifikasi mengalami gizi kurang atau malagizi. Setelah enam bulan pendampingan, sebanyak 762 anak atau sekitar 51,5% berhasil memperbaiki status gizinya menjadi normal. Setahun kemudian, cakupan program diperluas menjadi 123 sekolah di sembilan kabupaten/kota. Dari hasil pemantauan, 1.034 siswa mengalami gizi kurang maupun gizi buruk. Setelah memperoleh intervensi, sebanyak 646 anak atau sekitar 62,5% berhasil memperbaiki status gizinya.
Namun, data tersebut juga memperlihatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Pada 2025, masih terdapat anak dalam kelompok sasaran yang belum mengalami perbaikan status gizi. Artinya, intervensi gizi membutuhkan keberlanjutan dan tidak dapat mengandalkan satu pendekatan untuk semua kondisi.
Justru di sinilah data memiliki fungsi penting. Data bukan sekadar angka keberhasilan yang dipajang dalam laporan. Data membantu menunjukkan siapa yang membutuhkan intervensi, bagaimana kondisi mereka berubah, dan di mana masih terdapat persoalan yang perlu ditangani.

Kekuatan Kolaborasi
Meski demikian, persoalan gizi tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak. Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menegaskan bahwa selama 18 tahun JAPFA for Kids merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Menurutnya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat. Ia juga menekankan bahwa kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, media, dan masyarakat menjadi syarat penting untuk mengatasi persoalan gizi secara berkelanjutan.
Pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang benar dan mudah dipahami, termasuk mengenai konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, dan gaya hidup sehat sejak dini.
Pesan itu menjadi semakin relevan ketika Indonesia berada dalam situasi surplus pangan tertentu. Sebab, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menghasilkan lebih banyak. Melainkan memastikan hasil produksi tersebut memberi manfaat nyata bagi kualitas hidup masyarakat.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak ayam dan telur. Indonesia membutuhkan lebih banyak anak yang benar-benar mendapatkan manfaat dari ayam dan telur tersebut.
Surplus produksi adalah kabar baik bagi ketahanan pangan. Tetapi ketika masih ada anak yang mengalami kekurangan gizi, surplus itu belum menjadi cerita yang selesai.
Pada akhirnya, membangun generasi sehat bukan sekadar persoalan menyediakan makanan bergizi. Ini adalah pekerjaan untuk memastikan makanan tersebut sampai kepada anak yang membutuhkan, dimakan secara rutin, dipahami manfaatnya, dan menjadi bagian dari kebiasaan hidup.
Masa depan anak-anak tidak hanya membutuhkan buku dan pendidikan. Ia membutuhkan tubuh yang sehat untuk belajar, berkembang, dan kelak menggerakkan bangsa.bella




