Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Upaya memperkuat ekosistem produksi telur berbasis kesejahteraan hewan terus didorong oleh Indonesian Cage-Free Association (ICFA). Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Multi-Stakeholder Training: Penguatan Sistem Cage-Free dan Peran Industri Pendukung yang berlangsung pada Rabu-Kamis (8–9/4) di Yogyakarta, dengan melibatkan 23 peserta dari berbagai sektor industri pendukung.
Pelatihan ini menghadirkan perwakilan dari sektor pakan, obat dan kesehatan unggas, pullet dan breeding, serta sarana dan peralatan kandang. ICFA merancang kegiatan tersebut sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperdalam pemahaman tentang sistem produksi telur cage-free sekaligus mendorong keterlibatan aktif industri dalam membangun ekosistem yang lebih siap, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dari sektor obat dan kesehatan unggas, peserta yang hadir antara lain berasal dari Cita Indonesia Group, PT ITPSA Nutritional Solutions, PT Agrinusa Jaya Santosa, Nutricell Pacific, PT Ceva Animal Health Indonesia, dan PT Biotek Saranatama. Kehadiran mereka dinilai penting dalam mendukung aspek kesehatan dan biosekuriti dalam sistem cage-free.
Sementara itu, sektor pakan diwakili oleh PT New Hope Indonesia, Anpario PLC, PT Farmsco Feed Indonesia, dan PT Haida Agriculture Indonesia. Adapun dari sektor sarana dan peralatan kandang hadir PT Unigro Artha Persada, Big Herdsman, serta PT Big Dutchman Agriculture Indonesia, yang berperan dalam mendukung penyediaan infrastruktur kandang yang sesuai dengan prinsip cage-free.

Partisipasi juga datang dari sektor pullet dan breeding, yakni PT Sapta Karya Megah, Hy-Line International, serta CV Tambak Muda Farm. Keterlibatan sektor ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas bibit ayam yang mendukung keberhasilan sistem produksi cage-free.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup pemaparan materi, diskusi interaktif, serta kunjungan lapangan ke peternakan cage-free dan free-range. Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai implementasi di lapangan, termasuk perbedaan antara sistem cage-free dan konvensional.
ICFA menyampaikan bahwa pengamatan langsung di lapangan memberikan perspektif yang lebih utuh bagi peserta. Mereka tidak hanya mempelajari aspek manajemen pemeliharaan, tetapi juga melihat penerapan kesejahteraan hewan, performa produksi, serta berbagai tantangan nyata yang dihadapi peternak.
Di tengah tren pertumbuhan peternakan cage-free di Indonesia, ICFA mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Beberapa di antaranya meliputi pengelolaan uniformity pada fase pullet atau pre-laying, pengendalian penyakit, serta smenjaga stabilitas produksi.
Namun demikian, ICFA menilai sejumlah peternak telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengatasi tantangan tersebut. “Perbaikan desain dan fasilitas kandang, penerapan manajemen pakan dan litter yang lebih baik, serta peningkatan praktik operasional menjadi faktor penting dalam meningkatkan kinerja,” demikian disampaikan dalam pelatihan tersebut.
Bahkan, ICFA mencatat bahwa sebagian peternak telah mampu mencapai tingkat produktivitas yang baik. Dalam beberapa kasus, produktivitas dilaporkan dapat menyentuh angka hingga 90 %, seiring dengan penerapan manajemen yang lebih optimal.
Melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, ICFA berharap dukungan terhadap peternak dapat semakin menyeluruh. Dengan demikian, pengelolaan peternakan cage-free diharapkan dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menegaskan bahwa keberhasilan transisi menuju sistem cage-free tidak hanya bergantung pada peternak. ICFA menekankan pentingnya kontribusi aktif dari seluruh rantai pasok dalam mendukung implementasi sistem tersebut.
Dalam forum diskusi lintas sektor, para peserta didorong untuk mengidentifikasi peluang inovasi serta merumuskan kontribusi konkret dari masing-masing pihak. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan pengembangan sistem cage-free yang selaras dengan prinsip kesejahteraan hewan.
ICFA berharap pelatihan ini menjadi titik awal penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan industri perunggasan nasional. Dengan sinergi yang semakin solid, pengembangan sistem cage-free diharapkan dapat berjalan lebih adaptif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat luas bagi peternak, industri, dan kesejahteraan hewan. shara




