Trobos banner 2026.May

Barantin & FAO Luncurkan Program Penguatan Karantina Hewan

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Food and Agriculture Organization(FAO) Indonesia meluncurkan program senilai USD 200.000 untuk memperkuat sistem karantina hewan di Indonesia pada Selasa (7/7). Program ini bertujuan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit hewan serta ancaman pertanian lainnya di tengah meningkatnya perdagangan global.

Melalui program ini, Barantin dan FAO akan bekerja sama meningkatkan manajemen risiko sistem karantina hewan Indonesia dengan memetakan secara akurat jalur masuk penyakit melalui pendekatan terpadu berbasis ilmu pengetahuan. Penguatan sistem karantina hewan Indonesia menjadi semakin mendesak guna mencegah, mendeteksi, mengendalikan, dan merespons secara cepat hama dan penyakit karantina hewan, penyakit hewan lintas batas yang dapat menyebar dengan cepat di antara hewan, penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, serta spesies asing invasif yang dapat mengancam keanekaragaman hayati Indonesia.

Berbagai risiko kesehatan hewan tersebut dapat memicu efek domino yang berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sedikitnya 13 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan mata pencahariannya pada sektor peternakan.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menyatakan bahwa sistem karantina harus bertransformasi agar mampu mengikuti perkembangan perdagangan global yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, penguatan pengawasan hanya di titik keluar dan masuk tidak lagi memadai, tetapi harus didukung oleh analisis risiko yang akurat, pemanfaatan teknologi digital, dan pengambilan keputusan berbasis data.

“Barantin tidak ingin menjadi penghambat atau bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang tidak boleh mengorbankan biosekuriti kita. Pendekatan manajemen risiko yang modern, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional merupakan kunci untuk melindungi ketahanan pangan sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi nasional,” ujar Karding dalam lokakarya peluncuran program di Jakarta.

Meskipun telah mengalami berbagai kemajuan, sistem karantina hewan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari data yang masih terfragmentasi, keterbatasan integrasi hasil surveilans, hingga belum adanya kerangka penilaian risiko yang mengacu pada standar internasional. Program yang berjudul “Strengthening Animal Quarantine Risk Management Through Integrated Assessment and Response Towards Agri-Threats” ini mencakup berbagai intervensi untuk mengatasi hambatan tersebut.

Pertama, program ini akan meningkatkan kompetensi petugas karantina nasional melalui standar yang baku dalam pemetaan dan pengelolaan risiko hama serta penyakit karantina hewan. Kedua, program ini akan mengembangkan aplikasi terpadu untuk memantau risiko hama dan penyakit karantina hewan, melakukan pemetaan surveilans, serta menyediakan sistem peringatan dini sehingga pemerintah dapat menyusun kebijakan berdasarkan data risiko penyakit dan tren epidemiologi. Ketiga, program ini juga akan meningkatkan kapasitas masyarakat dan komunitas lokal dalam memitigasi serta mencegah risiko hama dan penyakit karantina hewan melalui kampanye peningkatan kesadaran publik.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menekankan pentingnya pendekatan One Health dalam menghadapi tantangan tersebut. Pendekatan ini mengakui bahwa kesehatan hewan saling berkaitan dengan kesehatan manusia, tumbuhan, dan ekosistem secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor, termasuk pelibatan masyarakat dalam upaya peringatan dini dan kesiapsiagaan.

“Sistem karantina hewan merupakan garis pertahanan terdepan yang sangat penting dalam menghadapi berbagai risiko tersebut. FAO berkomitmen mendukung Barantin dalam memperkuat kapasitas karantina dan analisis risiko melalui pemanfaatan teknologi digital. Selain melindungi kesehatan hewan dan keamanan perdagangan global, penguatan sistem karantina diharapkan dapat menjaga kesehatan masyarakat, kelestarian ekosistem, serta mata pencaharian jutaan masyarakat Indonesia,” ujar Rajendra.

Program ini dilaksanakan melalui skema Technical Cooperation Programme (TCP) FAO, yang bertujuan memberikan bantuan teknis untuk menjawab kebutuhan paling mendesak negara-negara anggotanya.

Perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga, kalangan akademisi, organisasi profesi, serta pemangku kepentingan terkait menghadiri lokakarya peluncuran tersebut. Dalam kesempatan itu, mereka menyepakati arah pelaksanaan program, kerangka kerja, serta rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama periode proyek 2026–2028.

Sinergi lintas sektor yang kuat ini diharapkan menjadi langkah transformatif dalam mewujudkan sistem karantina berkelas dunia yang tidak hanya mendukung kelancaran sistem logistik, tetapi juga memberikan perlindungan yang kuat terhadap ketahanan pangan nasional, kesehatan masyarakat, dan perekonomian Indonesia.bella

 

Tag:

Bagikan:

Trending

b46399a1-5627-436b-bb6c-88231416767d
Bangun Kepercayaan Masyarakat pada Peternakan dengan Informasi Transparan
Dok by kementan
Komitmen BPTUHPT Padang Mengatas Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional
WhatsApp-Image-2026-07-27-at-10.12.02
Kesejahteran Peternak, Parameter Utama Kedaulatan Pangan Bangsa
b4f4afab-d46c-465b-b28c-d00495c46b9a
Barantin & FAO Luncurkan Program Penguatan Karantina Hewan
45356c13-9a80-46fa-be78-227ed8a8940d
Kongres XIV GPPU Tegaskan Pembibitan sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!