Livestock Free Ads
iklan banner website Zhejiang Maret scaled

BRIN Kembangkan Pengencer Semen Berbasis Nabati

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi baru di bidang reproduksi ternak melalui produk bernama BioMed NanoTech, medium pengencer untuk pembekuan semen sapi berbasis nabati dengan ukuran partikel nano 76,0 hingga 109,3 nanometer. Teknologi ini dipaparkan Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Muhammad Gunawan, dalam ajang Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 yang berlangsung di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (26/2).

Di hadapan pelaku industri dan pemangku kepentingan, Gunawan menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produksi semen beku nasional. Ia menuturkan, pengembangan BioMed NanoTech merupakan respons atas tantangan teknis dan biologis yang selama ini dihadapi balai inseminasi buatan di Indonesia.

Program Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik sendiri saat ini menjadi tulang punggung pengembangan peternakan nasional. Produksi dan distribusi semen beku dikendalikan oleh Balai Inseminasi Buatan (BIB) nasional, seperti di Lembang dan Singosari, serta 21 BIB daerah. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, produksi semen beku nasional rata-rata mencapai 6 hingga 7 juta dosis per tahun untuk berbagai rumpun sapi.

Selama ini, BIB memproduksi semen beku menggunakan pengencer konvensional berbasis protein hewani, terutama kuning telur dan susu skim. Menurut Gunawan, terdapat dua persoalan utama dari metode tersebut, yakni risiko biologis dan keterbatasan analisis visual.

Ia menjelaskan, penggunaan kuning telur membawa potensi penularan penyakit antardaerah, termasuk flu burung maupun bakteri tertentu. Risiko ini dinilai menjadi perhatian serius, terutama dalam sistem distribusi semen beku lintas wilayah yang semakin luas.

Selain itu, perkembangan teknologi evaluasi kualitas semen juga menuntut medium yang lebih jernih dan stabil. Saat ini, penilaian kualitas semen tidak lagi mengandalkan pengamatan subjektif petugas, melainkan menggunakan perangkat lunak computer-assisted semen analysis (CASA). Gunawan mengungkapkan, pengencer konvensional cenderung menghasilkan cairan keruh dengan banyak partikel debris, sehingga perangkat lunak kerap mengalami kesalahan saat melacak pergerakan dan motilitas sperma.

Menjawab tantangan tersebut, ia menegaskan bahwa formula BioMed NanoTech dirombak secara total dengan meninggalkan bahan baku hewani. “Kemudian tanpa protein hewani, tidak adanya kuning telur. Kita basic-nya dari kedelai, dari nabati,” ujar Gunawan.

Melalui pemanfaatan bahan nabati dan teknologi nano liposom, ukuran partikel pengencer berhasil direduksi hingga kisaran sekitar 100 nanometer. Manipulasi ukuran partikel ini membuat cairan menjadi sangat jernih dan homogen, sehingga sistem digital CASA mampu melakukan pelacakan sperma dengan akurasi tinggi dan kontras yang lebih baik.

Hasil pengujian pasca-pencairan (post-thawing) menunjukkan perlindungan seluler yang optimal terhadap sperma. BioMed NanoTech menghasilkan tingkat abnormalitas sperma lebih rendah dibandingkan pengencer berbasis kuning telur, yang menandakan perlindungan fisik terhadap struktur sel selama proses pembekuan berlangsung lebih baik.

Dari sisi stabilitas, pengencer ini diklaim mampu bertahan hingga 12 bulan bila disimpan pada suhu 2-8 °C tanpa mengalami kekeruhan. “Kemudian, dengan ukuran partikel yang seragam tersebut, kami turut menguji tingkat kestabilannya. Hasilnya, meskipun disimpan hingga satu tahun pada suhu 4-8 °C, larutan tetap jernih dan tidak mengalami kekeruhan,” terangnya.

Secara operasional, BioMed NanoTech juga menawarkan kepraktisan karena bersifat ready to use atau siap pakai. Petugas BIB tidak lagi perlu meracik dan menimbang bahan secara manual, sehingga proses produksi menjadi lebih efisien dan terstandar.

Sebelum digunakan, cairan cukup dihangatkan pada suhu 35-37 °C, lalu dicampurkan dengan semen sapi yang baru ditampung. Gunawan memastikan sterilitas produk terjaga karena telah difiltrasi menggunakan penyaring berukuran 0,2 mikrometer dan dilengkapi lima jenis antibiotik standar internasional, termasuk gentamisin dan tilosin.

Dari sisi ekonomi, inovasi ini dinilai mampu menekan biaya produksi secara signifikan. Pengencer komersial impor seperti Andromed, Steridyl, dan Bovifree rata-rata membutuhkan biaya di atas Rp 200 per straw.
Sementara itu, BioMed NanoTech mampu menekan biaya hingga Rp 145,87 per straw. Dengan demikian, terdapat potensi penghematan sebesar 27 hingga 33 % dibandingkan produk impor yang beredar di pasaran.
Saat ini, status teknologi BioMed NanoTech telah mencapai tahap kesiapan produksi skala industri atau TRL Mature. Inovasi hasil kolaborasi BRIN dan IPB University tersebut juga telah terdaftar patennya dengan nomor P00202415531.

Kredibilitas ilmiah riset ini turut diperkuat melalui publikasi di jurnal internasional bereputasi tinggi (Q1), Veterinary World. BioMed NanoTech tersedia dalam kemasan 200 mililiter hingga skala literan dan ditargetkan segera diimplementasikan di balai-balai inseminasi buatan di seluruh Indonesia.shara

Tag:

Bagikan:

Trending

By TROBOS
Harga Pakan Unggas Terpantau Turun
f4bcbd15-ad0c-4da4-9a5a-0dcf8fb6afad
Kementan Lepas Ekspor Produk Unggas ke Tiga Negara
BRIN
BRIN Kembangkan Pengencer Semen Berbasis Nabati
d3943e98-8ea0-45a2-8d19-5078676be123
Pembatasan Impor Saudi, Indonesia Perkuat Biosekuriti
993cab3f-78b1-41ac-8053-00320dd5eefb
Regulasi Sistem Peternakan Sapi Perah Organik
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!