Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Indonesia merupakan negara tropis dengan suhu harian rata-rata antara 25-27˚C. Adapun tingkat kelembaban udaranya tinggi akibat penguapan besar dari wilayah laut yang mengelilinginya. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang besar dalam pemeliharaan sapi perah, sebab kondisi tersebut sangat memengaruhi produktivitas, kesehatan, serta manajemen pakan ternak. Diperlukan adanya revolusi genetik supaya sapi perah dapat lebih adaptif dan produktf di Indonesia.
Mengulas tentang tantangan dan peluang tersebut, Moosa Genetica menggelar webinar bertajuk “Revolusi Genetik Sapi Perah: Bagaimana DNA Mengubah Cara Kita Memilih Sapi Unggul”. Kegiatan tersebut disambut antusias oleh para partisipan dengan peserta mencapai 300-an orang. Acara ini berlangsung pada Sabtu (29/8) yang diisi oleh Chief Geneticist Moosa, Prof. Sigit Prastowo.
Dalam sambutannya, Chief Executive Officer Moosa, Deddy F. Kurniawan, menyatakan bahwa untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan melakukan kontribusi di peternakan sapi perah. “Hari ini kami concern produktivitas yang berdampak pada kesejahteraan peternak. produktivitas tidak hanya ditentukan oleh manajemen, di mana usaha peternakan sapi perah bukan semata untuk hobi, tetapi bisnis/profit/hasil ekonomi/keuntungan,” ia menggaris bawahi. In this economy, lanjut Deddy, peternak sapi perah memiliki modal yang sama dengan negara lain.
Adapun tantangan produktivitas, ia melihat, genetiknya masih menjadi masalah dan cross breeding tidak terkendali selama berpuluh-puluh tahun, sehingga tidak bisa memiliki standar sapi perah di Indonesia seperti apa. Ketersediaan nutrisi yang tinggi, pakan yang memiliki nilai energi tinggi juga masih menjadi kendala di Indonesia.bella






