Rejang Lebong (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah terus memperkuat langkah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah, termasuk di Rejang Lebong pada Kamis (5/3). Kegiatan ini bertujuan memastikan masyarakat tetap dapat mengakses bahan pangan pokok dengan harga terjangkau sekaligus memperkuat pengawasan distribusi pangan di daerah.
Gerakan Pangan Murah juga menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan pasokan serta menjamin keamanan pangan, khususnya pangan asal hewan. Pemerintah bersama berbagai pihak terkait berupaya menghadirkan bahan pangan pokok dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar guna membantu masyarakat memenuhi kebutuhan selama Ramadan.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah komoditas pangan pokok dijual dengan harga terjangkau. Di antaranya beras SPHP yang dipasarkan seharga Rp 58.000 per kemasan 5 kilogram (kg), gula pasir Maniskita Rp 17.000 per kg, serta minyak goreng Minyakita Rp 15.000 per kg.
Selain itu, pada beberapa titik pelaksanaan sebelumnya juga tersedia komoditas lain seperti bawang merah dan bawang putih dengan harga Rp 32.000 per kg. Penyediaan berbagai komoditas ini diharapkan dapat membantu menekan kenaikan harga yang biasanya terjadi menjelang hari besar keagamaan.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional, Rachmi Widiriani, menegaskan bahwa Gerakan Pangan Murah merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat selama Ramadan. Ia menyebut kegiatan ini dirancang untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
“Gerakan Pangan Murah ini bertujuan memastikan masyarakat dapat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri,” ujar Rachmi.
Selain pelaksanaan GPM, tim juga melakukan pemantauan harga telur di tingkat produsen dengan mengunjungi unit usaha ayam petelur Putra Mandiri Grup milik Seman Riadi di Kelurahan Air Bang, Kota Curup. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi produksi sekaligus memantau harga komoditas telur di tingkat peternak.
Unit usaha tersebut diketahui menyediakan berbagai komponen usaha peternakan ayam petelur. Mulai dari penyediaan bibit, ayam pullet siap bertelur, telur konsumsi, pakan, hingga rak telur serta produk sampingan berupa pupuk yang berasal dari kotoran ayam.
Telur ayam dari usaha tersebut dipasarkan dalam satu karpet berisi 30 butir dengan harga bervariasi antara Rp 45.000 hingga Rp 55.000, tergantung ukuran telur. Jika dikonversi, harga tersebut setara dengan sekitar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kg.
Sebagian besar penjualan telur dari usaha ini dipasarkan di wilayah Bengkulu dan sekitarnya. Distribusi ini menjadi salah satu penopang pasokan telur di daerah tersebut, khususnya selama periode meningkatnya permintaan saat Ramadan.
Dalam rangka memastikan kesehatan ternak dan keamanan pangan asal hewan, tim dari Balai Veteriner Lampung turut melakukan pengambilan spesimen kesehatan ternak di lokasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada populasi sekitar 2.160 ekor ayam petelur strain Lohman.
Dari populasi tersebut, sebanyak 60 ekor ayam diambil sampelnya berupa darah dan swab kloaka untuk keperluan pemeriksaan laboratorium. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan ternak secara berkala.
Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, menjelaskan bahwa pengambilan sampel tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengawasan kesehatan hewan serta jaminan keamanan pangan asal hewan. Ia menegaskan bahwa pengujian dilakukan untuk memastikan ternak tetap dalam kondisi sehat dan produk yang dihasilkan aman dikonsumsi masyarakat.
“Pengambilan sampel ini dilakukan untuk memantau status kesehatan ternak melalui pemeriksaan antibodi terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza (AI), serta deteksi melalui metode PCR dan pemeriksaan bakteriologi,” kata Suryantana.
Ia menambahkan bahwa selain sampel dari ternak, tim juga mengambil sampel telur yang dihasilkan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan produk telur yang beredar di masyarakat memenuhi standar keamanan pangan.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga teknis terkait, kegiatan Gerakan Pangan Murah dan pemantauan kesehatan ternak ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Upaya tersebut sekaligus memastikan keamanan pangan asal hewan bagi masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.shara




