Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) berkomitmen menjaga stabilitas perunggasan nasional dengan memastikan ketersediaan bibit, memastikan keseimbangan supply dan demand, serta memberi kepastian usaha bagi peternak.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, ditemui pada Senin (5/10) di Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, menyambut baik komitmen GPPU untuk bersama-sama menjaga produksi dan stabilitas harga perunggasan, “Kami mengapresiasi komitmen GPPU untuk bersama-sama menjaga produksi dan stabilitas harga. Pemerintah berharap seluruh mata rantai perunggasan terus bekerja sama agar ketersediaan DOC terjaga, harga tetap wajar, dan peternak memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya,” ujar Hary.
Menurutnya, komunikasi dalam kerjasama ini adalah kunci keberhasilan dalam menjaga stabilitas di lapangan. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan ekosistem, sementara pelaku usaha memastikan produksi dan distribusi berjalan baik.
Ketua Umum GPPU Asrokh Nawawi melaporkan kondisi perunggasan khususnya ayam broiler yang cenderung stabil sesuai harga acuan pemerintah. Disampaikan oleh Asrokh, harga DOC broiler saat ini Rp 7.000 per ekor, loco pabrik dan non-vaksin. Sedangkan DOC layer yaitu Rp 11.000 per ekor, loco pabrik dan non vaksin.
“Kami pimpinan dan pengurus GPPU telah berkoordinasi dengan Ditjen PKH melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak untuk bersama-sama berkomitmen menjaga produksi dan stabilitas harga,” ujar Asrokh.
Dirinya juga meminta para distributor dan mitra usaha untuk bekerjasama dengan mengambil margin dalam batas wajar agar keseimbangan harga dapat dijaga hingga ke peternak.
Dukungan pemerintah tidak hanya pada pembibitan, tapi juga keseimbangan pada produksi, penyerapan dan distribusi. Pelaku usaha diimbau untuk melakukan flock replacement dan tidak menunda afkir ayam akhir masa produktif untuk menjaga keseimbangan populasi dan serapan pasar, serta meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Selain itu untuk menjaga keseimbangan supply dan demand, salah satunya melalui peningkatan pemanfaatan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya ini diharapkan dapat menyerap banyak telur dari peternak lokal.
Lebih lanjut, pemerintah mendorong hilirisasi dari pengembangan industri pengolahan telur, yang diantaranya adalah tepung telur (egg powder). Hadirnya industri ini diharapkan mampu meningkatkan serapan telur dan meningkatkan nilai tambah.
Hary menegaskan, keseimbangan perunggasan ini menyangkut ekosistem yang lebih luas, mulai dari perbibitan, produksi, distribusi, penyerapan, dan hilirisasi. Dengan memperkuat koordinasi pemerintah dan pelaku usaha, diharapkan dapat menjaga dan memperkuat perunggasan nasional.
“Yang kita jaga bukan hanya harga, tetapi ekosistemnya. Produksi harus berkelanjutan, peternak memperoleh harga yang layak, distribusi berjalan, industri berkembang, dan masyarakat tetap mendapatkan produk pangan asal unggas dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.fara
#unggas #bibit #harga #ayam #telur #kolaborasi #GPPU #kementan #hilirisasi #mbg




