Estafet kepemimpinan, peluncuran buku 55 tahun, dan seminar nasional menjadi momentum memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani nasional dan semakin kompleksnya tantangan industri global, sektor pembibitan unggas kembali menegaskan posisinya sebagai fondasi utama pembangunan perunggasan Indonesia. Melalui Kongres XIV yang diselenggarakan di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026, Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) memperkuat komitmennya membangun industri perunggasan yang modern, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui estafet kepemimpinan, peluncuran buku 55 tahun GPPU, serta seminar nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi ayam ras pedaging Indonesia pada tahun 2024 mencapai lebih dari 3,2 miliar ekor per tahun, sementara populasi ayam ras petelur mencapai sekitar 390 juta ekor. Produksi daging ayam nasional tercatat melebihi 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perunggasan merupakan sektor protein hewani terbesar dan paling dominan di Indonesia.
Di balik besarnya produksi tersebut, terdapat sektor pembibitan yang menjadi fondasi seluruh rantai produksi unggas nasional.
Mengusung tema “Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional”, Ketua Umum GPPU periode 2022-2026 Achmad Dawami, menyampaikan bahwa sektor pembibitan merupakan fondasi utama keberhasilan industri perunggasan nasional. Pembibitan bukan sekedar aktivitas menghasilkan Day Old Chick (DOC), tetapi menjadi pusat pengendali mutu genetik, produktivitas, efisiensi produksi, ketahanan terhadap penyakit, serta keberlanjutan industri secara keseluruhan. Keberlanjutan produksi ayam dan telur yang menjadi sumber protein utama masyarakat sangat ditentukan oleh sistem pembibitan yang kuat, efisien, adaptif, dan berbasis inovasi.
“Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan. Di era modern, sektor pembibitan juga dituntut untuk terus beradaptasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, peningkatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan kesejahteraan hewan(animal welfare). Kemampuan industri pembibitan dalam melakukan inovasi akan sangat menentukan keberhasilan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing.”
ungkap Ketua GPPU dua periode ini.
Momentum kongres tahun ini juga ditandai dengan Peluncuran buku Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan.
Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia menjadi simbol perjalanan panjang organisasi dalam mengawal perkembangan industri pembibitan nasional. Buku tersebut tidak hanya mendokumentasikan sejarah GPPU sejak berdiri pada tahun 1970, tetapi juga merekam berbagai tonggak penting perkembangan industri perunggasan Indonesia, mulai dari modernisasi pembibitan, dinamika kebijakan, tantangan penyakit hewan, hingga berbagai inovasi yang membentuk industri perunggasan nasional saat ini.
Seminar nasional yang menjadi bagian dari Kongres GPPU menghadirkan narasumber dari pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas dinamika ekonomi global, transformasi sektor pembibitan, penguatan biosekuriti, digitalisasi breeding, hingga arah kebijakan menuju industri perunggasan Indonesia yang modern dan berkelanjutan.
Pengurus GPPU periode 2026–2030 hasil Kongres XIV dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, disaksikan para pimpinan perusahaan anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, serta para pemangku kepentingan industri perunggasan nasional.
*Ketua GPPU 2026-2030*
Melalui proses musyawarah mufakat, Kongres Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Ke 14, memilih Asrokh Nawawi menjadi Ketua Umum GPPU periode 2026 – 2030. Asrokh dalam sambutan pertama sebagai Ketua Umum GPPU mengatakan bahwa amanah untuk menjadi Ketua Umum GPPU masa bakti 2026–2030 tentu bukan amanah yang ringan, karena tantangan industri perunggasan ke depan akan semakin besar, bahkan mungkin lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, dia berharap dukungan dari seluruh anggota GPPU serta seluruh insan perunggasan Indonesia agar dapat maju bersama. “Kami juga akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Insya Allah, melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai dinamika yang ada, industri perunggasan nasional akan terus tumbuh dan berkembang,” ucapnya dengan optimis.
*Tentang GPPU*
Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) didirikan pada 20 Desember 1970 sebagai organisasi perusahaan pembibitan unggas di Indonesia. Selama 55 tahun, GPPU telah berperan sebagai organisasi yang menghimpun perusahaan pembibitan unggas nasional dan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan bibit unggas berkualitas bagi industri perunggasan Indonesia. Saat ini tercatat 37 perusahaan Anggota GPPU
Ke depan, GPPU menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor hulu perunggasan.
Melalui kolaborasi, inovasi, dan regenerasi kepemimpinan, GPPU optimistis industri pembibitan akan terus menjadi arsitek pembangunan perunggasan nasional menuju Indonesia yang semakin tangguh dalam penyediaan pangan dan protein hewani.





