Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Program Hilirisasi Riset Prioritas – Dorongan Teknologi: Benih Kacang Koro (Canavalia ensiformis) dan Pusat Studi Hewan Tropika/Center for Tropical Animal Studies (CENTRAS) IPB University melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Pengembangan Sistem Perbenihan Koro Pedang untuk Mendukung Kemandirian Bahan Baku Industri Pakan Nasionaldi IPB Convention Center (ICC) Bogor, Jawa Barat pada (21/). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan dihadiri oleh akademisi, penggiat dan pembenih koro pedang dan stakeholder terkait.
Narasumbernya yaitu Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, M.Sc. – Peneliti Senior BRIN, .Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, M.Si. – Dosen dan Peneliti IPB, Dr. Tri Melasari, S.Pt. M.Si. – Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan PKH, Kementerian Pertanian RI, Ir. Tevi Melviana, M.Pt, IPU, ASEAN Eng – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Eko Priyanto, S.Hut. – Direktur PT Citra Putra Kebun Asri (PT CPKA), Ir. Dadang Syamsul Munir, M.M. – Direktur PT Botani Seed Indonesia (PT BSI) dan drh. Suparmi, M.S. – Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan.
Prof. Dr. Ir. Darda Efendi, M. Si -Sekretaris Lembaga Riset Internasional Pangan Gizi Kesehatan dan Halal IPB University dalam sambutannya mengatakan bahwa kacang koro pedang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sekaligus sebagai bahan pangan alternatif pengganti kedelai. Namun, masih terdapat beberapa permasalahan, terutama dalam penyediaan benih. “Saat ini, pengembangan koro pedang belum dilakukan dalam skala yang luas. Apabila nantinya dikembangkan secara komersial dalam skala besar, tentu akan muncul tantangan terkait ketersediaan benih dalam jumlah yang memadai,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia sebutkan mudah-mudahan materi yang disampaikan oleh para narasumber serta berbagai hal yang di diskusikan bersama dapat melahirkan ide-ide baru dan ditindaklanjuti melalui kajian serta aksi nyata di lapangan. “Dengan demikian, hasil kegiatan ini tidak hanya berhenti pada diskusi di ruangan ini, tetapi juga dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kapasitas produksi benih, penanganan pascapanen, penyimpanan benih, serta distribusi benih antarwilayah koro pedang” paparnya.
Koro Pedang Sumber Protein
Muchdar Soedarjo, Peneliti dari BRIN menjelaskan kacang koro pedang merupakan tanaman agribisnis potensial. Produksi biji koro pedang sekitar 4 ton/ha (160 g/tanaman) dengan populasi 25 ribu tanaman (jarak tanam 80 x 50 cm). Pada 2019 harga biji koro pedang Rp 8000 sampai Rp 10 000 per kg sehingga nilai jual per Ha Rp 32 – 40 juta dalam 5-6 bulan dengan, jauh melampaui nilai jual kedelai atau tanaman aneka kacang lainnya.
Mengandung protein cukup tinggi (28.6 %) dan kadar lemak yang rendah (2.26 %) dan dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan industri seperti tempe, tahu, yogurt, susu, kripik, biskuit dan abon. Lalu merupakan pangan fungsional karena mengandung antioksidan tinggi: anti hipertensi, anti dibetes tipe 2. “Biji koro pedang juga merupakan komoditas ekspor. Tanaman koro pedang dapat dikembangkan di daerah relatif kurang subur dan kurang air, sementara daerah kurang subur dan kurang air banyak terdapat di Indonesia,” ungkapnya.
Tri Melasari, Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan menuturkan realisasi pemasukan Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT) pada 2026 mencapai 7,79 juta ton, naik 1,3% dibandingkan realisasi pada 2025 sebesar 7,70 juta ton. SBM tetap mendominasi dengan pangsa sekitar 68,7 % dari total realisasi 2026 yang menunjukkan tingginya kebutuhan protein nabati impor. Ketersediaan dan stabilitas pasokan BPAT, terutama SBM, penting untuk menjaga kelancaran produksi dan mengendalikan biaya pakan.
Struktur ongkos produksi peternakan di Indonesia untuk tingkat perusahaan, pakan merupakan komponen biaya terbesar. Biaya pakan mencapai 67,82 % pada ayam pedaging (broiler)dan 74,66 % pada ayam petelur (layer). Sementara untuk tingkat rumah tangga, biaya pakan mencapai 56,96 % pada broiler dan 71,71% pada layer.
Sedangkan produksi pakan nasional meningkat dari 17,64 juta ton pada 2022 menjadi 20,35 juta ton pada 2025. Peningkatan terutama ditopang oleh pakan unggas, yang mencapai 19,64 juta ton pada 2025 atau sekitar 96,52 % dari total produksi. “Pada 2026, produksi pakan tercatat 16,72 juta ton, dengan pakan unggas sebesar 16,11 juta ton atau sekitar 96,35 %,” tegasnya.
Arah kebijakan salah satunya dengan peningkatan pemanfaatan bahan pakan lokal diantaranya
diversifikasi bahan baku pakan nasional. Dengan mengembangkan koro pedang sebagai alternatif sumber protein nabati lokal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku tertentu, memperluas pilihan formulasi pakan, serta memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri pakan.
Lalu penjaminan keamanan dan mutu bahan pakan. Penguatan produksi dan pasokan dalam negeri, pengembangan teknologi pengolahan, pengembangan industri dan pasar serta perlunya dukungan regulasi, riset dan pendampingan. “Ketersediaan bahan baku pakan yang cukup, terjangkau dan memenuhi standar mutu merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,”imbuhnya.
Tevi Melviana, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan bahan baku lokal memiliki potensi besar untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, terutama sumber protein untuk industri pakan ternak. Selama ini, anggota GPMT masih sangat bergantung pada impor berbagai bahan baku sumber protein, seperti Soy Bean Meal (SBM), Meat And Bone Meal (MBM), dan bahan baku protein lainnya.
“Proporsi bahan baku protein impor diperkirakan sekitar 30– 35 %, nilai ekonominya dapat mencapai 60 – 65 % dari total biaya produksi pakan,” jelasnya. Oleh karena itu, apabila proyek pengembangan sumber protein lokal ini dapat direalisasikan dan menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan industri, manfaatnya akan sangat besar bagi Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor dan menghemat devisa negara, pengembangan ini juga akan meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal serta memperkuat kemandirian industri pakan nasional.
Sumber protein merupakan komponen yang sangat penting dalam formulasi pakan karena menyediakan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan otot, baik pada unggas (poultry) maupun ternak ruminansia. Dengan demikian, pengembangan sumber protein lokal bukan hanya menjadi peluang bisnis, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri pakan, meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, dan mendukung keberlanjutan sektor peternakan Indonesia. ramdan





