Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Penyakit Tetelo atau Newcastle Disease (ND) masih menjadi tantangan serius bagi sektor perunggasan nasional. Meski tidak selalu berujung pada kematian ayam, penyakit ini kerap menurunkan produksi telur dan menghambat pertumbuhan unggas secara signifikan, sehingga berdampak langsung pada pendapatan peternak.
Dampak ND sering kali tidak disadari karena ayam tampak sehat secara fisik. Namun, penurunan performa produksi membuat hasil panen tidak optimal dan menekan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Untuk menekan risiko kerugian tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penguatan vaksinasi dan penerapan biosekuriti secara konsisten. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan peternak agar produktivitas unggas tetap terjaga dan usaha perunggasan berkelanjutan.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa mengatakan ND hingga kini masih bersifat endemik di Indonesia. Ia menilai penyakit ini berpotensi mengganggu produksi unggas nasional apabila tidak dikendalikan secara serius dan terstruktur.
“Newcastle Disease tidak hanya berdampak pada kesehatan unggas, tetapi juga menurunkan produktivitas. Jika tidak dikendalikan dengan baik, ini akan berpengaruh pada ketersediaan pangan asal unggas,” ujar Hendra dalam webinar bertajuk ‘Satu Abad Newcastle Disease di Indonesia: Refleksi Sejarah, Tantangan Masa Kini, dan Strategi Masa Depan’, Senin (26/1).
Menurut Hendra, pengendalian ND memiliki arti penting bagi peternak karena berkaitan langsung dengan menjaga produktivitas ayam. Ia menyoroti banyak kasus ND subklinis yang tidak menimbulkan gejala jelas, tetapi tetap menyebabkan penurunan produksi telur maupun pertumbuhan ayam.
Hendra menegaskan bahwa pengendalian ND tidak dapat dibebankan kepada peternak semata. Pemerintah, kata dia, hadir melalui pendekatan kolaboratif yang dikenal sebagai segitiga emas, yakni pemerintah sebagai regulator, sektor swasta sebagai penyedia teknologi vaksin dan obat hewan, serta peternak sebagai pelaksana di lapangan.
“Vaksinasi, biosekuriti, dan pelaporan penyakit harus berjalan seiring agar pengendalian ND lebih efektif,” tegasnya. Sinergi ketiga unsur tersebut dinilai menjadi kunci dalam menekan penyebaran penyakit di tingkat lapangan.
Kepala Balai Veteriner Lampung Suryantana menyampaikan bahwa tantangan utama ND saat ini justru terletak pada dampak ekonominya. Ia menyebut banyak kasus ND tidak mematikan ayam, tetapi menyebabkan penurunan produktivitas yang signifikan.
“Saat ini banyak kasus ND yang tidak mematikan ayam, tetapi produktivitasnya turun drastis. Ayam terlihat sehat, namun produksi telur atau pertumbuhan tidak optimal,” kata Suryantana. Kondisi tersebut membuat peternak kerap mengalami kerugian tanpa mengetahui penyebab pastinya.
Sementara itu, Ketua Komite Kesehatan Unggas Nasional Prof. I Wayan Teguh Wibawan menekankan bahwa vaksinasi tetap menjadi benteng utama dalam pengendalian ND. Menurutnya, biosekuriti penting diterapkan, tetapi belum cukup untuk menghadapi penyakit yang menular melalui udara.
“Biosekuriti penting, tetapi tidak cukup. Untuk penyakit yang menular lewat udara seperti ND, vaksinasi adalah benteng utama agar ayam tidak sakit dan produksi tetap terjaga,” jelas Prof. Wayan. Ia menilai vaksinasi menjadi langkah paling efektif dalam menjaga stabilitas produksi unggas.
Ia juga mengingatkan pentingnya kecocokan vaksin dengan virus ND yang beredar di lapangan. “Jika virus masih menyebar secara diam-diam, produksi akan tetap terganggu meski ayam tidak menunjukkan gejala berat,” ujarnya.
Kementan menilai peningkatan pemahaman peternak terhadap ND, termasuk bentuk subklinisnya, menjadi kunci keberhasilan pengendalian penyakit ini. Melalui vaksinasi yang tepat, penerapan biosekuriti yang disiplin, serta kerja sama semua pihak, pemerintah menegaskan komitmennya untuk melindungi peternak dari risiko kerugian dan menjaga ketersediaan pangan asal unggas bagi masyarakat.shara




