Livestock Free Ads
iklan banner website Zhejiang Maret scaled

HIPRA Dorong Imunitas Sejak Dini Hadapi Ancaman IBD

Tangerang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Ancaman Infectious Bursal Disease (IBD) yang terus berkembang mendorong pelaku industri perunggasan untuk memperkuat strategi pengendalian sejak fase paling awal kehidupan ayam. Perubahan karakter virus yang semakin kompleks membuat pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai, sehingga diperlukan langkah yang lebih adaptif dan berbasis sains. Fokus pada pembentukan imunitas sejak dini pun menjadi perhatian utama dalam menjaga performa unggas secara berkelanjutan.

Kesadaran tersebut mendorong berbagai pihak untuk duduk bersama dan membahas solusi yang lebih komprehensif. Diskusi tidak hanya berputar pada pengobatan atau penanganan saat wabah terjadi, melainkan bergeser pada upaya pencegahan yang terstruktur sejak hulu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menekan risiko kerugian sekaligus menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan penyakit yang semakin dinamis.

WhatsApp Image 2026 04 10 at 14.36.48
Foto Bersama By Shara

Isu ini mengemuka dalam HIPRA Poultry Immunology Class (HPIC) Gumboro 2026 yang digelar oleh PT HIPRA Indonesia. Forum tersebut menghadirkan akademisi, praktisi, dan pelaku usaha untuk berbagi wawasan serta pengalaman lapangan terkait evolusi virus IBD. Kegiatan berlangsung pada Rabu (8/4) di Episode Hotel, Gading Serpong, Tangerang.

Regional Manager HIPRA Asia & Oceania, Peter O. Martinez, membuka diskusi dengan menggambarkan perubahan besar dalam industri perunggasan modern. Ia mengaitkan tuntutan efisiensi produksi dengan meningkatnya risiko biologis yang harus dihadapi pelaku usaha. “Gangguan kecil pada fase awal bisa berdampak panjang terhadap performa ayam,” ucapnya.

Dalam pandangannya, pengendalian IBD tidak lagi cukup dilakukan secara reaktif. Ia menilai pendekatan preventif berbasis imunologi menjadi kunci untuk menghadapi evolusi virus yang terus berlangsung. Pembangunan imunitas sejak hatchery, lanjutnya, merupakan titik strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh industri.

Country Head HIPRA Indonesia, Irfan Wahyu Wijaya, melanjutkan dengan menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung perkembangan industri perunggasan nasional. Ia menyampaikan bahwa forum ilmiah seperti HPIC menjadi sarana penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam satu ruang diskusi. “Kami ingin terus berkontribusi dalam kemajuan dunia poultry melalui kolaborasi seperti ini,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan dalam sistem produksi, termasuk dalam menghadapi tantangan penyakit. Menurutnya, ancaman seperti Gumboro tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor.

WhatsApp Image 2026 04 10 at 14.36.49
Foto Bersama By Shara

Benteng Awal Lawan Gumboro

Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof Michael Hariyadi Wibowo, membuka materi dengan mengulas perjalanan panjang penyakit Gumboro di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa virus ini memiliki karakter RNA yang mudah mengalami mutasi, sehingga perkembangan strain baru menjadi tantangan yang terus berulang. “Kemunculan varian baru adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari,” ungkapnya.

Ia kemudian menggambarkan kondisi terkini di mana strain sangat virulen mendominasi kasus di lapangan. Di sisi lain, ia mengakui bahwa keterbatasan data masih menjadi kendala dalam memahami penyebaran penyakit secara menyeluruh. Minimnya riset, menurutnya, membuat gambaran epidemiologi belum sepenuhnya terpetakan.

Dalam penjelasan lanjutannya, Prof Michael mengingatkan adanya infeksi subklinis yang sering luput dari perhatian. Ia menjelaskan bahwa meski tanpa gejala jelas, kerusakan pada organ bursa tetap terjadi dan berdampak pada sistem imun ayam. Kondisi ini berpotensi menurunkan efektivitas vaksinasi sekaligus performa produksi.

Regional Technical Manager HIPRA Asia & Oceania, Myeong Seob (Allen) Kim, mengajak peserta melihat perkembangan IBD dari perspektif global. Ia memaparkan bahwa sejak 2020, genotipe baru telah terdeteksi di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara. “Perkembangan ini menjadi sinyal bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan,” sebutnya.

Ia kemudian memperkenalkan pendekatan vaksinasi berbasis hatchery sebagai strategi perlindungan yang lebih dini. Ia berpandangan, teknologi imunokompleks memungkinkan vaksin tetap efektif meski terdapat antibodi maternal. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan perlindungan yang lebih konsisten di lapangan.

Allen juga menjelaskan konsep competitive exclusion sebagai bagian dari strategi tersebut. Ia menggambarkan bahwa ketika virus vaksin lebih dulu mengkolonisasi bursa, virus lapangan akan kesulitan berkembang. Pendekatan ini dianggap relevan dalam menghadapi tekanan infeksi yang tinggi di berbagai wilayah produksi.

DH Customer Enablement Specialist HIPRA Spain, Sergio Mesa Raya, menyoroti pentingnya efisiensi biaya dari perspektif hatchery. Ia menilai bahwa investasi pada fase awal sangat menentukan biaya produksi secara keseluruhan. “Apa yang dilakukan di awal akan berdampak besar di akhir,” tuturnya.

Ia kemudian menekankan pentingnya indikator kesehatan sebagai dasar pengambilan keputusan. Parameter seperti kualitas bursa dan respons vaksin, baginya, dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan risiko kerugian. Pendekatan berbasis data menjadi kunci dalam sistem produksi modern.

Sergio juga menggarisbawahi perlunya integrasi antara manajemen hatchery dan program vaksinasi. Ia melihat keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, melainkan hasil dari sinergi berbagai aspek. Dengan pendekatan tersebut, sistem produksi dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.

Technical Service Manager HIPRA Indonesia, Aditya Fuad Risqianto, menutup sesi dengan berbagi pengalaman implementasi di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa strategi global HIPRA telah disesuaikan dengan kondisi lokal di lapangan. “Pendekatan ini kami adaptasi agar sesuai dengan kebutuhan peternak di Indonesia,” tandasnya.

Ia mengungkapkan bahwa penerapan vaksinasi berbasis hatchery menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan perlindungan terhadap IBD. Selain itu, konsistensi performa ayam juga mengalami perbaikan, sehingga memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha.

Di akhir pemaparannya, Aditya menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci keberhasilan. Ia menilai sinergi antara perusahaan, akademisi, dan peternak menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan industri. Dengan kerja sama yang kuat, ia optimistis industri perunggasan nasional mampu terus berkembang.shara

 

Tag:

Bagikan:

Trending

By Shara
HIPRA Dorong Imunitas Sejak Dini Hadapi Ancaman IBD
By Antara
Prof Akhmad Sodiq Kembali Pimpin Unsoed 2026-2030
By Bella
BRIN & FAO Gelar Konferensi Internasional Keberlanjutan Peternakan  
IMG_8861
Panduan Beternak Layer Cage-Free di Indonesia Resmi Terbit
By Kementan
Pemerintah Bersama HPDKI Perkuat Perlindungan Peternak Domba-Kambing
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!