Malang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melaksanakan groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di enam titik nasional, dengan Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan, Jumat (6/2). Program ini diinisiasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan aman, berkelanjutan, dan merata di tengah meningkatnya kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah menilai, meskipun Indonesia secara teknis telah mencapai swasembada daging dan telur ayam, struktur pasokan masih perlu diperkuat agar lebih adaptif terhadap lonjakan permintaan. Tambahan kebutuhan untuk mendukung MBG diperkirakan mencapai 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun, sehingga diperlukan penguatan ekosistem produksi yang lebih terintegrasi.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa proyek tersebut tidak sekadar pembangunan kandang. Ia menyatakan, hilirisasi ayam terintegrasi merupakan inisiatif langsung Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara untuk memperkuat swasembada protein nasional.
“Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara,” ujar Agung dalam acara Groundbreaking Hilirisasi Fase 1 Danantara yang digelar secara hybrid di Malang. Ia menambahkan, program tersebut dirancang agar swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat.

Lanjutnya, Kementerian Pertanian mendukung penuh program hilirisasi sebagai instrumen pemerataan produksi di berbagai wilayah. Melalui skema ini, pemerintah ingin menjaga stabilisasi harga sekaligus menjamin kepastian pasokan daging ayam dan telur, khususnya untuk mendukung pelaksanaan MBG.
Ia menjelaskan, ekosistem yang dibangun mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan ayam di hulu, yakni grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga final stock (FS). Selain itu, penguatan juga dilakukan pada sektor pakan berbasis bahan baku dalam negeri, layanan kesehatan hewan, rumah potong hewan unggas (RPHU) dan fasilitas rantai dingin (cold chain), pengolahan daging dan telur, hingga sistem logistik dan pemasaran.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyiapkan dukungan investasi sekitar Rp 20 triliun melalui Danantara. Di luar itu, akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp 50 triliun juga disiapkan bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa Merah Putih.
Direktur Utama ID Food, Gimoyo, mengatakan BUMN pangan akan berperan dalam menyerap hasil produksi peternak rakyat sekaligus menjaga keseimbangan pasar. Ia menjelaskan, pada tahap awal groundbreaking dilakukan di enam titik sebagai fase pertama dari total 30 lokasi pengembangan secara nasional.
Enam titik tersebut berada di Jawa Timur (Malang), Sulawesi Selatan (Bone), Gorontalo (Gorontalo Utara), Kalimantan Timur (Paser), Nusa Tenggara Barat (Sumbawa), dan Lampung (Lampung Selatan). Pemerintah menargetkan pengembangan ini akan diperluas secara bertahap ke lokasi lain sesuai kebutuhan dan kesiapan wilayah.
Groundbreaking proyek ini diresmikan langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, bersama jajaran. Kehadiran pimpinan kementerian dan lembaga menandai komitmen pemerintah dalam mempercepat realisasi hilirisasi sektor peternakan.
Rosan menyampaikan bahwa Danantara saat ini mendukung enam proyek hilirisasi strategis dengan total nilai investasi sekitar 7 miliar dolar AS. Seluruh proyek tersebut, kata dia, menjadi prioritas Presiden dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

“Proyek hilirisasi selalu menjadi prioritas Bapak Presiden. Karena itu percepatan terus dilakukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh ekonomi masyarakat. Melalui konsistensi kebijakan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, hilirisasi diyakini menjadi kunci menuju Indonesia yang makmur dan sejahtera,” imbuhnya.
Dari proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini, pemerintah memproyeksikan tambahan produksi sebesar 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur. Program tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 1,46 juta lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan bruto peternak hingga Rp 81,5 triliun per tahun.
Secara sosial, tambahan pasokan ini diharapkan mampu menopang kebutuhan sekitar 82,9 juta penerima manfaat MBG. Pemerintah juga menilai program tersebut berpotensi berkontribusi dalam menurunkan angka stunting dan kemiskinan melalui penguatan akses protein hewani yang terjangkau dan merata.shara




