Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Lampung menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) X di Gedung Fakultas Pertanian Unila, Bandarlampung, Sabtu (14/2) lalu. Muswil yang dibuka Dekan FP Unila Dr Ir Kuswanta Futas Hidayat, MP tersebut dimeriahkan dengan seminar nasional (semnas) hilirisasi peternakan.
Semnas menampilkan dua narasumber Ir. Didiek Purwanto,IPU (Ketua Dewan Gapuspindo) dan Ir. Agus Wahyudi (Direktur Kajian Perunggasan PB ISPI dan Ketua PINTAR Lampung) dengan moderator Dwi Retno Mulyaningrum, S.Pt., M. Eng., M. Sc. (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung).
Dalam sambutannya saat membuka Muswil Dekan FP Unila Dr Ir Kuswanta Futas Hidayat, MP menyatakan, ISPI menjadi jembatan antara akademisi dengan praktisi peternakan di lapangan. Oleh karena itu pengurus dan anggota ISPI harus proaktif memajukan sektor peternakan dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.
“Tugas kita bersama untuk mendidik dan membina peternak agar menjadi peternak yang menerapkan teknologi peternakan dalam menjalankan usahanya,” imbau Dekan di depan para pengurus dan anggota ISPI Lampung serta undangan lainnya.
Ditambahkan Dekan, termasuk dalam hilirisasi sektor peternakan yang dicanangkan pemerintah menjadi program nasional harus didukung segenap pemangku kepentingan, termasuk ISPI untuk mensukseskannya guna meningkatkan ketahanan pangan.

Sementara Didiek Purwanto dalam pemaparannya menjelaskan bahwa terdapat sejumlah persoalan yang menghadang sektor peternakan. Di antaranya, populasi ternak cenderung menurun, masih bersifat sambilan dan sebagian besar pendidikan peternak rendah serta rendahnya minat generasi terdidik menjadi peternak.
“Jika tidak ini tidak diubah termasuk mindset kita terhadap dunia peternakan maka anak cucu kita akan menjadi buruh. Dan yang memikmati pasar peternakan Indonesia adalah Australia dan Brasil yang memiliki populasi 50 juta ekor sapi. Bahkan, India yang di negaranya berjangkit PMK hingga kini dagingnya berkeliaran di Indonesia begitu banyak,” tuturnya.
Menurut data BPS tahun 2025, lanjutnya, populasi sapi di Indonesia tinggal 13 juta. “Pada tahun 2026 ini kita akan kekurangan 456 ribu ton daging dari kebutuhan 847 ribu ton. Jika kekurangan ini dipenuhi dari impor dengan harga Rp100 ribu/kg maka akan menguras devisa negara Rp45,6 triliun. “Ini angka yang sungguh besar yang sesungguhnya jika sektor peternakan kita benahi bisa dipenuhi dari dalam negeri,’ sambungnya.
Hilirisasi
Narasumber kedua Agus Wahyudi banyak mengulas soal iklim industri perunggasan di Tanah Air, termasuk di Lampung. Menurut Agus, pada tahun 2025 kondisinya membaik setelah sebelumnya merugi. Dikhawatirkan pada tahun 2026 ini kondisinya berbalik lagi karena jor-joran membangun kandang, sementara peningkatan permintaan dari program MBG tidak sampai 5 %.
Terkait hilirisasi, menurut Agus, pada hilirasi perunggasan akan ada nilai tambah dan penghematan devisa untuk impor parent stock. Sebab yang dijual tidak lagi semata daging ayam tapi sudah ada tepung dan bahan lainnya.
Untuk Lampung, sebut Agus, merupakan sentra produksi dan harus dilakukan hilirisasi perunggasan. DOC yang masuk ke Lampung 9-11 juta/bulan sehingga jika dikalikan 2 kali baru 20 juta sementara kapasitas kandang yang ada di Lampung sudah 26 juta ekor sehingga iddle kandang 5-6 jutaekor.
“Kenapa? Karena Lampung sudah surplus 26 juta. Artinya setiap bulan 3 juta kilo ayam yang harus dikeluarkan. Sayang keluarnya masih dalam bentuk hidup. Ini yang tidak efisien dan untuk mengefisienkannya butuh hilirisasi,” jelasnya.
Ditambahkannya, RPA yang bakal dibangun baru menyerap 600 ribu ekor/bulan, sementara panennya hampir 11 juta ekor/bulan atau 11 ribu ekor/hari. Untuk itu butuh RPA yang lebih banyak supaya ayam ini tidak mubazir. Jika ayam dari Lampung dijual ke Jakarta selisihnya Rp3.500-Rp4.000/kg. “Jadi jika menjual ayam dalam bentuk karkas ke Jakarta maka kita akan hemat banyak,” tuturnya.
Terpilih Kembali
Muswil X yang digelar di Wisma Unila, Bandarlampung beragendakan, laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2021-2026; perumusan dan masukan strategis untuk pemerintah; perumusan program kerja ISPI Wilayah Lampung dan pemilihan kepengurusan PW ISPI Lampung periode 2026-2031.
Untuk agenda pemilihan pengurus periode 2026-2031, Aris Susanto, Ketua PW ISPI Lampung periode 2021-2026 terpilih kembali. Dalam sambutannya Aris mengucapkan terima kasih atas kepercayaan anggota kepadanya untuk memimpin ISPI lima tahun berikutnya. Untuk kelancaran pelaksanaan program kerja yang sudah disampaikan para peserta dan dirumuskan pimpinan Muswil, Aris minta dukungan segenap anggota dan semua pemangku kepentingan.
Mengenai susunan dan personalia pengurus, menurut Aris, masih dimatangkan dan dalam waktu dekat akan diumumkan untuk selanjutnya dijadwalkan acara pelantikannya.datuk/lampung




