Tangerang Selatan (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kesehatan saluran cerna pada unggas merupakan pilar utama dalam mendukung produktivitas peternakan. Adapun melalui pendekatan Intestinal Integrity, optimalisasi saluran cerna dapat meningkatkan efisiensi dan performa unggas secara menyeluruh. Selain itu, saluran cerna unggas yang sehat dapat menekan kerugian akibat penyakit seperti koksidiosis yang mampu merusak organ pencernaan.
Sebagai pemimpin dalam solusi Intestinal Integrity, PT Elanco Animal Health Indonesia (Elanco) berkomitmen dalam menghadirkan inovasi berbasis sains, serta berbagi pengetahuan melalui seminar The Intestinal Integrity Master Class 2026, dengan topik “Optimizing Feed and Performance through Managing Coccidiosis and Gut Health in Tropical Climate”. Dalam forum ini, Elanco bekerja sama dengan PT SHS International sebagai channel partner terpercaya mereka, di mana kegiatan ini berlangsung pada Selasa (19/5) di Hotel Tentrem Jakarta yang dihadiri sebanyak 100 orang yang merupakan integrator hingga dari feedmiller.

Dalam sambutannya, Senior Strategic Account Manager, Yuliana Husni, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para peserta dan narasumber yang telah hadir pada acara ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada PT SHS International, di mana kerja sama antara Elanco dengan SHS sudah berjalan selama lebih dari 40 tahun, dan ternyata per tahun ini sudah menginjak 50 tahun.
“Industri kita ini cukup dinamis, di mana saya sudah bergerak di industri ini hampir menginjak 20 tahun. Jadi dari awal saya bergabung di industri ini cukup dinamis, dan tantangannya juga cukup luar biasa, sehingga kita membawa beberapa speaker yang datang ke Indonesia diharapkan bisa memberikan ruang, waktu dan perspektif yang berbeda. Harapannya apa yang para speaker bisa memberikan ilmu dan gambaran, sehingga memberikan manfaat untuk industri kita, terutama yang ada di Indonesia,” harap Yuliana.
Sementara itu, Product Manager Feed Additive PT SHS International, Antonius Agung Wiyono, dalam sambutannya menekankan bahwa Intestinal Integrity merujuk pada kondisi kesehatan, keutuhan dan berjalannya fungsi saluran cerna secara optimal. Hal ini merupakan bagian yang sangat penting untuk memastikan penyerapan nutrisi berjalan maksimal, sekaligus mencegah masuknya berbagai macam bakteri, toksin, atau zat-zat berbahaya lainnya melalui saluran pencernaan.
Menurutnya, Intestinal Integrity pada unggas dari waktu ke waktu selalu menjadi topik menarik untuk dikaji dan dianalisa secara saksama mengingat saluran pencernaan pada unggas produksi adalah salah satu mesin utama yang akan menentukan, apakah usaha peternakan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal. “Para pengusaha perunggasan selalu berharap bahwa Intestinal Integrity di unggas dipelihara dalam kondisi prima, sehingga dapat memberikan keuntungan yang maksimal di usahanya. Namun kenyataannya, Intestinal Integrity merupakan bagian yang paling rentan mengalami masalah yang menyebabkan fungsi saluran pencernaan terganggu, sehingga berdampak kurang baik pada capaian keuntungan yang diharapkan,” tuturnya.

Skor Intestinal Integrity
Memasuki acara utama, Senior Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Supriyono Dwi Atmojo, menerangkan tren data sharing skor Intestinal Integrity (I2) pada 2022-2026. Ia membuka pemaparannya dengan menjelaskan tentang HTSi, yakni sebuah platform manajemen data yang dapat membantu meningkatkan performa dan profitabilitas dengan pengambilan keputusan yang dipandu oleh data.
“HTSi mengolah dan menghitung data untuk menghasilkan skor indeks kesehatan usus (I2), skor indeks kesehatan pernapasan (respiratory index/RI), serta laporan perbandingan. Contohnya seperti penurunan 10 poin dari indeks I2 (0-100) dari 100 menjadi 90, maka akan terkompensasi 0,013 g FCR (feed conversion ratio). Sedangkan penurunan skor dari 90 ke 80 berpotensi cost loss hingga Rp 200-300 per ekor. Target yang dicapai adalah HTSi bisa menganalisa, matching atau tidaknya data. Aplikasi ini juga bisa didapatkan di AppStore dan PlayStore,” kata dia.
Tantangan Kesehatan Pencernaan di Negara Tropis
Lebih lanjut, Poultry Health Consultant, Ricardo Hummes Rauber, mengantarkan materi terkait masalah utama kesehatan usus di negara beriklim panas dan tropis. Baginya, konsep kesehatan usus harus mencakup berfungsinya seluruh peran fisiologis organ dengan baik, yakni mikrobioma yang stabil, lapisan lendir yang baik, fungsi penghalang (barrier) yang optimal, respons imun yang memadai, serta pencernaan dan penyerapan nutrisi yang baik.
Ia menilai, patogen utama usus dalam praktik lapangan meliputi
beberapa bakteri dan toksinnya seperti Salmonella spp., Escherichia coli, dan Clostridium perfringens; beberapa virus seperti Newcastle Disease (ND), IBV, AIV, FAdV, reovirus, rotavirus, dan astrovirus; Eimeria spp.; serta mikotoksin dan jamur/kapang. Namun, tantangannya bukan terkait penyakit klinis yang disebabkan oleh patogen tersebut, melainkan perubahan subklinis yang menyebabkan penurunan performa secara marginal,” Ricardo menggaris bawahi.
Disbiosis pada Unggas
Beralih pada narasumber berikutnya, Full Professor at the Department of Pathology, Pharmacology and Zoological Medicine of the Faculty of Veterinary Medicine at Ghent University, Prof Filip Van Immerseel, menitikberatkan pembahasannya pada topik disbiosis pada unggas yang berhubungan dengan koksidiosis dan necrotic enteritis (NE). Mikrobioma sangat banyak terdapat di saluran usus. Mikroorganisme ini memiliki berbagai fungsi dan juga memengaruhi kesehatan hewan dalam proses pencernaan nutrisi yang kompleks. Komponen pakan juga sangat penting untuk kesehatan usus hewan.
Meskipun antibiotik digunakan untuk mengendalikan patogen, tambahnya, antibiotik juga dapat memengaruhi komposisi mikrobiota dan bakteri di dalam usus, serta menghasilkan efek samping yang merugikan dari bakteri yang dipengaruhi tersebut. “Komposisi mikrobioma secara umum berubah seiring dengan usia dan spesies, misalnya pada broiler (ayam pedaging) dari usia berbeda, seperti hari ke-22 hingga hari ke-29. Komposisi mikrobiota juga berbeda tergantung lokasi dalam usus, tetapi secara umum menjadi lebih stabil seiring bertambahnya usia. Pada usia sekitar tiga minggu, komposisinya mulai mencapai kestabilan dalam proses pencernaan,” jelas Filip.
Menurut Prof. Filip, jumlah bakteri meningkat selama perkembangan ayam. Ini menunjukkan bahwa jenis dan jumlah bakteri berubah seiring waktu. Pada awalnya setelah menetas, usus hewan didominasi oleh bakteri aerob, yaitu bakteri yang berasal dari lingkungan. Karena hewan menetas, mikrobiota usus mulai terbentuk dari lingkungan luar dan berkembang secara bertahap
“Disbiosis sendiri merupakan ketidakseimbangan mikrobiota usus yang memengaruhi interaksi dengan inang (host). Contohnya, berkurangnya kelompok mikroba tertentu, hilangnya keragaman mikroba, meningkatnya bakteri patogen, atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Pola mikrobiota serta hubungannya dengan penyakit dan performa, sebagian besar diperoleh dari uji infeksi atau model tantangan (challenge models). Data lapangan sangat terbatas karena kesulitan dalam pengambilan sampel, banyaknya faktor perancu (confounding factors) yang beragam, serta penggunaan antimikroba,” tandasnya.
Penggunaan Ionofor
Pada sesi terakhir, Senior Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, Agus Prastowo, menjabarkan bahwa lession score pasti menghasilkan permasalahan, yaitu body weight ayam akan berkurang kalau hanya menggunakan vaksin koksidiosis saja. Ekspektasinya adalah peternak bisa menggunakan vaksin koksidiosis tetapi berat badan ayam sama dengan ionofor, tetapi tidak bisa. Berikutnya, jika tidak mau ada residu antibiotik termasuk ionofor, residunya tidak berbahaya.
“Berdasarkan data yang kami himpun, ada perbedaan 95 g berat badan. Itulah yang menyebabkan akhirnya orang berpikir, apakah waktunya saya pindah ke vaksin, dan belum lagi permasalahan harga vaksinnya berapa. Belum lagi deplesi berat badan. Proporsi akhirnya, ionofor adalah tulang punggung kontrol koksidiosis, di mana ionofor ini bukan bagian dari antibiotik yang bisa digunakan pada manusia,” tutup Agus.bella




