Jatinangor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Membangun usaha peternakan sapi potong yang produktif tidak cukup hanya dengan memiliki ternak. Kualitas bakalan, ketersediaan pakan, kesehatan hewan, hingga kemampuan peternak dalam mengelola usaha menjadi mata rantai yang saling menentukan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Akademi Sapi untuk Rakyat (Aksara) Sesi III yang digelar Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad), Sabtu (8/8/2026), di Student Center Fapet Unpad.
Sebanyak 156 peternak dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Jawa Tengah hadir dalam kegiatan tersebut. Selain mendapatkan penguatan pengetahuan teknis, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk membangun jejaring dengan sesama peternak sapi potong dari berbagai daerah.
Aksara Sesi III menghadirkan narasumber dari beragam latar belakang untuk memberikan perspektif yang lebih utuh mengenai usaha peternakan. Dari kalangan praktisi hadir Ir. Fapiq, drh. Saga, dan H. Baihaqi Cikartani. Perspektif akademik disampaikan Dr. Dudi dari Fapet Unpad, ahli pemuliaan dan pembibitan ternak tropis. Sementara itu, aspek kebijakan dan kesehatan hewan disampaikan Drh. Suprijanto, Kabid Kesehatan Hewan DKPP Jawa Barat.
Bakalan Berkualitas Dimulai dari Pakan Baik
Membuka kegiatan, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet Unpad, Prof. Heni Indrajani, menekankan pentingnya keterkaitan antara kualitas bakalan dan pakan dalam mendukung produktivitas ternak.
Menurutnya, upaya memperoleh bakalan yang baik perlu diikuti dengan dukungan kebutuhan pakan yang baik pula. Tanpa dukungan pakan yang sesuai, potensi genetik ternak tidak akan dapat diekspresikan secara optimal.
“Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas peternakan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pembibitan, pakan, dan pengelolaan ternak tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus menjadi satu kesatuan dalam sistem produksi,” jelasnya
Hal senada disampaikan Dr. Dudi. Dalam pembahasan mengenai pemuliaan dan pembibitan ternak tropis, ia menekankan bahwa arah pemuliaan seharusnya tidak hanya ditentukan dari sisi teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan peternak dan pasar.
Dengan pendekatan tersebut, program pemuliaan diharapkan mampu menghasilkan ternak yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan memiliki nilai ekonomi bagi peternak.
Peluang Pengembangan Usaha melalui Dairy Beef
Perspektif praktis dalam pengembangan usaha peternakan turut disampaikan H. Baihaqi dari Cikartani. Ia memperkenalkan Dairy Beef Program yang telah diterapkan di kelompoknya.
Program tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana potensi ternak dapat dikembangkan untuk menghasilkan nilai tambah. Pengalaman di tingkat kelompok peternak menjadi pembelajaran penting bagi peserta Aksara untuk melihat peluang pengembangan usaha yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Pertukaran pengalaman antara akademisi dan praktisi menjadi salah satu kekuatan Aksara. Pengetahuan yang diperoleh peternak tidak hanya berasal dari teori, tetapi juga dari pengalaman nyata pelaku usaha yang telah menjalankan praktik peternakan di lapangan.
Biosecurity Bukan Lagi Pilihan
Di tengah peluang pengembangan usaha, kesehatan ternak tetap menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Drh. Saga dan Drh. Suprijanto mengingatkan bahwa ancaman penyakit hewan terus mengintai usaha peternakan.
Karena itu, penerapan SOP biosecurity menjadi sebuah keharusan. Biosecurity bukan sekadar tindakan ketika penyakit telah muncul, melainkan bagian dari manajemen peternakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit.
Bagi peternak, penerapan prosedur yang konsisten menjadi investasi penting untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus melindungi keberlanjutan usaha.
Peternakan sebagai “Matematika Biologis” Di balik seluruh materi yang disampaikan, terdapat satu benang merah yang ditekankan Prof. Mansyur selaku penanggung jawab kegiatan, yaitu pentingnya pengelolaan peternakan secara terukur.
Menurutnya, kegiatan peternakan merupakan sebuah “matematika biologis” yang dapat diperhitungkan. Karena itu, berbagai aspek usaha peternakan—mulai dari perencanaan, operasional, mitigasi risiko, hingga evaluasi—akan lebih mudah dikendalikan apabila disusun dalam standar yang jelas.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa peternakan rakyat perlu dikelola bukan hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga melalui perencanaan dan pencatatan yang baik. Dengan pendekatan yang lebih terukur, peternak dapat mengambil keputusan berdasarkan data dan melakukan evaluasi terhadap hasil usahanya.
Membangun Pengetahuan, Memperkuat Jejaring
Lebih dari sekadar forum pembelajaran, Aksara Sesi III menjadi ruang pertemuan bagi peternak dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman dan membangun jejaring.
Pertemuan antara 156 peternak, akademisi, praktisi, pelaku usaha, dan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan peternakan rakyat membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Melalui penguatan pengetahuan mengenai pembibitan, pakan, dan kesehatan ternak, serta terbentuknya jejaring antarpelaku usaha, Aksara diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk mendorong peternakan rakyat yang semakin produktif, sehat, terukur, dan berkelanjutan.
Bagi peternak, pengetahuan menjadi modal untuk mengambil keputusan. Bagi jejaring peternakan, kolaborasi menjadi kekuatan. Dan bagi usaha peternakan rakyat, keduanya menjadi fondasi untuk tumbuh lebih kuat.






