Mulai mengembangkan sistem manajemen yang lebih baik dan memperbaiki bentuk/konstruksi kandang agar dapat bertahan serta tumbuh
Menimba ilmu di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Malang, Jawa Timur pada 2012 lalu, tidak menghalangi Azis Yasir Naufal berkarya sebagai peternak layer (ayam petelur) di Blitar, Jawa Timur. Anak pertama dari pasangan Nasir dan Endang Sri Wahyuni ini bertekad untuk melanjutkan usaha kedua orang tuanya sebagai peternak layer.
Memiliki kecintaan terhadap hewan, pria yang karib disapa Naufal ini mengaku, tidak masalah jika harus melepaskan pekerjaan sebagai engineer di salah satu perusahaan demi beternak layer. Selain layer, Naufal juga memelihara sapi pedaging dan juga domba, yang mana hasilnya nanti dijual saat momen Idul adha (kuban).
Pria yang lulus dari FT UB pada 2016 lalu ini mengisahkan awal mula ia bisa terjun sebagai peternak. “Pada 2020 saya memutuskan untuk resign, dan itu bersamaan dengan adanya wabah Covid-19. Kebetulan juga kondisi peternakan orang tua sedang jatuh, sehingga saya memutuskan untuk resign dan membantu orang tua mencari solusi agar usaha peternakannya dapat bertahan,” kenang dia pada redaksi TROBOS Livestock.
Sebab orang tua yang telah sepuh dan usaha peternakannya merugi, Naufal pun mencoba untuk memperbaikinya. Jika orang tuanya dulu masih menggunakan sistem manajemen yang konvensional, setelah terjun langsung dia mencari solusi dalam meminimalisir kerugian. Kemudian, Naufal pun mulai mengembangkan sistem manajemen yang lebih baik dan memperbaiki bentuk/konstruksi kandang, sehingga ilmu teknik yang didapatkan di perkuliahan tidak sia-sia.
“Saya sudah membuat tempat pakan otomatis yang membantu para pekerja supaya lebih efisien. Sekarang, cukup sekali saja memberi pakan dan semua sudah kebagian. Sementara kalau alatnya beli sendiri, ada masalah yang ditemui di beberapa kandang milik teman yang tidak sesuai dengan kondisi kandangnya,” jelasnya.
Menurut dia, peternak perlu mendesain atau membuat kandang sendiri. Setelah itu, tukang akan mengikuti desain yang diinginkan oleh peternak, sehingga alatnya benar-benar bisa diaplikasikan secara mkasimal dan efisien di kandang. Usai Naufal memperbaiki aspek manajemen dan kontruksi kandang dari peternakan orang tuanya, sekarang usahanya sudah mulai pulih kembali setelah mengalami kerugian di masa Covid-19.
Ia pun berseloroh bahwa masuk ke dunia peternakan itu dimulai dari “kehancuran”. Padahal sebelumnya memiliki pendapatan yang konsisten setiap bulannya sebagai seorang engineer. “Setelah saya memutuskan resign, pendapatan minus terus dan sempat berpikir untuk kembali “ikut orang”. Tetapi, karena berkeinginan membantu usaha yang dibentuk orang tua sejak 1990 ini tetap bertahan, akhirnya saya mengesampingkan keinginan tersebut,” Naufal mengaku.
Ke depannya, ia berharap usaha peternakan ini bisa dilanjutkan oleh adik-adiknya. Menurutnya, daripada yang sudah dibangun ini rusak, lebih baik dibesarkan lagi dan dipertahankan. Syukurnya, sekarang bisa kembali pulih dan berencana untuk diperbesar.
Komoditas Ternak Penopang
Naufal menuturkan komoditas ternak lain yang dibudidayakan, yaitu sapi yang baru dirintisnya sejak 2017. Saat itu ia baru setahun lulus kuliah, dan langsung berencana untuk beternak sapi pedaging. Pada 2017 dibangun kandang sapi yang pertama.
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 310/ Juli 2025




