Tangerang Selatan (TROBOSLIVESTOCK.COM). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam diplomasi sains internasional melalui keikutsertaan pada Food and Agriculture Organization (FAO) Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP) Partner Meeting perdana di Beijing, Tiongkok. Pertemuan yang berlangsung pada 2-3 Desember 2025 ini merupakan bagian dari rangkaian agenda FAO LEAP pada 30 November hingga 5 Desember 2025.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan global, mulai dari FAO, Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS), perguruan tinggi, hingga pelaku industri peternakan dan pangan. Forum ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring internasional dalam mendorong sistem produksi peternakan yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PR SIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menyatakan bahwa transformasi industri peternakan rendah karbon membutuhkan kolaborasi lintas negara berbasis sains dan standar global. Ia menjelaskan, kerja sama dengan FAO LEAP dan CAAS diarahkan pada penguatan metodologi Life Cycle Assessment (LCA), pengembangan sistem monitoring, reporting, and verification (MRV), peningkatan efisiensi rantai pasok, serta hilirisasi produk peternakan berkelanjutan.
Menurut Nugroho, orientasi pembangunan industri peternakan ke depan tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. “Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa transformasi industri peternakan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penurunan emisi, efisiensi sumber daya, dan peningkatan daya saing industri nasional,” ujarnya.
FAO LEAP Partner Meeting ini dihadiri lebih dari 50 pakar dari Tiongkok dan berbagai negara mitra. Para peserta membahas penguatan riset sistem produksi berkelanjutan serta penerapan LCA pada sektor peternakan dan industri turunannya.
Dalam sesi diskusi, terungkap bahwa kemitraan FAO LEAP di Tiongkok berkembang sangat cepat. Dalam kurun 18 bulan terakhir, jumlah mitra meningkat dari satu pada 2023 menjadi sembilan pada 2025, yang tercatat sebagai ekspansi tercepat dalam sejarah kemitraan FAO LEAP di satu negara.
Chair of FAO LEAP yang juga Direktur Eksekutif International Feed Industry Federation, Alexandra de Athayde, menegaskan bahwa kolaborasi terbuka berbasis sains merupakan kekuatan utama FAO LEAP. Ia menilai pendekatan multipemangku kepentingan menjadi kunci dalam mendorong transformasi sektor peternakan secara menyeluruh.
Alexandra menjelaskan bahwa perubahan di sektor peternakan harus mencakup seluruh rantai nilai. Transformasi tersebut meliputi aspek pakan, produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi, dengan tetap mempertimbangkan dampak lingkungan serta ketahanan sistem pangan global.
Mewakili Indonesia, Nugroho memaparkan perkembangan sistem industri pertanian dan peternakan nasional dengan pendekatan LCA, ekonomi sirkular, dan bioekonomi. Ia menekankan bahwa pedoman FAO LEAP memiliki posisi strategis sebagai dasar ilmiah dalam perumusan kebijakan serta penguatan sistem produksi peternakan berkelanjutan di Tanah Air.
Sementara itu, Manajer Kemitraan FAO LEAP, Xiangyu Song, menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting bagi penguatan komunitas FAO LEAP di Tiongkok. Ia juga mengumumkan dimulainya uji coba kolaboratif dua pedoman utama FAO LEAP, yakni Ecosystem Services dan Circular Bioeconomy Approaches.
Xiangyu menjelaskan bahwa uji coba tersebut akan melibatkan sejumlah negara dari berbagai kawasan. “Uji coba bersama ini akan melibatkan Tiongkok, Brasil, Indonesia, Uruguay, serta negara-negara Asia Tengah untuk mempercepat adopsi dan lokalisasi pedoman FAO LEAP di tingkat nasional,” katanya.
Selain forum diskusi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan lapangan ke pusat inovasi dan kawasan industri peternakan di Tiongkok. Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung pengembangan precision livestock farming berbasis kecerdasan buatan serta penerapan digitalisasi rantai pasok.
Kunjungan lapangan ini dinilai memperkaya pertukaran pengetahuan terapan antara peneliti, pelaku industri, dan pembuat kebijakan. Melalui kegiatan tersebut, para peserta memperoleh gambaran nyata mengenai penerapan inovasi dalam sistem produksi peternakan modern.
Pertemuan ini juga menghasilkan sejumlah luaran konkret yang bersifat strategis. Beberapa di antaranya adalah rencana proyek road-testing lintas negara, pengumuman resmi perluasan mitra FAO LEAP di Tiongkok, usulan pembentukan Global LEAP Knowledge Dissemination Hub, serta strategi penerjemahan dan lokalisasi pedoman FAO LEAP ke dalam bahasa Mandarin, termasuk pengembangan platform pembelajaran daring.
Melalui partisipasi aktif dalam FAO LEAP Partner Meeting, BRIN semakin menegaskan perannya sebagai bagian penting dari jejaring kolaborasi ilmiah global. Upaya ini sejalan dengan mandat BRIN dalam mendukung pembangunan rendah emisi, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui sains, inovasi, dan kemitraan multipihak.shara




