Semarang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Ayam lokal atau ayam kampung selama ini identik dengan ternak rumahan, namun riset terbaru menunjukkan bahwa unggas tradisional tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri modern skala komersial. Hal ini disampaikan Jaime Cabarles, Dean of College Agriculture, Resources, and Environmental Science dari Central Philippine University (CPU), dalam kuliah tamu bertema ‘Recent Advancement in Commercial Production of Native Chicken in Tropical Countries’, pada Senin (17/11).
Dalam pemaparannya, Jaime mengatakan kebutuhan pasar terhadap ayam lokal di negara tropis semakin meningkat seiring perubahan selera konsumen dan kesadaran terhadap produk hewani yang dianggap lebih natural. “Permintaan meningkat setiap tahun, tetapi pasokan masih berasal dari peternakan kecil. Gap ini menunjukkan peluang industri,” ujarnya.
Jaime menjelaskan riset pengembangan ayam lokal di CPU telah berlangsung sejak 2002. Pada 2010, kebutuhan pasar di Filipina tercatat mencapai 180 juta ekor ayam lokal per tahun, sementara produksi belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Ia menilai kendala utama terdapat pada teknologi budidaya, manajemen pakan, dan sistem perkandangan yang masih tradisional.

Menurutnya, ayam lokal sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan seperti daya tahan tubuh lebih kuat, kemampuan beradaptasi pada suhu tinggi, serta cita rasa daging yang lebih gurih. “Kesalahan terbesar adalah mencoba menjadikan ayam lokal seperti broiler (ayam pedaging). Keduanya berbeda, dan justru perbedaan itulah kekuatannya,” jelasnya.
Meski demikian, produktivitas ayam lokal masih tertinggal jauh. Dalam sistem tradisional, seekor induk hanya menghasilkan sekitar 60 telur per tahun, dan tingkat hidup ayam muda hanya mencapai 40 % hingga usia layak jual. CPU kemudian mengembangkan teknologi produksi untuk meningkatkan efisiensi peternakan.
Salah satu inovasi yang ia paparkan adalah penggunaan pencahayaan LED saat malam untuk meningkatkan nafsu makan ayam lokal. Hasil riset menunjukkan pola makan unggas lokal lebih aktif pada malam hari karena suhu tubuh lebih stabil. Dengan metode tersebut, waktu panen dapat dipangkas dari lima bulan menjadi 75-90 hari.
Selain manajemen cahaya, CPU juga merancang kandang sistem controlled microclimate berbasis struktur greenhouse dengan UV net, sirkulasi udara terukur, serta desain berbentuk tier housing untuk efisiensi ruang. Teknologi tersebut disebut mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ayam hingga 95 %.
Jaime juga memaparkan riset pemanfaatan phytomedicine sebagai alternatif antibiotik. Salah satu formulasi yang dikembangkan adalah lemongrass emulsified concentrate, yang hanya membutuhkan dua hingga tiga tetes per kilogram pakan. “Konsumen ingin produk natural, tetapi peternak butuh perlindungan. Phytomedicine menjembatani dua kebutuhan itu,” katanya.
Untuk menekan biaya produksi pakan yang mencapai 60-70 % total biaya, CPU menciptakan premix nutrisi mikro yang bisa dicampur dengan bahan pakan lokal tanpa mengurangi kebutuhan gizi ayam. Formulasi ini memungkinkan konsumsi pakan hanya 75-80 gram per ekor per hari.
CPU kini melanjutkan penelitian ke tahap marker-assisted selection guna menghasilkan strain ayam lokal yang lebih tahan penyakit, termasuk avian influenza. Ia mengatakan, riset ini bukan untuk menyaingi broiler, tetapi menciptakan segmen baru berbasis ayam lokal dengan nilai tambah fungsional.

Menurut Jaime, pengembangan ayam lokal tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga ekosistem pasar. CPU bahkan membentuk pusat bisnis teknologi untuk memproduksi dan memasarkan pakan, obat herbal, sampai bibit unggul berbasis hasil riset. “Teknologi bukan solusi jika berhenti di laboratorium. Ia baru bermanfaat ketika digunakan peternak dan diterima pasar,” tegasnya.
Ia menilai negara-negara tropis memiliki karakteristik produksi dan tantangan serupa sehingga kerja sama penelitian sangat diperlukan. Filipina dan Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar membangun rantai pasok ayam lokal modern.
Sesi diakhiri dengan diskusi mengenai potensi penerapan teknologi CPU di Indonesia. Jaime menyambut antusias peluang tersebut dan menyatakan siap berkolaborasi dalam pengembangan riset bersama. “Native chicken bukan masa lalu, tetapi masa depan. Tantangan kita adalah mengubahnya dari ternak tradisional menjadi industri modern yang tetap menjaga identitas lokalnya,” ujarnya menutup sesi.shara




