Cibubur (TROBOSLIVESTOCK.COM). Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) kembali menegaskan perannya dalam mendorong kolaborasi lintas sektor di bidang pangan melalui penyelenggaraan Indolivestock Services Award 2026. Ajang ini digagas sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai pihak yang berkontribusi dalam kegiatan sosial pangan, sekaligus memperkuat upaya peningkatan ketahanan pangan nasional.
Penghargaan tersebut akan digelar pada 16 Juni 2026 dalam rangkaian Indo Livestock Expo & Forum di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta. Kegiatan ini diproyeksikan melibatkan peserta dari lebih dari 30 negara serta menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari korporasi hingga komunitas masyarakat sipil.
Sekretaris YAPPI, Bambang Suharno, memperkenalkan peran lembaganya sekaligus menjelaskan arah kegiatan tahun ini yang mengalami pergeseran fokus. Ia mengungkapkan bahwa YAPPI kini tidak hanya berkutat pada sektor peternakan, tetapi juga memperluas perhatian ke bidang pangan secara lebih menyeluruh. “Tema yang kami angkat adalah Food for Better Lives, sebagai bentuk apresiasi kepada korporasi, lembaga, maupun individu yang berkontribusi dalam kegiatan sosial pangan,” ujarnya melalui press conference pada Kamis (30/4) di Cibubur.
Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo, menjelaskan bahwa perubahan nama yayasan dari sebelumnya berfokus pada peternakan menjadi pangan mencerminkan arah baru organisasi. Perubahan tersebut dilakukan sejak akhir tahun lalu sebagai respons terhadap dinamika isu pangan nasional yang semakin kompleks. Ia menilai bahwa pendekatan berbasis pangan memungkinkan organisasi menjangkau spektrum yang lebih luas, termasuk inovasi dan pengembangan agroindustri.

Dalam kesempatan yang sama, Desianto juga menekankan bahwa pihaknya kini lebih berhati-hati dalam mengangkat isu yang berpotensi menimbulkan polemik publik. Ia menyebut, fokus kegiatan diarahkan pada inovasi pangan yang nyata.
Sementara itu, Indolivestock Services Award sendiri dilatarbelakangi oleh masih besarnya tantangan pangan dan gizi di Indonesia, termasuk persoalan stunting dan kerentanan akses pangan. Berbagai program pemerintah memang terus digulirkan, namun peran sektor non-pemerintah dinilai tidak kalah penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Inisiatif seperti bantuan sembako, bazar pangan murah, hingga program makan gratis menjadi bukti nyata kontribusi tersebut dalam memperkuat kesejahteraan dan solidaritas sosial.
Melalui penghargaan ini, YAPPI bersama PT Napindo Media Ashatama berupaya memberikan pengakuan sekaligus mendorong keberlanjutan program sosial pangan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sinergi antara dunia usaha, komunitas, dan individu agar mampu menciptakan dampak yang lebih luas. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya kepedulian sosial dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Ruang lingkup program yang dinilai mencakup berbagai bentuk kegiatan sosial pangan yang berkembang di masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi penyaluran bantuan sembako atau bahan pangan, penyelenggaraan bazar maupun pasar pangan murah, hingga program makan gratis yang dilakukan secara mandiri oleh berbagai pihak. Selain itu, dapur umum dan bantuan darurat pangan dalam situasi krisis juga menjadi bagian penting dari penilaian, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Tidak hanya berhenti pada identifikasi program, proses seleksi dilakukan secara berlapis untuk memastikan kualitas kontribusi yang diapresiasi. Tahapan dimulai dari penjaringan dan pendaftaran kandidat, dilanjutkan dengan seleksi administrasi serta verifikasi program yang diajukan. Setelah itu, penilaian dilakukan oleh tim juri independen sebelum akhirnya ditetapkan dan diumumkan penerima penghargaan yang dinilai paling layak.
Penilaian dalam ajang ini menggunakan sejumlah kriteria yang dirancang untuk mengukur dampak dan keberlanjutan program secara komprehensif. Aspek pertama adalah komitmen dan konsistensi program dengan bobot 25 %, yang melihat keberlanjutan kegiatan serta kejelasan tujuan dan sasaran. Selanjutnya, dampak sosial dan kontribusi terhadap ketahanan pangan juga memiliki bobot 25 %, dengan penekanan pada jumlah penerima manfaat dan peningkatan akses serta kualitas pangan.
Aspek berikutnya adalah keberlanjutan dan tata kelola program dengan bobot 20 %, yang menilai model pendanaan, transparansi, serta akuntabilitas pelaksanaan kegiatan. Juga kolaborasi dan pelibatan masyarakat mendapat bobot 15 %, mencakup keterlibatan berbagai pemangku kepentingan serta kekuatan kemitraan yang dibangun. Terakhir, inovasi, potensi replikasi, dan nilai inspiratif program juga menjadi pertimbangan penting dengan bobot 15 %, terutama dalam melihat sejauh mana program dapat dikembangkan dan menginspirasi inisiatif serupa di berbagai wilayah.
Dengan rangkaian mekanisme dan kriteria tersebut, Indolivestock Services Award 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga ruang pembelajaran bersama. YAPPI menilai bahwa penguatan kolaborasi dan penyebarluasan praktik baik akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan.shara




