Trobos banner 2026.May

Kambing Boerka, Andalan Baru Subsektor Peternakan Indonesia

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kambing Boerka, salah satu kambing pedaging hasil pengembangan genetik di Indonesia, yang berhasil dikembangkan oleh Loka Perakitan dan Pengujian Ruminansia Kecil (BRMP) di Sei Putih, Deli Serdang, Sumatra Utara sejak 1998. Perakitan Kambing Boerka merupakan hasil persialangan dari kambing Boer asal Afrika Selatan dan kambing Kacang lokal asal Indonesia.

Muhammad Syawal selaku plt Kepala BRMP Ruminansia Kecil menyampaikan bahwa tujuan dari pengembangan kabing Boerka ini untuk menciptakan kambing dengan kualitas daging yang tinggi, serta adaptif dengan kondisi iklim tropis di Indonesia. Setelah dua dekade, sejak pertama kali dikembangkan, kambing Boerka resmi memiliki rumpun baru pada 2020 dan telah terdaftar Standar Nasional Indonesia (SNI) 08/KPTS/PK.040/M/1/2020.

Syawal mengatakan, tingkat pertumbuhan anak kambing Boerka masa lepas sapih memiliki bobot 12 kg dengan pertambahan bobot harian 70 – 98 gram per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kambing Kacang yang hanya memiliki bobot 8 kg per ekor saat usia lepas sapih. Pertambahan bobot badan kambing Boerka didapatkan dari sifat unggul kambing Boer yang  sebagai pedaging unggul. Sedangkan kemampuan adaptasi yang baik di suhu 28 – 35o C dengan tetap mempertahankan performanya, didapatkan dari genetik kambing Kacang. Melalui persilangan dua jenis kambing tersebut, menghasilkan kambing Boerka yang mewarisi keunggulan keduanya.

“Tingkat pertumbuhan anak kambing boerka masa lepas sapih juga lebih tinggi dibandingkan anak kambing Kacang. Umur 3-6 bulan saja, Boerka 70-98 gram. Selain bobot badan, kambing Boerka yang kita sebut sebagai kambing sultan juga cukup adaptif dengan lingkungan kita yang tropis.makannya kita hasilkan bibit yang adaptif dari kacang. Jadi di suhu yang tinggi pun, performa boerka tidak turun (28 – 35OC),” terang Syawal pada webinar yang digelar oleh BRMP Kementerian Pertanian pada Jumat (3/7).

Selanjutnya, keunggulan dari kambing Boerka ini juga ditinjau dari tingkat kesuburannya yang rata-rata dewasa kelamin pada usia 10 bulan atau minimal bobot 20 kg, kambing ini sudah bisa untuk dikawinkan. Sedangkan masa selang beranak kambing Boerka hampir sama seperti kambing Kacang yang berdurasi 287 hari, namun lebih singkat dibanding kambing Boer.

WhatsApp Image 2026 07 10 at 15.42.02 1

Kambing Boerka juga memiliki sifat mothernal abbility (sifat keindukan) yang baik, bila ditinjau dari kemampuan merawat anak, kemauan menyusui, sehingga asupan nutrisi sang anak tercukupi, “Keindukan unggul, produksi susu cukup bagus dan ini sangat penting. Kalau susunya kurang, pertumbuhan si anak akan sangat kurang. Dengan produksi susu yang bagus, asupan si anak jadi terpenuhi dengan baik , sehingga daya tahan anak cukup bagus,” Jelas Muhammad Syawal.

Selain memiliki kualitas genetik unggul, manajemen pakan kambing Boerka juga harus mendapatkan kualitas pakan yang unggul, sebagai upaya menjaga performa kambing Boerka. “Kalau Boerka ini memang unggul, kita harus pilih hijauan yang unggul juga.

Jika ingin berikan pakan tambahan agar hasilnya lebih optimal silakan saja, namun dalam standar jika tidak banyak biaya, tanam saja pakan hijauan yang unggul,”

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam manajemen pemeliharaan kambing Boerka adalah proses reproduksi. Siklus birahi pada kambing Boerka yang terjadi setiap 21 hari sekali dengan durasi hanya 24 -48 jam, diharapkan tidak terlewat, begitu saja tanpa adanya proses perkawinan. Selain itu, kambing Boerka memiliki rasio ideal dengan satu (1) ekor pejantan dengan 20 ekor betina. Angka ini terkesan terlalu banyak jika melihat praktek di lapangan yang hanya menggunakan 10 – 15 ekor betina per satu ekor jantan. Namun Syawal menegaskan, secara kapasitas pejantan kambing Boerka yang unggul, jumlah 1:20 tersebut dinilai ideal.

Terakhir, yang perlu dilakukan peternak dalam manajemen pemeliharaan agar menghasilkan performa ternak yang optimal adalah pencatatan atau recording masing-masing ternak, agar memudahkan pengawasan dari berbagai aspek seperti data kelahiran, data perkawinan, data pertambahan bobot badan, riwayat kesehatan dan penyebab kematian, agar dapat dijadikan bahan evaluasi peternakan dalam menentukan strategi manajemen pemeliharaan, “ Pentingnya recording ini dengan pemberian tanda pada ternak agar peternak mengetahui dengan mudah ternak yang dimilikinya. Memudahkan pengontrolan, pencatatan perkawinan, pencatatan kelahiran, kita harus tau berat lahirnya berapa dan lahirnya kapan”, tutup Syawal.fara

 

Tag:

Bagikan:

Trending

dok by kementan
Komitmen Pemerintah Dukung Kesejahteraan Peternak
WhatsApp-Image-2026-07-14-at-11.14.30
Peti Koin Bermatra untuk Kelompok Ternak Kambing Jatim
WhatsApp-Image-2026-07-14-at-08.25.06-1
AKSARA Fapet Unpad Bahas Nutrisi dan Kesehatan Sapi Potong
dok by Kementan
 BBPTU-HPT Baturraden Terapkan Transparansi  
WhatsApp-Image-2026-07-10-at-15.42.02
Kambing Boerka, Andalan Baru Subsektor Peternakan Indonesia
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!