Magetan (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah terus memperkuat langkah penyerapan telur ayam ras guna menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat di tengah melimpahnya produksi telur, khususnya di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi antara Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Pemerintah Kabupaten Magetan agar harga telur di tingkat peternak tetap stabil.
Langkah penanganan surplus produksi itu dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan secara hybrid pada Jumat (8/5). Pertemuan tersebut melibatkan Kementan, Bapanas, asosiasi perunggasan, peternak, hingga pelaku usaha untuk menyusun strategi percepatan penyerapan dan distribusi telur.
Pemerintah menilai kondisi surplus produksi harus segera dikelola secara cepat dan terukur agar tidak menekan harga di tingkat peternak. Karena itu, berbagai langkah penguatan distribusi, peningkatan konsumsi, dan perluasan pasar terus didorong demi menjaga stabilitas subsektor perunggasan nasional.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah cepat untuk membantu penyerapan produksi telur peternak rakyat. Salah satu upaya yang dilakukan ialah menggerakkan pembelian telur oleh aparatur sipil negara (ASN) serta meningkatkan kampanye konsumsi telur kepada masyarakat.

“Pemerintah daerah akan memfasilitasi penyerapan telur melalui gerakan pembelian telur oleh ASN serta kampanye konsumsi telur kepada masyarakat. Ini menjadi langkah awal yang bisa segera dilakukan untuk membantu peternak,” ujar Nur Haryani.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Magetan juga memperkuat penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, dan berbagai program pemenuhan gizi masyarakat. Program-program tersebut diharapkan mampu memperluas serapan produksi telur sekaligus meningkatkan asupan protein hewani masyarakat.
Nur Haryani menjelaskan, penyerapan telur melalui Program MBG akan ditingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu. Kebijakan tersebut diharapkan mampu membantu menyerap lebih banyak produksi telur dari peternak rakyat.
“Penyerapan telur melalui Program MBG akan kami tingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu. Harapannya, produksi peternak bisa lebih banyak terserap,” katanya.
Pemerintah daerah juga memperkuat program konsumsi telur melalui berbagai kegiatan sosial dan kesehatan masyarakat. Di antaranya melalui kegiatan posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), program pencegahan stunting, serta program sosial lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus membantu menjaga harga telur di tingkat peternak.
Di sisi lain, pemerintah mulai menyalurkan bantuan jagung subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak Sabtu (9/5). Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya untuk kebutuhan pakan yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur.
Secara terpisah, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun, menegaskan pemerintah terus memperkuat hilirisasi dan perluasan pasar hasil peternakan. Langkah tersebut dilakukan agar produksi peternak rakyat dapat terserap lebih optimal.
“Pemerintah terus memperkuat hilirisasi, distribusi, dan perluasan pasar agar hasil produksi peternak dapat terserap lebih optimal. Fokus utama kami adalah menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Makmun.
Kementerian Pertanian juga meminta pemerintah daerah untuk ikut mengatur dan menertibkan pedagang maupun peternak yang menjual telur jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP). Pemerintah menilai perlu adanya pihak yang mengoordinasikan pengendalian harga di daerah agar harga telur tetap berada dalam rentang HAP sehingga peternak masih memperoleh keuntungan yang layak.
Menurut Kementan, stabilitas harga menjadi faktor penting untuk menjaga semangat peternak dalam meningkatkan produksi. Jika harga terus berada di bawah acuan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan usaha peternak rakyat.

Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi bersama pemerintah daerah, asosiasi perunggasan, kementerian dan lembaga terkait, serta pelaku usaha untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan baku pakan. Langkah kolaboratif tersebut dinilai penting agar sektor perunggasan nasional tetap tumbuh di tengah dinamika pasar.
Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, pemerintah memastikan negara hadir untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat. Pemerintah menegaskan komitmennya agar peternak tetap mampu berproduksi dan berkembang di tengah tekanan pasar dan fluktuasi harga.
Pemerintah optimistis penguatan penyerapan telur, distribusi antardaerah, pengendalian biaya produksi, serta peningkatan konsumsi protein hewani dapat menjaga stabilitas subsektor perunggasan nasional. Upaya tersebut juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.shara




